Melawat Jejak Turki Ustmaniyah di Hungaria

Oleh : Maharani*

Terakota.id—Ramadan tak bisa dilepaskan dari aktivitas di masjid, saat mengunjungi sejumlah kota di Hongaria sangat sulit menemukan tempat suci untuk ibadah. Berbeda dengan di Indonesia yang begitu mudah menemukannya. Jangankan masjid, musala atau langgar ada di setiap sudut jalan atau gang pemukiman penduduk.

Perjalanan kali ini menuju kota Pecs. Pecs  merupakan kota terbesar ke lima di Hongaria. Terletak sekitar 200 kilometer arah barat daya, berdekatan dengan perbatasan Kroasia. Terletak di lereng pegunungan Mecsek. Kota ini merupakan pusat pemerintahan, ekonomi dan berkedudukannya Keuskupan Katolik Roma.

Di Pecs terdapat banyak tempat wisata. Meliputi alun-alun Szecheny yakni alun-alun utama yang terletak di pusat kota , alun-alun-alun Kossuth, masjid Pasha Qasim, Masdjid Jakovali Hassan Pasha, Idrisz Baba-Turbe, Balai Kota, Csonvary Museum, Pecs Art University, Balai Kabupaten, sumur Zsolnay, Gereja Fatebenefratelli, patung Tritunggal dan patung Janos Hunyadi.

Pada 2010, Pecs terpilih sebagai Ibukota Kebudayaan Eropa (UNESCO). Diantara tempat-tempat tersebut, penulis mencoba menelusuri  jejak masjid peninggalan kejayaan Utsmaniyah.

Pertama, Masjid Pasha Qasim terletak di alun-alun Szechenyi, dalam bahasa Hongaria disebut Belvarosi Gyertyaszentelo Boldogasszony-templom. Saat ini berubah fungsi menjadi gereja Candlemas Pusat Kota Perawan Maria yang diberkati. Yaitu sebuah gereja Katolik yang masih berfungsi sampai sekarang sebagai tempat ibadah.

Pada abad 16-17 saat masa penaklukan Turki Utsmaniah selama 150 tahun , masjid ini dibangun Pasha Qashim pada 1543 hingga 1546. Berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam berakhir sampai 1702. Saat pasukan Habsburg-Hongaria merebut kota Pecs dari Utsmaniyah.

Bangunan ini adalah bangunan bergaya Turki terbesar di Hongaria dan Eropa. Panjang 29 meter, lebar 16 meter, dan tinggi 23 meter. Sehingga  menjadi ikon kota Pecs.

Kedua, Masjid Jakovali Hasszan atau Jakovali Hassan Pasha Mosque and Museum terletak di Pecs, Rakoczi ut 2, 7624. Masjid ini cukup jauh dari pusat kota, diapit dua buah bangunan besar. Di halaman yang sempit terdapat patung  bertuliskan Ibrahim Pecsevi 1574-1650. Ibrahim merupakan seorang arsitek dan pencatat sejarah Kerajaan Oszman Tortenetiro dalam judul  A “Tarih-i Pecevi” pada abad 16-17.

Jakovali Hassan atau Jakovali Hassan Pasha Dzsamija adalah seorang tokoh pada masa Turki Utsmaniah (Raja Sulaiman) membangun masjid ini pada abad 16 pertengahan kedua. Seorang imam dari Kanizsai (kota perbatasan Hongaria-Kroasia) yang memiliki leluhur dikota Pecs. Kakek buyutnya bernama Memi Pasa memiliki pemandian (kolam) di dekat lokasi masjid Jakovali Hasszan Pasa.

Masjid Jakovali Hasszan Pasha, arsitektur bangunan bergaya Islam Turki.  Sampai sekarang  masjid ini masih dipakai dan difungsikan sebagai tempat ibadah (salat) bagi umat Islam di Kota Pecs. Berjumlah sekitar 3000 orang. Masjid ini juga dikomersialkan seperti Masjid Pasa Qasim (tiket masuk berbayar).

Masjid sempat mengalami renovasi beberapa kali yaitu pada 1702- 1732, 1956-1975 dan 2010 sesuai tata kota Pecs yang berlaku.

Ketiga, ditemukannya makam Idrisz Baba (Idrisz Baba-Turbeje) yang terletak di   Rokus-domb, Nyar u.6.  Pecs – 7624  bersebelahan dengan universitas Quinqueecclesiensis. Peninggalam pendudukan Turki Utsmaniyah di Hongaria ini juga didirikan abad 16-17 sebagai penghormatan atas jasa Idrisz Baba yang dianggap orang suci atau seorang sufi yang memiliki banyak pengikut.

Di halaman sekitar makam dipenuhi makam pengikutnya tanpa tanda apapun, hanya rumput dan bunga mawar sepanjang jalan masuk makamnya.

Bangunan makam pernah berubah fungsi pada saat berakhirnya kekuasaan Utsmaniyah. Terjadi renovasi atau perubahan letak pintu masuk memasuki makam. Orang-orang yang berziarah saja yang melakukan doa maupun salat di tempat ini, jadi tidak dipakai sebagai tempat ibadah umumnya.

 

 

 

*Pelukis dan traveler

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Pesan