Memaknai Kartini di Situasi Pandemi Covid-19

Foto : Rumahkitab.com

Oleh : Frida Kusumastuti*

Terakota.id Jikalau saat itu seorang Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda – J.H. Abendanon – tidak mengumpulkan surat-surat RA Kartini yang dikirimkan kepada para sahabatnya di Eropa. Lalu Abendanon tidak mengompilasikanya dalam bentuk sebuah buku “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”, apakah kita akan mengenal pemikiran Kartini untuk Bumiputera Indonesia?. Jika Armin Panne tidak menerjemahkan usaha Abendanon menjadi sebuah buku “Habis Gelap Terbitlah terang” yang lalu diterbitkan oleh Balai Pustaka, apakah kita mengenal Kartini lebih baik? Saya kira tidak.

Meskipun kita tidak tahu pasti, motivasi J.H Abendanon selain simpatinya pada wanita dari Jawa-Indonesia itu, bagaimanapun RA.Kartini sudah dikenalkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Indonesia, khusus di bidang Emansipasi Wanita. Penghormatan pada RA.Kartini hingga hari ini (21/4) masih trendy sebagai pembicaraan masyarakat. Sebagai teks yang bebas, RA. Kartini dan kumpulan isi suratnya dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” juga bebas diintepretasi oleh siapa saja. Menggembirakan, sebagian besar intepretasi itu masih on the track berkaitan dengan emansipasi wanita. Tahun ini, saya ingin menambahkan intepretasi yang berkaitan dengan Kartini adalah konstruksi sebuah Simbol.

Konstruksi pertama adalah Kartini putri bangsawan yang menginginkan pendidikan tinggi baginya, namun berakhir dalam kungkungan adat. Dia dinikahkan dalam usia muda (dini), sebagai isteri kedua dari seorang bangsawan. Makna dari konstruksi ini bisa bermacam-macam. Kartini tidak berdaya. Kartini menjalani takdir. Kartini anak yang patuh. Hidup yang paradoks dengan “perjuangannya.” Kartini menderita lahir batin. Kartini menghormati adat. Saya sendiri merasakan betapa pedih hati Kartini.

Konstruksi kedua adalah Kartini memiliki pergaulan yang luas, terutama dengan teman-teman dari Belanda dan Eropa. Makna dari konstruksi ini menggambarkan kelas elit Kartini. Dia bukan lahir dari rakyat jelata. Dia juga elit yang bisa mencari dan berbagi informasi dengan  para sahabat di berbagai negara. Dia memiliki akses untuk menembus pergaulan sempit di “istana rumahnya” dan Kartini benar-benar memanfaatkan itu untuk mengutarakan pemikiran-pemikirannya serta membaca, memahami pemikiran-pemikiran para sahabatnya, dan apa yang terjadi di Eropa. Saya sendiri memaknai betapa kosmopolitnya Kartini di jaman itu.

Konstruksi ketiga adalah Kartini begitu lepas dan bebas mengutarakan pemikiran dan perasaan-perasaanya pada para sahabatnya di Eropa. Kartini berbicara tentang diri sendiri, Cita-citanya, pergulatan batin dan spiritualnya, kebudayaan yang melingkupinya, keindahan alam dan budaya Indonesia, Manusia Indonesia, tentang pendidikan, dan wanita Indonesia. Saya sendiri memaknai betapa Kartini menikmati sekali ruang dialog yang terciptakan lewat media surat menyurat itu. Dialog-dialog itu diwujudkan oleh Kartini bersama saudara-saudara perempuannya. Mereka mendirikan “sekolah”, memberi kesempatan kepada para wanita untuk mengasah pengetahuan dan keterampilan sebagai manusia yang lebih baik.

Tentu masih banyak konstruksi tentang Kartini. Beberapa sudah pernah saya tulis di media massa berkaitan dengan Kartini sebagai “jurnalis”, Kartini yang sudah “melek media” maupun inspirasi Kartini untuk perempuan yang tidak mau lagi dibungkam.

Jalan Sunyi Kartini di Situasi Pandemi

Tiga konstruksi dan pemaknaan saya tentang Kartini mengerucut pada suatu makna besar bahwa Kartini adalah simbol bertahan dalam kepedihan..

Apakah itu masih relevan kita perbincangkan di era kini? Ya, masih relevan.

Pandemi Covid-19 merupakan gambaran jalan sunyi Kartini di era kekinian. Sebagaimana kita tahu, Pandemi Covid-19 ditahun ini adalah situasi berat yang dihadapi oleh 200 an negara. Sebagian negara bisa lepas tanpa banyak penderitaan, namun sebagian yang lain melewati ini dengan penuh kesedihan duka nestapa. Termasuk Indonesia yang sangat luas wilayahnya dengan beragam budaya masyarakatnya. Setiap daerah di Indonesia seolah merupakan miniatur keadaan negara-negara yang mengalami Pandemi.  Indonesia adalah gambaran  konstruksi tentang Kartini. Pedih, kosmopolit, dan mengolaborasi ruang dialog menjadi aksi nyata.

Era kini yang serba digital, tidak ada suatu hal bisa dirahasiakan lagi. Setiap kebijakan dengan segera akan diketahui dan mendapatkan respon segera pula. Maka, segala perilaku tidak populis atau tidak menyentuh hati akan menimbulkan kepedihan rakyat. Komunikasi Publik lembaga negara yang payah, public speaking pejabat yang tidak empatis, derita pemiskinan yang tidak segera diberi solusi, perilaku kolusi diatas kesempitan hidup rakyat, adalah kepedihan yang sama yang dialami Kartini.

Era kini yang serba digital, manusia bebas berselancar ke berbagai negara di dunia. Membandingkan penanganan Pandemi Covid-19 di setiap negara. Membongkar sejarah pengalaman Pandemi di masa lalu. Masyarakat belajar dari pengalaman menjelajah dunia dan jaman. Pikiran kosmopolit membuat optimis, bersemangat, dan berani menghadapi tantangan jaman.

Era kini yang serba digital. Setiap orang mudah mencari inspirasi dan berbagi inspirasi berdasarkan pengalaman yang baik dan buruk. Melintasi batas-batas negara, daerah, suku, ras, dan agama. Seperti Kartini, masyarakat akhirnya menemukan jalannya sendiri. Komunikasi daring diwujudkan dalam gerakan-gerakan luring untuk bersama pulih dari situasi sulit. Gotong royong, kampanye sehat & aman, berbagi ilmu pengetahuan, kedermawanan sosial, serta kemandirian yang bersifat local wisdom dilakukan oleh kelompok dan komunitas-komunitas.  Gerakan-gerakan ini begitu nyata sebagai solusi meningkatkan kehidupan di tengah pandemi.

Kartini memang tidak mengalami Pandemi Covid-19. Namun konstruksi tentang Kartini bisa saja diintepretasi di sepanjang jaman. Giliran anda.

*Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang dan Aktivis Jaringan Pegiat Literasi Digital Indonesia (Japelidi)

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini