Memetik Dawai, Obat bagi Tubuh dan Jiwa

Musik bukan hanya untuk hiburan, bermain musik juga tidak harus menjadi musisi. Musik adalah obat bagi tubuh dan jiwa. Musik bermanfaat bagi fisik, emosi dan spiritual.  

 

Terakota.id – Jemari Ganser Lana cekatan memetik dawai – dawai Sasando. Alunan instrumentalia Tanah Airku disusul Indonesia Tanah Air Beta mengalun syahdu. Lirih, suara puluhan pelajar bergema. Larut menyanyikan kedua lagu dalam iringan instrumen Sasando.

Riuh tepuk tangan para pelajar menutup penampilan Ganser Lana, Sasandois asal NTT. Ganser bukan satu – satunya yang memainkan instrumen dawai sore itu. Sebelumnya, Gregorius Argo lebih dulu memainkan Sapek, alat musik khas Suku Dayak Kalimantan. Ada juga Syech Razie, memainkan gambus berirama khas musik padang pasir Timur Tengah.

Para seniman itu tak hanya unjukkebolehan memetik dawai. Mereka juga mengenalkan sampai menjelaskan fungsi alat musik tradisional. Rona wajah para pelajar berbinar, bergembira usai mengikuti workshop dawai di Gedung Kesenian Gajayana, Kota Malang, Jumat, 20 Oktober 2017.

Workshop ini merupakan rangkaian Festival Dawai Nusantara ketiga yang bertajuk “Merajut Kebhinekaan dengan Bebunyian Dawai Nusantara”.

Siswi kelas 7 SMP Negeri 17 Kota Malang Juniar Anugerah Heni mengaku puas mengikuti workshop. Mengenal serta menikmati alat musik tradisional. Dia terhanyut dalam irama dawai. Bisa menikmati pementasan tiga musisi, sekaligus mendapat ilmu tentang instrumen dawai.

“Saya bisa lebih tahu dan mengenal alat musik tradisional. Tadi juga dijelaskan, bermain musik juga menyehatkan,” kata Juniar yang juga mempelajari gamelan peking dalam seni karawitan.

Musisi sekaligus pemerhati music Heri Mulyono turut mengisi workshop. Dia menjelaskan, manfaat belajar musik terutama dawai. Apalagi jika mengenalkan musik kepada anak sejak dini, minimal sedari berusia empat tahun.

“Bermain dawai tidak harus menjadi musisi. Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh, seperti kesehatan kita,” kata Heri.

Alumni Akademi Musik Indonesia yang kini berubah menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini mencontohkan instrument gitar. Bermain gitar secara rutin satu jam per hari misalnya, jari jemari menyentuh senar termasuk refleksi kesehatan. Serta mampu meningkatkan daya konsentrasi seseorang.

Ilustrasi: Pementasan Dawai dalam Kegiatan Literasi Singosari 1. (Foto: Aris Hidayat/Terakota)

Saat seseorang bermain musik dengan memetik dawai, syaraf sensorik dan motorik bekerja bersama – sama. Heri melanjutkan, dalam dunia ilmiah memetik dawai bisa menjaga selubung mielin yang berdampak pada kemampuan tubuh menjaga keseimbangan tubuh dan syaraf.

“Di luar negeri, bermain dawai itu bisa menjadi medium untuk meningkatkan syaraf motorik dan konsentrasi kita. Maka disarankan bermain musik sejak usia empat tahun,” ujar Heri.

Musisi gambus Syech Razie salama tujuh tahun bermukim di Malaysia sependapat dengan Heri Mulyono. Pria asli Tongan, Klojen, Kota Malang ini menyebut instrumen dawai bisa digunakan untuk terapi pada penderita penyakit stroke sampai hilang ingatan.

“Ada rumah sakit di Singapura yang sudah menerapkan terapi musik ini, saya pernah membantunya,” ujar Syech Razie.

Memetik dawai lebih dari sekedar hiburan semata atau identitas kesukuan mengacu darimana alat musik tradisional itu berasal. Memainkan instrumen dawai tak mengandalkan satu sisi otak, syaraf sensorik dan motorik sama – sama bekerja.

“Kedua sisi otak kita bekerja bersama. Akan sangat baik jika dikenalkan ke anak sejak kecil,” kata Syech Razei.

Kisah memanfaatkan kekuatan alat musik dawai untuk mempertajam pikiran, kreatifitas dan kesehatan ini dituliskan oleh Don G. Campbel dalam sebuah buku. (Efek Mozart : 329) berdasarkan pengalaman Ronald Price, Ph.D, seorang professor musik di Northern Illinois University.

Ronald Price pada usia 20-an diserang penyakit Parkinson, gangguan neurologis yang bersifat degeneratif. Dokter yang menangani juga menemukan, bahwa Ronald mengalami kelumpuhan syaraf (cerebral palsy).

Ronald sendiri meski memainkan horn Prancis, tergoda bermain harpa yang diyakini juga sebagai sebuah alat musik penyembuhan kuno. Ronald mendapati gejala penyakitnya hilang setelah memetik dawai – dawai harpa selama beberapa jam.

Ia pun bertekad menelan “obatnya” dengan bermain harpa lebih serius. Serta meningkatkan daya tahan untuk bermain harpa beberapa jam dalam sehari.

Apalagi ia mendapati gejala penyakitnya kembali muncul dengan cara bicaranya tidak keruan, satu sisi mukanya mengendut sampai kehilangan kendali atas kaki kiri dan tangan kirinya. Peneliti kedokteran pun berpendapat, bahwa memainkan harpa bisa memperbaiki keterampilan motorik penderita Parkinson.

 

Tinggalkan Pesan