Memasuki Lorong Waktu di Tomboan Ngawonggo

Tomboan Ngawonggo dibuka sebagai destinasi wisata sejarah sejak Maret 2020. (Foto : Restu Respati).

Terakota.idRumpun bambu berjajar di area Situs Ngawonggo. Bangku dan kursi berjajar di sejumlah titik di bawah rumpun bambu. Semilir angin menambah keteduhan area yang berjajar bangunan khas Jawa. Gapura dan bangunan joglo menambah suasana klasik, seolah kita memasuki lorong waktu ke masa lalu.

Inilah Tomboan Ngawonggo, yang dibuka sebagai destinasi wisata sejarah sejak Maret 2020. Objek wisata ini menyuguhkan suasana khas pedesaan. Termasuk menu kuliner yang tersaji makanan dan minuman. Menu makanan yang disajikan semuanya non hewani alias vegan.

Getuk, sawut, apem, lepet, ongol-ongol, sate tahu, jemblem, horok-horok, nasi liwet. Ada juga aneka minuman teh rosela,
secang, tomboan ijo, jahe hangat, dan jamu beras kencur. (Foto : Restu Respati).

Berbagai jajanan tradisional tersedia antara lain getuk, sawut, apem, lepet, ongol-ongol, sate tahu, jemblem, horok-horok, sampai nasi liwet. Sementara minuman tersedia teh rosela yang berbahan dari bunga rosela, tomboan abang berbahan secang, tomboan ijo yang berbahan kelor, jahe hangat, dan jamu beras kencur.

Semua masakan diolah dengan tungku berbahan bakar kayu. Para juru masak juga mengenakan pakaian tradisional. Pengunjung bisa melihat langsung proses mengolah makanan. Meja kursi, dapur tradisional terbuka, menyatu dengan alam.

getuk, sawut, apem, lepet, ongol-ongol, sate tahu, jemblem, horok-horok, sampai nasi liwet. Sementara minuman tersedia teh rosela yang berbahan dari bunga rosela, tomboan abang berbahan secang, tomboan ijo yang berbahan kelor, jahe hangat, dan jamu beras kencur. (Foto : Restu Respati).

Semua minuman diramu dari bahan alami, sehingga memiliki khasiat bagi kesehatan. Semua komposisi minuman berfungsi menambah daya imunitas tubuh. Semua tamu yang datang diharapkan mendapat tombo (obat) terlepas dari segala penyakit. Inilah yang kemudian disematkan nama dalam objek wisata, menjadi Tomboan.

Pengunjung tidak diperkenankan menanyakan harga makanan dan minuman yang dipesan. Sebagai gantinya tersedia kotak “Kasir Asih” yang diletakkan di tiang penyangga dapur. Pengunjung bisa langsung memasukkan uang ke dalam kotak.

Makanan dan minuman tak dipatok tarif, silakan membayar sesuai dan seikhlasnya. (Foto : Restu Respati).

Tomboan memang tak membandrol tarif menu makanan dan minuman, tarif disesuaikan dan dibayar seikhlasnya. Apakah tidak pernah rugi? “Kami tidak pernah memikirkan untung rugi, yang kami lakukan berdasarkan ‘murakabi’ (bermanfaat/migunani), rejeki sudah ada yang mengatur untuk kami,” terang Yasin.

Segala keunikan ada di Tomboan ini tidak terlepas dari ide Yasin sebagai pengelola. Bahkan konsep Tomboan yang bernuansa tradisional pedesaan Jawa. “Sebenarnya lebih jauh lagi ke masa kerajaan dahulu,” kata Yasin menerangkan.

Tidak berlebihan, lantaran selemparan baru terdapat Situs Ngawonggo. Sebuah Situs Patirtaan yang diyakini dibangun pada masa Pu Sindok pada abad ke-10 Masehi. “Sejak awal konsep kami lebih kepada mengedukasi para rawuh (tamu),” kata Yasin menambahkan.

Pengunjung bisa memilih tempat, termasuk duduk di bawah pohon dan rumpun bambu yang rindang. (Foto : Restu Respati).

Tomboan menjadi pilihan yang cocok bagi wisatawan yang ingin meninggalkan keriuhan dan hingar-bingar suasana perkotaan. Suasana Tomboan yang asri membuat wisatawan bisa rehat sejenak untuk merasakan suasana alam perdesaan. Lokasi Tomboan berada di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang.

Bagi pengunjung Tomboan bisa memesan lebih dulu. Bagi yang belum reservasi tetap dilayani, tetapi harus sabar menunggu. Yasin beserta pengelola Tomboan Ngawonggo tidak lain untuk memperkenalkan Situs Ngawonggo kepada khalayak.

Situs Ngawonggo dibersihkan dan diteliti Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur pada April 2017. Tim arkeologi BPCB Jawa Timur melakukan ekskavasi dan kajian di situs ini. Selang tiga tahun lebih situs belum ditetapkan statusnya sebagai cagar budaya oleh pemerintah daerah. Sehingga Situs Ngawonggo belum memiliki Juru Pelihara (Jupel) Situs yang resmi.

Situs Ngawonggo perlu dijaga dan dilestarikan. Pengunjung membludak rawan merusak situs. (Foto : Restu Respati).

Kondisi ini cukup mengkhawatirkan, bagi keberadaan Situs Ngawonggo. Pengunjung semakin ramai bisa saja membahayakan dan merusak situs. Patirtaan dan relief yang dipahat langsung di batu padas perlu perhatian khusus. Pengunjung perlu diawasi agar tidak menyentuh bahkan menaiki situs Ngawonggo.

Jaladwara Situs Ngawonggo beberapa tahun lalu raib. Peristiwa ini tentu bisa menjadi pertimbangan untuk menetapkan status dan dijaga juru pelihara secara khusus. Seyogyanya Situs Ngawonggo perlu segera ditetapkan statusnya sebagai cagar budaya. Agar segera ada juru pelihara yang merawat serta menjaga situs Ngawonggo.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini