Membongkar Gua, Membangun Kesadaran

Tetapi, itulah satu-satunya jalan untuk menyemai kebenaran dan kebajikan. Suatu jalan yang memungkinkan kita menjadi warga negara yang cerdas sekaligus bijak. Warga negara yang tidak mudah dijadikan obyek manipulatif oleh elit yang berwawasan sempit dan berjiwa kerdil.

Prof. Hariyono (Sumber: Dok. Pribadi)

Oleh: Hariyono *

Terakota.id– Pasca Pilpres ternyata persaingan kubu pendukung 01 dan 02 tidak segera mencair. Bahkan ada kesan persepsi dan kesadaran kedua kubu makin keras, seolah telah terjadi pembelahan sosial antar sesama elemen bangsa. Keduanya sulit menerima informasi yang berbeda dengan keinginan dan atau emosi yang telah lama melekat pada komunitasnya. Tidak peduli mereka sudah master, doktor atau bahkan profesor, mudah  menerima informasi yang tidak logis atau kadaluwarsa selama ini sesuai dengan keinginan kelompoknya.

Sebuah emosi yang dibangun lewat hubungan intim dalam medsos dan atau pertemuan sesama pendukung yang sama memang sering memberikan perspektif tunggal. Informasi yang benar dan dipercaya adalah informasi yang berasal dari kelompoknya serta sesuai dengan keinginannya. Oleh sebagian pihak ini dianggap sebagai konsekuensi dunia pasca kebenaran, post truth.

Sebenarnya, filsuf Yunani Plato pernah menganalogikan kondisi masyarakat seperti ini dengan alegori manusia gua. Digambarkan ada sekumpulan manusia yang dihukum di dalam gua. Mereka diminta untuk membelakangi pintu gua. Di depan pintu dibuat api sehingga orang yang didalam gua hanya bisa melihat bayangan dari benda dan gerakan yang terpantul dari sinar api. Bayangan tersebut lama kelamaan dianggap benar dan diyakini itulah realitas yang sebenarnya.

Pada suatu saat, salah seorang yang berada dalam gua tersebut keluar. Dia kaget karena realitas yang berada di luar gua berbeda. Bahkan kemudian dia pingsan. Persepsinya sulit menerima realitas baru yang berbeda dengan apa yang selama ini dilihat dan diyakini selama berada dalam gua.

Akhirnya, dia kemudian sadar bahwa apa yang selama ini dilihat dan diyakini hanyalah sebuah bayangan. Realitas yang sesungguhnya lebih kompleks dan dapat dilihat dari pelbagai sudut pandang.

Uniknya, saat dia masuk gua dan memberitahu pada rekan rekannya yang tidak pernah keluar gua justru dianggap gila. Pandangan yang sempit dan terus menerus diyakini tidak bisa menerima informasi yang baru. Dia yang sempat keluar gua dan terus berusaha menyampaikan kebenaran realitas, bukan bayangan, justru akhirnya dibunuh. Karena dianggap menyebarkan berita bohong.

Tentu alegori manusia gua ini merupakan simplifikasi terhadap  kehidupan yang kini kita alami. Tetapi dapat menjelaskan bahwa mereka yang hanya melihat realitas dari satu sudut pandang secara terus menerus dan bergaul dengan komunitas yang memiliki perspektif sama, akan  sulit menerima informasi yang berbeda. Verifikasi informasi pun tidak dilakukan. Mereka hanya mau menerima informasi seperti yang diinginkan. Informasi yang berbeda dengan keinginan dan keyakinannya dianggap salah.

Menghadapi situasi seperti di atas diperlukan keberanian membongkar tembok-tembok gua dalam group medsos yang kita ikuti. Hanya dengan membongkar tembok tembok gua atau keluar dari gua, kita punya kesempatan untuk melakukan verifikasi informasi dan refleksi terhadap persepsi yang selama ini kita ikuti. Dengan membongkar tembok gua atau keluar dari gua ada kesempatan membandingkan apakah pandangan terhadap realitas yang selama ini kita yakini itu benar sesuai realitas yang sesungguhnya  atau jangan-jangan itu hanya sebuah delusi.

Tentu tidak mudah untuk melihat realitas dari satu sudut pandang yang berbeda. Diperlukan kesabaran dan kerendahan hati menerima kebenaran yang selama ini tidak diketahui atau kita sangkal.

Tetapi, itulah satu-satunya jalan untuk menyemai kebenaran dan  kebajikan. Suatu jalan yang memungkinkan kita menjadi warga negara yang cerdas sekaligus bijak. Warga negara yang tidak mudah dijadikan obyek manipulatif oleh elit yang berwawasan sempit dan berjiwa kerdil.

Kebangsaan Indonesia sejak awal dikonstruksi dan diperjuangkan oleh pendiri bangsa sebagai negara yang berkedaulatan rakyat. Bukan kedaulatan elit. Agar berdaulat, rakyat harus berani membongkar sekat informasi sepihak  dan membanjiri otak kita setiap saat. Rakyat yang berdaulat tidak mau terkungkung dalam satu perspektif. Karena keindonesiaan kita dibangun dari landasan yang bhineka.

Merawat dan merajut perspektif yang beragam sebagai bagian dari proses dialog selain membutuhkan verifikasi informasi juga keikhlasan untuk bersikap rendah hati. Sikap kritis terhadap data atau informasi memungkinkan kita jadi cerdas. Sikap rendah hati untuk menerima atau memahami realitas yang berbeda dapat membuat kita bijak. Insya Allah orang yang cerdas dan bijak tidak hanya bermanfaat bagi kemajuan peradaban bangsa. Tetapi juga dicintai oleh Tuhan Yang Maha Esa. Semoga.

*Guru Besar Universitas Negeri Malang dan Plt. Kepala BPIP

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini