Memaknai Kesenian di Era Kekinian : Sebuah Renungan Seorang Seniman

Oleh : Muhammad Nashir*

Terakota.id–Tradisional tidak mencoba mengekspresikan perasaan dan gagasannya sendiri, dengan mengatakan, “ini adalah hasil ekspresi saya,” seperti yang dilakukan oleh Seniman Modern. Seorang seniman tradisional akan berkata, “apa gunanya dan apa menariknya bagi kita untuk mengekspresikan diri? Apakah diri kita sendiri lebih penting dari 6 miliar orang yang hidup di bumi?”

Cara pandang Seniman tradisional didasarkan pada pandangan bahwa “Seni harus menyatakan kebenaran, harus mengandung keindahan, dan harus bermakna, yaitu sebuah makna yg universal karena berada di atas ranah individual, yang tidak terikat pada ego masing-masing seniman, bukan pula Seni untuk Seni, yang hanya bicara tentang Teori dan Pasar, bak Dunia Pertukangan.

Para seniman yang di sebut tradisional ini dalam setiap pertemuannya lebih cenderung membicarakan tentang filosofi dan nilai-nilai yang terkandung dalam atribut, lakon dan gerakan karya seni, tak jarang pula mereka filosofi dan nilai itu mereka hubungkan dengan laku hidup keseharian. Sehingga karya seni juga sebagai media pengingat sekaligus penegur tata kehidupan itu sendiri.

Seni dalam pandangan mereka juga adalah bagian dari proses pertanggung jawaban sosial mereka dalam kehidupan dan bermasyarakat. Juga bagian dari menghibur dan menyenangkan hati orang lain.

Atas dasar sebuah cara pandang seperti itulah yang akhirnya membawa mereka pada sebuah kesungguhan yang benar-benar tulus dalam menjalani proses berkeseniannya. Sehingga kesenian juga telah menjadi tempat bagi mereka mengekspresikan imajinasi juga proses menjaga karya luhur nenek moyang mereka.

Sangat terasa sekali penjiwaan yang totalitas dari setiap tampilan mereka ketika berada di setiap perhelatan. Seolah mereka benar-benar telah menyatu dengan lakon yang sedang mereka bawakan.

Kini perspektif yang di dasari semangat materialisme telah banyak merubah wajah berkesenian. Terutama di wilayah perkotaan dimana kesenian di pandang hanya sekedar sebuah tontonan yang tak lagi punya nilai fungsi sebagai tuntunan. Padahal apapun yang mereka lakukan tetaplah bisa menjadi contoh atau tuntunan bagi masyarakat yang lain.

Kesadaran fungsi seni dalam praktek kehidupan ini harusnya segera di sadari oleh para Seniman. Agar apa yang akan mereka tampilkan menjadi lebih tertata, terstruktur dan lebih bermakna bagi siapapun itu yang akan menikmatinya.

Bukankah kesenian dalam perspektif para filosof adalah salah satu bagian terpènting dalam proses membangun sebuah kebudayaan? Yang bisa kita tafsirkan juga bahwa hanya kesenianlah yang mampu merubah tatanan sosial dengan baik tanpa sebuah konfrontasi fisik seperti yang selalu di hadirkan oleh para politisi kita dalam rentang beberapa dekade ini.

Memperjuangkan untuk mengembalikan lagi kekuatan dalam memaknai fungsi Kesenian di era kekinian sangat tidaklah mudah. Namun nenjaga pola dalam tiap interaksi para seniman dan budayawan masih sangatlah bisa kita pertahankan, kita uri-uri semangatnya.

Salam Kabudayan

Malang, 3 Mei 2018

Nashir Ngeblues

*Seniman dan pegiat literasi

Tinggalkan Pesan