Memaknai Tokoh Arya Penangsang Kethoprak Pati

Seniman kethoprak Pati memiliki persepsi agak berbeda dengan penggambaran di Solo-Jogja dalam melihat tokoh Arya Penangsang. (Foto : Sukarjo Waluyo).

Terakota.id-Kethoprak Pati banyak menampilkan lakon-lakon yang mengisahkan cerita tutur pesisir utara Jawa (Jawa Pesisir). Beberapa lakon yang seringkali dimainkan di antaranya Syekh Jangkung, Ontran-ontran Cirebon, Geger Palembang, Bedhahing Ngerum, Sultan Agung Tani, Lulang Kebo Landoh, Ondho Rante, dan Maling Kapa, Maling Kentiri. Sementara itu, ada beberapa lakon yang karena dianggap sensitif oleh masyarakat dan biasanya dihindari dalam pementasan grup kethoprak Pati, misalnya Pakuwaja, Syekh Siti Jenar, dan Arya Penangsang Gugur.

Dalam pengamatan penulis, lakon Arya Penangsang saat sekarang sudah mulai banyak dipentaskan kembali. Meskipun bagi wilayah tertentu sensitivitasnya masih sangat tebal dan tetap melarang pementasan dengan tokoh Arya Penangsang. Hal ini biasanya ditentukan oleh letak geografis atau masalah memori kolektif masa lalu masyarakatnya atas tokoh yang masih kontroversial bagi sebagian pihak tersebut.

Arya Penangsang adalah murid kesayangan Sunan Kudus. (Foto: Pentas Kethoprak Siswo Budoyo “Penangsang Golek Wahyu” di Sumbersari, Kayen, Pati April 2020)

Babad Tanah Djawi yang mewakili kebudayaan Jawa Mataraman/pedalaman membangun representasi bercorak hegemoni yang bertolak dari tokoh Arya Penangsang yang digambarkan sebagai sosok yang buruk. Begitu kuatnya pengaruh kebudayaan Mataraman yang berpusat di Solo dan Jogja (sebagai pewaris/pelanjut Kesultanan Pajang dan Kesultanan Mataram) membuat cerita dalam Babad Tanah Djawi dianggap oleh sebagian besar masyarakat Jawa sebagai sebuah kebenaran. Pengaruh ini terlihat dalam berbagai produksi kebudayaan dalam waktu yang cukup lama sebagaimana terlihat dalam beberapa kesenian dan sastra.

Di sisi lain, bagi masyarakat Jawa Pesisir pada umumnya, Arya Penangsang dengan segala kisah heroiknya menjadi tokoh yang dihormati dan disegani. Kisahnya masih terasa dekat dengan masyarakat hingga hari ini. Masyarakat Jawa Pesisir mengambil sudut pandang yang bertolak belakang dalam memaknai tokoh Arya Penangsang yang berbeda dengan persepsi sebagian besar masyarakat Jawa yang lebih memercayai tulisan Babad Tanah Djawi. Di balik sosok Arya Penangsang yang kontroversial, ada banyak hal-hal lain yang menyertainya yang mampu membangun memori kolektif mereka.

Arya Penangsang melihat Jaka Tingkir (Hadiwijaya) adalah rival yang perlu disingkirkan. (Foto: Pentas Kethoprak Siswo Budoyo “Penangsang Golek Wahyu”
di Sumbersari, Kayen, Pati April 2020).

Beberapa buku sejarah modern mengulas bahwa citra dan penggambaran buruk tentang Arya Penangsang dalam Babad Tanah Djawi dan masyarakat Jawa pedalaman karena adanya latar belakang sejarah dan konflik kepentingan, terutama antara pihak penguasa kerajaan-kerajaan di Jawa pedalaman dengan Jawa Pesisir. Beberapa buku tersebut menunjukkan bahwa sejarah kekuasaan dan politik di Pulau Jawa yang ditandai dengan bergesernya kekuasaan di wilayah Pesisir (Demak) ke wilayah pedalaman (Pajang dan Mataram) diwarnai dengan pertarungan kepentingan wilayah dan kepentingan ekonomi. Pergeseran sejarah kekuasaan dan politik di Pulau Jawa yang ditandai dengan kekalahan dan kematian tokoh Arya Penangsang tersebut sekaligus menjadi awal kemenangan wilayah Jawa pedalaman dan runtuhnya kejayaan kekuasaan Jawa Pesisir.

Konflik antara Jipang dan Pajang sekaligus adalah pertarungan dua representasi yang terus berlangsung karena perpindahan pusat kekuasaan dari Demak di Jawa Pesisir ke Pajang di Jawa pedalaman (sekarang wilayah kecamatan di Kota Solo) secara psikopolitik dan geopolitik berkaitan dengan berbagai kepentingan antara Jawa Pesisir dan Jawa pedalaman.
Siapakah Sebenarnya Tokoh Arya Penangsang?

Salah satu buku sejarah modern yang membahas tentang sosok Arya Penangsang adalah karya sejarawan Belanda, H.J. de Graaf, yang berjudul Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati (1985). Buku ini menggunakan Babad Tanah Djawi sebagai data utama untuk dilihat dalam perspektif kritis. Dalam buku yang fokus utamanya untuk menelisik tokoh Senapati (pendiri dinasti Mataram Islam), ia menuliskan bagaimana awal kekuasaan Hadiwijaya sebagai Sultan Pajang dimulai. Ini adalah informasi penting mengenai akhir kekuasaan Kesultanan Demak yang diwarnai dengan perebutan tahta dan balas dendam di mana sosok Arya Penangsang menjadi salah satu tokohnya. Buku karya Graaf ini memberikan perspektif sejarah modern terhadap tokoh Arya Penangsang yang dipandang oleh masyarakat Jawa dalam versi dan persepsi yang beragam. Graaf membicarakan seputar pertikaian hingga terjadinya perang antara Jipang dengan Pajang dalam tiga bab, yaitu Bab IV “Pergulatan Antara Jipang dan Pajang”, Bab V “Peranan Jepara”, dan Bab VI “Pertempuran yang Menentukan”.

Arya Penangsang merasa dianaktirikan dalam keluarga Kesultanan Demak. (Foto: Pentas Kethoprak Siswo Budoyo “Penangsang Golek Wahyu” di Sumbersari, Kayen, Pati April 2020)

Dalam buku Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati (1985), Graaf menjelaskan siapa tokoh Arya Penangsang dan bagaimana peta konflik (Jipang dan Pajang) yang melingkupinya. Konflik antara Jipang dan Pajang sekaligus adalah pertarungan dua representasi yang terus berlangsung karena perpindahan pusat kekuasaan dari Demak di Jawa Pesisir ke Pajang di Jawa pedalaman. Pasca meninggalnya Sultan Trenggana adalah awal dari konflik antara Arya Penangsang (Adipati Jipang) dengan Hadiwijaya (Adipati Pajang) seputar perebutan tahta dan hak mewarisi Kesultanan Demak.

Konflik kedua tokoh ini agak aneh, mengingat Hadiwijaya bukanlah trah/keturunan langsung dari pendiri Kesultanan Demak, Raden Patah. Ia hanyalah menantu Sultan Trenggana yang, dalam kebiasaan di Jawa, jika terlibat konflik biasanya hanyalah sekadar membantu dan akan mengembalikan kepada yang berhak saat konflik tersebut bisa dimenangkan. Bagian awal Babad Tanah Djawi yang membicarakan Arya Penangsang juga tidak seperti kebiasaan dan tradisi suksesi di Jawa. Penyebutan “sultan” bagi Adipati Hadiwijaya yang kemudian menjadi Sultan Pajang adalah hal yang ‘tiba-tiba’ dan menunjukkan telah munculnya dinasti baru meskipun dikatakan melanjutkan kekuasaan Kesultanan Demak.

Hadiwijaya dilukiskan menjadi sultan baru dan memiliki kesaktian luar biasa yang membuat semua adipati-adipati lain takluk dan tidak berani melawan. Hal ini memperlihatkan bahwa dalam penulisan Babad Tanah Djawi ada motivasi untuk menunjukkan Hadiwijaya sebagai orang kuat dan menjadi tokoh penting. Apalagi, sebenarnya masih ada tokoh-tokoh yang memiliki hak sebagai pewaris tahta Demak yang merupakan trah/keturunan langsung dari Raden Patah, yaitu Pengeran Prawata dan Pangeran Timur (anak laki-laki Sultan Trenggana), serta Arya Penangsang (anak laki-laki Raden Kikin/Pangeran Sekar Seda Lepen). Pangeran Sekar adalah kakak Sultan Trenggana yang dulu dibunuh oleh Pangeran Prawata.

Di antara ketiga keturunan langsung Raden Patah tersebut, Arya Penangsang dianggap melawan kekuasaan Hadiwijaya, yang pada akhirnya mengakibatkan perang Jipang-Pajang. Sementara itu, putra mendiang Sultan Trenggana disebutkan pada bagian belakang bagian pembahasan tentang Arya penangsang yang menunjukkan posisi mereka sangat lemah.

Sunan Prawata dikisahkan hanya berkuasa di wilayah sekitar Prawata (sekarang daerah Sukolilo, Pati) dan Pangeran Timur turut dibawa ke Pajang, yang kemudian diangkat menjadi Adipati Madiun. Konflik keluarga Kesultanan Demak itulah yang membuat Hadiwijaya bisa memosisikan diri sebagai ‘bandul’ penentu kemenangan di antara dua pihak yang berkonflik, yaitu keluarga Kesultanan Demak dari keturunan Sultan Trenggana (Demak, Prawata, dan Jepara) di satu sisi dengan Kesultanan Demak dari keturunan Pangeran Sekar Seda Lepen (Jipang) di sisi yang lain.

Arya Penangsang minta restu Sunan Kudus untuk menyingkirkan Hadiwijaya. (Foto: Pentas Kethoprak Siswo Budoyo “Penangsang Golek Wahyu”
di Sumbersari, Kayen, Pati April 2020)

Suksesi yang tidak berlangsung dengan lancar ini berkaitan dengan meninggalnya Sultan Trenggana yang mendadak. Babad Tanah Djawi tidak menjelaskan bagaimana meninggalnya Sultan Trenggana. Hal yang wajar dilakukan masyarakat Jawa saat itu untuk menghormati raja, yaitu dengan tidak membicarakan kematiannya. Hal ini mengingatkan pada era kerajaan Hindu-Budha yang seringkali raja digambar tidak meninggal, melainkan moksa, yaitu konsep agama Hindu-Budha yang berarti kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi dan lepas juga dari putaran reinkarnasi atau punarbawa (kelahiran kembali) kehidupan.

Pada Bab IV buku Awal Kebangkitan Mataram: Masa Pemerintahan Senapati (1985), Graaf memberi judul bab “Pergulatan Antara Jipang dan Pajang”. Ini menunjukkan bahwa pergulatan politik dan pengaruh kedua wilayah di bawah vazal Kesultanan Demak tersebut memiliki andil besar atas kelangsungan perjalanan Kesultanan Demak sepeninggal Sultan Trenggana (Sultan III). Berkaitan dengan kematian Sultan Demak tersebut, Graaf meragukan bahwa Sultan Trenggana meninggal dengan tenang dan wajar sebagaimana tertulis dalam babad dan lebih memercayai berita Portugis. Hal tersebut terlihat dalam kutipan berikut.

Diberitakan (Pinto, Peregrinacao, Bab ke-179), setelah pembunuhan atas diri raja Demak di depan benteng Panarukan, timbul kekacauan yang sangat besar di kerajaan Jawa itu, sehingga penulis tidak lagi merasa dirinya aman, lalu meninggalkan pulau yang indah itu. Ia khawatir bahwa keadaan demikian akan berlangsung terlalu lama sebelum menjadi tenang kembali. Dan ketakutannya itu memang beralasan.

Satu-satunya sumber Jawa, yang sedikit menyebutkan terjadinya perang di ujung timur Pulau Jawa, tempat raja Demak itu kehilangan nyawanya, ialah Babad Sangkala, yang memberitakan peristiwa perang dengan Blambangan pada tahun Jawa 1468. Ini bertepatan dengan berita Pinto, tahun 1546 M.

Mengenai kekacauan yang selanjutnya ditimbulkan, kita peroleh berita yang paling banyak, sekalipun samar-samar, dalam Serat Kandha (hal. 437-438). Diceritakan, setelah Jaka Tingkir tiba di Pajang, daerah ini semakin luas dan sejahtera. Siapa yang dirugikan karenanya tidak disebutkan.

Setelah menerima berita bahwa bapak mertuanya, yaitu Sultan, menderita sakit, Jaka Tingkir bergegas pergi ke Demak. Tetapi perhatian yang berupa kunjungan ini ternyata tidak lagi dapat membantu raja sakit itu: karena ia meninggal tidak lama kemudian, dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Demak (Graaf, 1985:23).

Naiknya tahta Hadiwijaya selanjutnya menjadi sebuah hal yang banyak dipertanyakan oleh para peneliti akhir kekuasaan Kesultanan Demak. Apakah murni karena sebuah penyerahan dari trah/keturunan Raden Patah, dalam hal ini keluarga Sultan Trenggana (yang mempunyai dua anak laki-laki, yaitu Pangeran Prawata dan Pangeran Timur) ataukah sebuah upaya perebutan tahta secara tersamar oleh Hadiwijaya.

Sementara itu, trah/keturunan Raden Patah di sisi yang lain, yaitu anak Pangeran Sekar Seda Lepen (Arya Penangsang di Jipang) posisinya lebih jelas berusaha merebut tahta yang dahulu pernah direbut dari ayahnya dan membalas dendam pembunuhan ayahnya di masa lalu. Graaf juga mengungkapkan keheranannya dengan naiknya Jaka Tingkir, menantu Sultan Trenggana, menjadi sultan penerus Kesultanan Demak sebagaimana terlihat dalam kutipan berikut.

Sungguh heran kita ketika membaca bahwa tokoh Pajang ini kemudian naik tahta. Setelah pengangkatannya yang mendadak ini, ia memerintahkan agar semua benda pusaka Demak dipindahkan ke Pajang, tanpa seorang pun yang menghalang-halanginya, sebaliknyalah! Lama kemudian, menjelang pelantikannya oleh raja pendeta dari Giri, dinyatakan bahwa ia dipilih oleh rakyat Demak sebagai raja (Serat Kandha, hal. 511).

Pewaris yang sah, Pangeran Aria, putra Trenggana, dikatakan tidak mau naik tahta; dengan sukarela menjadi Priayi Mukmin atau Susuhunan yang keramat di Prawata. Pada masa itu gelar ini masih mempunyai arti spiritual (Graaf, 1985:23).

Keanehan selanjutnya, justru Jaka Tingkir setelah menjadi Sultan seakan ada penyingkiran atas trah/keturunan Kesultanan Demak dengan mengangkat kawan-kawannya. Hal inilah yang membuat Graaf meyakini bahwa kemarahan Arya Penangsang dipicu oleh pemberian tahta yang sudah melenceng dan jatuh kepada orang dari luar jalur keturunan Raden Patah yang sama sekali tidak memiliki hak. Hal tersebut tampak dalam kutipan berikut.

Kemudian ternyatalah bahwa salah satu di antara banyak kejengkelan yang akhirnya timbul pada Pangeran Aria Panangsang disebabkan oleh karena Pangeran Prawata (yang kemudian dinamakan Susuhunan yang keramat itu) dengan begitu saja telah menyerahkan hak atas tahtanya kepada raja Pajang (Serat Kandha, hal. 439).

Babad Tanah Djawi (Meinsma, Babad, hal. 46) memberi keterangan mengenai fakta-fakta ini yang lebih kering dan singkat daripada Serat Kandha, tetapi juga dengan lebih hati-hati. Dalam Babad Tanah Djawi disebutkan tindakan raja Pajang hanya sebagi berikut, “Semua negara bawahan menyerah. Yang mengadakan perlawanan dikalahkan. Tidak ada seorang pun yang berani melawan, karena takut akan kesaktian adipati dari Pajang. Hanya adipati dari Jipang, Pangeran Aria Panangsang, yang tidak mau menyerah”.

Justru kalimat-kalimat yang sederhana ini menimbulkan dugaan pada kita mengenai tindakan-tindakan Pajang yang penuh kekerasan dan haus akan kekuasaan, sekalipun di sini tidak disebutkan peristiwa naiknya di atas tahta atau penobatannya sebagai raja. Di sepanjang pantai tidak ada lagi orang yang berani melawan raja Pajang itu. Hanya raja Jipang, Pangeran Aria Panangsang, yang berani menentangnya (Graaf, 1985:24-25).

Babad Tanah Djawi yang mewakili kebudayaan Jawa Mataraman/pedalaman membangun representasi bercorak hegemoni yang bertolak dari tokoh Arya Penangsang yang digambarkan sebagai sosok yang buruk. Sementara itu, masyarakat Jawa Pesisir pada umumnya melihat Arya Penangsang adalah tokoh yang dihormati dan disegani. Sosok murid kesayangan Sunan Kudus, salah satu wali yang disegani oleh masyarakat Jawa Pesisir.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini