Melestarikan Seni Tradisi dan Reuni Keturunan Tumapel-Singhasari

melestarikan-seni-tradisi-dan-reuni-keturunan-tumapel-singhasari

Terakota.id–Tarian Sodoran Tumapel merupakan tarian perang, merupakan bagian dari kisah Panji Singhasari. Tumapel-Singhasari lahir dari peperangan, bertahan dengan peperangan, dan runtuh karena peperangan. Kesenian ini nyaris punah, untuk melestarikannya digelar Festival Sodoran Jaranan Dor di Candi Kidal pada 19-26 Juli 2018. Dilanjutkan Sendratari Panji Singhasari  pada September 2018.

Festival ini sekaligus sebagai ajang reuni keturunan Tumapel-Singhasari. Yakni keluarga besar selama delapan abad meliputi anak, cucu, cicit, canggah keturunan Tumapel-Singhasari yang tersebar se-Nusantara.

“Ngumpulke balung pisah. Sekaligus menjadi pengingat untuk kita atas rangkaian panjang sejarah Nusantara  yang membentuk nilai turun temurun membentuk karakter bangsa,” kata pengelola Rumah Budaya Singhasari, Sadhana Devi dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.

Sedangkan Sendratari Panji Singhasari mengangkat kisah Dinasti Wangsa Rajasa. Kisah ini belum pernah ditampilkan di panggung pertunjukkan. Sendratari berisi 12 lakon, lakon pertama digelar 23-25 September 2018, tepat di malam bulan purnama. Sendratari ini unik lantaran musik pengiri merupakan paduan rancak antara gamelan dan alat musik bambu. Sehingga dibutuhkan set gamelan khusus yang menghasilkan gending unik sebagai pengiringnya.

Kedua rangkaian acara ini, kata Sadhana, sebenarnya merupakan satu kesatuan tema yang tak terpisahkan. Keduanya  merupakan rintisan untuk menetapkan Desa Kidal sebagai Desa Wisata/ Desa Adat dengan mengangkat nilai-nilai kearifan lokal, melalui pagelaran kesenian tradisional di Candi Kidal.

Untuk itu, mengundang para pecinta seni tradisi untuk hadir menyaksikan, dan turut serta membantu donasi untuk rangkaian acara tersebut. Donasi sukarela bisa dikirimkan ke nomor rekening atas nama Sadhana Devu BCA 3310 426 368.“Donasi menjadi bukti nyata kita saling bahu membahu menjaga bersama harta budaya  Nusantara.”

Candi Kidal merupakan pelopor arsitektur langgam Jawa Timuran yang berbentuk ramping dan tinggi, melambangkan karakter ala Singhasari yang progresif, dinamis, dialektis dan egaliter namun tetap menjunjung tinggi olah cita dan olah rasa. Kidal adalah sebuah candi yang menjadi rujukan seni kuda lumping atau jaran kepang langgam Kidalan, sebuah kesenian yang lahir dari rahim kuasa jelata.

Kidal menjadi simbol persatuan nasional era Singhasari mengingat adanya unsur Waisnawa, Syiwa dan Buddha sekaligus dalam candi tersebut. Unsur Waisnawa diwakili oleh relief Garudeya, dimana Garuda merupakan wahana dari Sri Batara Wisnu.

Unsur Syiwa diwakili oleh lingga yoni dan figur Anusapati yang diarcakan sebagai Syiwa. Unsur Buddha tergambar dalam Negarakretagama pupuh 41 bait 1 yang menyebutkan bahwa Anusapati kembali ke Syiwabuddhaloka, yang dapat ditafsirkan bahwa Kidal juga mengayomi penganut ajaran Buddha.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini