Melukis Sejarah dengan Batik

Gubernur Kolonial Hindia Bekanda, Sir Thomas Stamford Raffles di dalam bukunya “History of Java” (London, 1817) menceritakan tentang batik Hindia-Belanda (Indonesia sekarang) kepada dunia. Dalam buku tersebut, Raffles memamerkan setidaknya 100 motif batik yang pernah ia jumpai, berikut dengan cara pembuatannya.

Terakota.id–Sejumlah perempuan paruh baya duduk tepekur, tangan kanan memegang canting dan tangan kiri memegang selembar kain putih. Mereka menghadap meja yang berisi tungku menyala.  Tungku membakar wajan berisi malam, tangan mereka kompak mengisi canting  dengan malam cair.

Canting ditiup, agar malam mengalir dan ditorehkan ke atas kain putih. Setiap meja berisi empat sampai lima orang. Mereka tekun belajar membatik, menutup kain dengan malam untuk menciptakan motif tertentu sesuai keinginan. Aroma harum malam menguar di Wisma Kalimetro, Jalan Joyosuko Metro Nomor 42, Merjosari, Kota Malang.

Mereka merespon dengan gerakan yang seakan mekanis, berulang kali tangan mereka mencelupkan canting ke dalam wajan. Menggoreskan canting di atas selembar kain putih, mengikuti beragam pola.

Tangan mereka terlihat masih kaku, kadang goresan canting menyisakan noda di luar pola yang sudah digariskan. Meski begitu, tak ada yang berhenti di tengah jalan. Mereka tetap melanjutkan sampai seluruh pola ditutupi malam.

Ya, perempuan-perempuan ini tengah belajar membatik. Bagi mereka, inilah pengalaman pertama membatik. “Baru sekali belajar membatik. Pengalaman yang menyenangkan dan banyak ilmunya,” ucap warga RT  3 Merjosari, Kota Malang, Mutmainah.

Mutmainah merupakan salah seorang peserta “Belajar Membatik” yang diselenggarakan Terakota.id, Ahad 25 Maret 2018 di Wisma Kalimetro Kota Malang. Ia berharap membentuk komunitas batik di lingkungan sekitar. Tujuannya untuk mengisi hari dengan kegiatan produktif.

“Jadi keseharian tidak melulu di KDS. Kamar, dapur, sumur,” kata Mutmainah. Ia juga berkeinginan mendesain pola batik hasil imajinasinya sendiri. Serta mengerjakan secara mandiri untuk menambah penghasilan ekonomi keluarga.

Usai menorehkan malam, mereka kompak mewarnai kain putih berlapis malam. Mereka belajar teknik degradasi warna. Caranya, kain digulung atau dilipat, lalu disiram dengan beragam warna sesuai selera secara merata. Hasilnya, kain yang semula putih, kini berubah menjadi warna menarik.

Kain menjadi dominan variasi warna kuning, hijau dan merah. Ada yang cenderung warna hitam dan biru tua. Ada juga yang berubah warna layaknya langit senja dengan semburat jingga.  Seniman batik asal Bondowoso, Arief Martha Guswantoro menyebut teknik ini sebagi teknik pewarnaan remasol.

Teknik pewarnaan semacam ini dikenal mudah dan dapat memperoleh variasi warna. Zat-zat pewarna dilarutkan dalam air, bisa dioleskan dengan kuas atau disiramkan ke atas kain. Atau kain direndamkan ke dalam pewarna remasol.

Setelah pewarnaan, dilakukan teknik penguncian warna menggunakan water glass. Setelah dijemur selama empat jam, kain batik lalu direbus dengan air panas. Namanya nglorod atau meluruhkan malam atau lilin yang menempel di kain. Setelah itu kain dicuci atau dibilas dan dijemur.

Arief Martha Guswantoro menjadi instruktur belajar membatik. Ia mengaku jatuh cinta dengan batik sejak dua tahun lalu. Awalnya istrinya yang belajar lebih dulu, lantas ia belajar dari istrinya. Hingga fasih menggunakan memainkan canting dan mewarnai kain. Sejak itu, ia total menekuni batik bersama istrinya. Selama sebulan mereka berdua menghasilkan 10 sampai 15 lembar kainbatik.

Tak sekadar bermotif ekonomi, lebih dari itu Arief mengaku memiliki kepuasan setelah merampungkan mewarnai kain batik. Demi kepuasan, seringkali Arief tak bisa menentukan harga setiap karyanya.

“Kalau saya, membatik itu kepuasan individu. Kalaupun ada harga itu bonus. Dari awal orientasinya memang bukan profit, tapi ternyata karena kesukaan itu bisa menjadikan lebih produktif,” terang Arief. Pria yang hobi melukis ini menegaskan kalau orang seumuran dia memang sudah seharusnya mengerjakan apa yang disukai.

Selain teknik pewarnaan remasol, menurut Arief ada banyak lagi teknik pewarnaan. Misalnya, pewarnaan menggunakan zat naphtol ataupun menggunakan idigosol. Teknik pewarnaan dengan zat warna napthol juga tergolong mudah. Ia menggabungkan dua komponen: napthol dan garam napthol. Kain dicelupkan ke dalam napthol sesuai kode warna yang diinginkan. Lalu, warna itu dibangkitkan dengan cara mencelupkan ke dalam garam napthol.

Sedang indigosol, pewarnaan dengan zat warna indigosol dengan campuran bahan-bahan kimia lainnya, natrium nitrit dan larutan asam. Warna baru akan kelihatan ketika proses fiksasi atau pembangkitan warna. Bisa dengan cara dijemur atau direbus. Kelebihannya, proses pewarnaan ini cukup mudah dan praktis. Selain itu juga tidak gampang luntur.

Tinggalkan Pesan