Membangun Masa Depan Tanpa Stigma

Sebanyak 12 difabel berhasil mendaki Gunung Butak ketinggian 2.868 m.dpl. (Foto : LinkSos).

Terakota.idSebanyak 12 orang berkebutuhan khusus atau difabel duduk bersimpuh, meriung mengelilingi sebuah nasi tumpeng.  Keringat menetes di kening, sembari mengatur nafas. Senyum mengembang, roman wajah berseri-seri. Tumpeng sebagai ungkapan syukur mereka telah berhasil mendaki Gunung Wedon, Lawang, Kabupaten Malang berdatangan.

Mereka juga telah sukses mendaki Gunung Butak ketinggian 2.868 meter di atas permukaan laut (m.dpl) lewat jalur Penderman. Ditempuh selama dua hari pada 5-6 Oktober 2020. Keduabelas difabel ini tergabung dalam Yayasan Lingkar Sosial Indonesia. Mereka difabel tuli, netra, dan tuna daksa. Didampingi pemandu dan pendamping Posyandu Difabel.

“Agenda berikutnya, tim akan melaksanakan misi pendakian ke Gunung Arjuno dan Gunung Semeru. Kegiatan pendakian ini merupakan salah satu rangkaian kampanye penghapusan stigma terhadap kelompok difabel,” kata Ketua Pembina Lingkar Sosial (LinkSos) Ken Kerta (45), Ahad 18 Oktober 2020.

Ken Kerta dalam Sarasehan dan Syukuran memeringati Hari Kesehatan Jiwa dan Hari Pahlawan 2020 menuturkan tasyukuran ini digelar sebagai ungkapan syukur atas keberhasilan mencapai puncak Gunung Butak. “Termasuk persiapan untuk misi pendakian berikutnya,” tutur Ken.

Keterbatasan fisik tak membatasi anggota LinkSos mendaki gunung. (Foto : LinkSos).

Berbagai pihat turut hadir dalam jagongan santai di posko disabilitas dusun Turi, Desa Turirejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Meliputi perwakilan Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Puskesmas, juga Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang. Perguruan Tinggi, mahasiswa Universitas Brawijaya, Universitas Kanjuruhan Malang dan Universitas Ma Chung, kepala Panti Karya Kasih Christina Andriani, dan pengasuh Sekolah Alam Ar-Rahman, Malang.

Keberadaan difabel di tengah masyarakat kerap dipandang sebelah mata. Diremehkan. Akibatnya, terjadilah berbagai perlakuan dan tindakan diskriminatif. Salah satu perlakuan diskriminatif itu dialami Eri, yang turut sebagai peserta pendakian Gunung Wedon.

“Dokter Puskesmas menolak permintaan surat keterangan sehat. Ketika saya tanya alasannya, dokter hanya mengatakan gak bisa. Lalu saya disuruh ke dokter mata. Lho, kan saya tidak sedang berobat karena sakit? Ya sudah..saya ke dokter lain, dan akhirnya bisa mendapat surat keterangan sehat itu,” tutur Eri, pemuda asal Pulungdowo, Tumpang, Kabupaten Malang.

Anggota tim pendaki LinkSos merayakan keberhasilan mendaki gunung. (Foto : LinkSos).

Surat keterangan sehat, merupakan syarat bagi peserta yang hendak mengikuti pendakian. Lebih jauh, Eri yang mengalami keterbatasan penglihatan ini mengungkapkan perilaku diskriminasi lain yang dialaminya. Ia mengajukan proposal wirausaha kepada institusi pemerintah, namun ditolak. Bahkan petugas membubuhkan stempel di antara lembaran proposal itu, sehingga proposal rusak. Tak bisa dipakai lagi.

“Saya ini dan teman-teman, tidak ingin dikasihani. Kami ingin mandiri. Punya usaha sendiri,” katanya.

Kerja sama Lintas-sektoral

Untuk menghapus stigma negatif, dibutuhkan kerja keras sekaligus kerja sama lintas-sektoral. Menanggapi keluhan Eri, salah seorang pejabat di Puskesmas Lawang Nanik Zainiyah menanggapi,”orang awam masih banyak yang tidak paham. Termasuk teman-teman di bidang kesehatan. Kami juga akan mengupayakan sosialisasi, agar stigma tersebut bisa semakin dikikis dan dihilangkan.”

Untuk mengapus stigma LinkSos juga bekerjasama dengan Sekolah Alam Ar-Rahman, melakukan penanaman buah markisa. Pengembangan pertanian, untuk mempersiapkan rintisan sekolah alam. Sebuah lembaga pendidikan inklusif. “Lantaran banyak anak yang difabel yang  kalau gak diarahkan ke Sekolah Luar Biasa atau SLB, ya diminta masuk panti saja,” ujar Ken Kerta.

Kerja kolaboratif perlu ditingkatkan, jika melihat perlakuan sebagian orang terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Ada yang mendapat perlakukan tak manusiawi. Mereka diasingkan dan dipasung. “Tindakan itu tidak pantas. Mereka manusia yang semestinya mendapat perlakuan yang baik,” katanya.

Untuk itu, Lingkar Sosial Indonesia membangun kerja sama dengan berbagai pihak. Menekankan pada strategi inisiasi, inovasi dan sinergi. “Syukurlah, kita sudah melakukan inisiasi desa inklusi di Desa Bedali, Pakisaji dan di Nguling, Pasuruan,” ujarnya.

Anggota LinkSos mengagendakan mendaki Gunung Arjuno dan Semeru. (Foto : LinkSos).

Di Pakisaji, LinkSos mendorong penyusunan anggaran desa yang ramah bagi kelompok difabel. Diberharapkan, ke depan di Lawang tidak ada lagi ODGJ yang dipasung. Sehingga mereka bersinergi dengan berbagai pihak.

Secara umum, Ketua Forum Mahasiswa Peduli Inklusif (FORMAPI) Universitas Brawijaya Andi Zulfajrin Syam menjelaskan ada empat perspektif masyarakat dalam cara pandang terhadap kelompok difabel. Pertama, kelompok difabel dipandang sebagai manusia yang membutuhkan bantuan (charity). Orang difabel mengalami ketidaksempurnaan fisik, sehingga hidupnya perlu mendapat pertolongan. Kedua, perspektif kesehatan (healthy). Ketidaksempurnaan secara fisik tersebut, kelompok difabel dianggap membutuhkan pertolongan kesehatan. Ketiga, cara pandang sosial (sociality). Kelompok orang difabel dirangkul menjadi bagian dari masyarakat. Keempat, perspektif hak asasi manusia (human right). Setiap manusia, termasuk kelompok difabel memiliki hak asasi yang hukumnya wajib dipenuhi.

“Bukankah semua manusia pada dasarnya kelak akan menjadi kaum difabel. Ketika manusia sudah tua, kita semua akan mengalami disablitas..?,” ujar mahasiswa semester 7, Jurusan Hubungan Internasional, yang juga anggota Lingkar Sosial Indonesia.

Kemandirian Ekonomi

Dalam rangka menghapus stigma di masyarakat terhadap orang difabel, Yayasan Lingkar Sosial Indonesia juga berusaha membangun kemandirian dalam bidang ekonomi. Ada beberapa usaha anggota yang dikembangkan. Antara lain unit usaha keset, masker, baju hazmat, telur asin, batik ciprat, dompet dan tas dari bungkus kopi, dan kopi herbal.

Yayasan Lingkar Sosial (Linksos) Indonesia, berdiri 2014, di Lawang, Kabupaten Malang. Sampai tahun ini telah mendampingi 112 orang anggota Posyandu Disabilitas Desa Bedali, Lawang. Secara umum, warga dampingan di seluruh Malang Raya terdata 317 orang. Warga aktif bekerja di bidang ekonomi di Omah Difabel, sebanyak 30 orang. Omah Difabel berada di Desa Bedali RT 4 RW 7 Jl Yos Sudarso, Lawang ini menjadi pusat aktivitas.

Bersama-sama saling membantu, mereka mendaki Gunung Butak. (Foto : LinkSos).

“Mahasiswa Universitas Kanjuruhan Malang telah bekerjasama menata manajemen keuangan. Termasuk hibah peralatan produksi kopi, berupa mesin roasting kopi. Sementara dengan mahasiswa Universitas Ma Chung mengenalkan aplikasi android untuk disabilitas netra dan penelitian mouse pintar untuk disabilitas fisik tanpa tangan,” katanya.

Sejauh ini, lanjut Ken, pihak pengurus belum pernah meminta bantuan. Penghapusan stigma tersebut, tambahnya berharap, bisa menjadi bagian tanggung jawab bersama dari semua pihak. Dengan demikian tak ada lagi pihak yang merasa dibantu maupun membantu. Sama seperti selazimnya manusia, difabel tidak memiliki kuasa apapun atas kelahirannya sendiri.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini