Memberadabkan Politik Biadab

Buku teori gerakan sosial antikorupsi dan keadaban politik di Indonesia
Foto : Nur Sitti Khadijah

Terakota.id–Keadaban dan kebiadaban politik itu seperti penjual pecel pincuk yang  taat bayar pajak dan  koruptor yang gemar mancuri pajak. Penjual pecel tentu beradab, sedangkan koruptor pasti biadab. Jika laku hidup korupsi menjelma tubir kebiadaban, lantas mengapa korupsi masih merajalela? Praktik sunat-menyunat hingga menyumirkan hukuman bagi koruptor kerap terjadi.

Jangan terkesiap! Ada yang bebas, lantas menduduki jabatan papan atas. Belum lagi aneka kasus yang lindap, seperti penggelapan dana BLBI, proyek hambalang, hingga pencurian bansos pandemi. Benarkah korupsi sebuah seni? Benarkah Indonesia negara berkeadilan? Jangan-jangan para politikus sedang dilanda tuna etika? Untuk menjawabnya, mari menyusuri arena gelanggang politik tak beradab.

Beragam pertanyaan sekaligus pernyataan terkait dengan keadaan politik tersebut dilontarkan Luthfi J Kurniawan melalui bukunya bertajuk Keadaban Politik. Sebagai seorang akademisi sekaligus aktivis yang acap berpikiran kritis, Luthfi tak pernah absen  memberi tawaran solutif ketika menghidu iklim politik yang tak kondusif. Buku yang diluncurkan oleh Intrans Publishing pada tahun 2021 ini berukuran 10 cm x 17 cm. Tebalnya 168 halaman, sangat cocok diletakkan di saku celana dan dibawa ke mana-mana.

Ringan di tangan, ringan di kepala, bekal aksi nyata. Ukurannya yang lebih “mini” dari ukuran buku konvensional seolah ingin berkata bahwa buku ini kurang cocok untuk dibaca di ruang yang tenang, apalagi kebas atau menggelenyar di zona nyaman. Buku ini menjelma serupa buku saku bagi pembaca yang tak mau bokoh, menolak bungkam, dan turun ke jalan melawan ketidakadilan. Hal itu sesuai dengan gelora eksistensi dan esensi buku ini yang dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu (1) gambaran antara harapan dengan realitas yang jauh panggang dari api, (2) respons realistis peristiwa politik, dan (3) gerak nyata menjadi beradab. Wakil Kepala BPIP Pancasila, Prof. Hariono, dalam pengantar mengatakan bahwa Luthfi tergolong akademisi yang tidak pernah puas dengan “kepakaran kata-kata” semata, tapi ikut terlibat dan terjun dalam gelombang kehidupan realistis yang banyak gelombang dan karang (hlm 4).

Buku ini menyajikan jejak langkah untuk menerapkan keadaban politik. Artikel pertama bertajuk Arah Tujuan Kita, penulis menyadarkan pembaca tentang tujuan hidup berbangsa dan bernegara yaitu (1) kesejahteraan materiil, (2) kesejahteraan imateriil, (3) kesejahteraan spirituil, dan (4) semangat untuk saling berbagi (hlm 10). Sayangnya, perjalanan politik tak lagi tahir. Arah tujuan hidup semakin abai. Keabaian tersebut semakin diperparah dengan masyarakat yang membisu. Membongkar Masyarakat Bisu (hlm 37) merupakan solusi awal yang ditawarkan oleh Luthfi. Intelektual adalah Simbol Moral (hlm 53) merupaka tindakan selanjutnya.

Luthfi mengingatkan pemangku kebijakan untuk tidak menjadikan rakyat sebagai instrumen belaka, dan mengingatkan masyarakat untuk melakukan sharing of knowledge (hlm 61). Buku Keadaban Politik sesungguhnya merupakan wujud sharing of knowledge yang dilakukan Luthfi. Dalam hal ini, ia seolah menciptakan habitus pembaca untuk berpikir kritis melalui contoh nyata yang telah dibuatnya. Bagian akhir buku ini mengejawantahkan tentang Tiga Langkah Memperbaiki Republik Koruptor (hlm 156). Tiga langkah tersebut berjalin berkelindan pada sektor kehidupan sosial politik, pemerintahan, dan sosial budaya.

Secara isi, buku ini sangat komprehensif. Namun secara bentuk,  membuat pembaca yang berkacamata tebal akan sedikit mengernyitkan dahi karena konsekuensi dari ukuran buku yang ramping. Meskipun demikian, hal itu bukanlah masalah utama karena masih memenuhi aspek keterbacaan. Bisa jadi buku ini memang sengaja dibentuk sedemikian langsing  karena sasaran utamanya adalah kaum remaja yang bergelora dalam berpikir dan senantiasa berpindah tempat untuk mendobrak.

Jika memang itu yang terjadi, maka benih keadaban politik akan dapat dituai ketika pembaca yang notabene generasi milenial, kelak menduduki jabatan krusial. Dengan demikian, sebagai penulis yang aktif sekaligus kritis, Luthfi punya harapan besar agar buku ini mampu menjadi tongkat estafet bagi generasi muda untuk memberadabkan politik di negeri Indonesia agar tak terjerumus dalam kebiadaban.

Keadaban Politik

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini