Mbak Liem, Meramal Gus Sholah Menjadi Pengasuh Tebu Ireng

mbak-liem-meramal-gus-sholah-menjadi-pengasuh-tebu-ireng
Gus Sholah berziarah di makam Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari. (Foto : Ahmad Faozan).

Oleh : Ahmad Faozan*

Terakota.id“Saat ibumu melahirkanmu, engkau menangis, sementara orang-orang yang berada di sekelilingmu menyambutmu dengan tawa gembira. Berjuanglah, hingga saat mautmu tiba, mereka manangis, sementara engkau tertawa ria.” Syair Hikmah, kesukaan KH. Abdul Wahid Hasyim.

Gus Sholah memang bukanlah seorang yang bertahun-tahun belajar kepada kiai di Pesantren layaknya seorang santri pada umumnya. Syarat umum untuk menjadi kiai pesantren, ya minimal dia pernah berguru kepada para kiai di sejumlah pesantren. Mondok-nya bertahun-tahun.

Ngajinya dari kitab terkecil sampai yang dianggap gede-gede. Ngajinya dari pesantren A ke pesantren B dan seterusnya. Kenapa? Setiap pesantren biasanya memiliki kiai dengan spesialisasi tertentu. Meskipun terkadang juga ada pengulangan dalam belajar. Sesuai sistem yang berlaku dan kemauan sang kiai.

Kalau zaman dahulu, untuk menjadi kiai yang berpengaruh juga harus melengkapi pengembaraan ilmiahnya dengan ibadah haji. Serta belajar kepada para ulama besar dari Tanah Suci, Makkah dan Madinah meskipun itu hanya sebentar. Meski demikian, juga ditemukan kiai tersohor yang hanya belajarnya di dalam negeri saja, dia dapat berhasil. Dan ini pemahaman lama yang masih sangat familiar. Gus Sholah tampaknya sadar betul dengan kondisi ini.

Gus Sholah faktanya memang putra kiai ternama, KH. Abdul Wahid Hasyim dan Nyai Solichah. Dari jalur ayahnya tersambung ke Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, dan seterusnya. Sedangkan dari jalur ibunya tersambung ke KH. Bisri Syansuri, dan seterusnya.

Gus Sholah hidup di Jakarta, kota metropolitan. Meskipun demikian beliau dibekali pendidikan agama layaknya seorang santri. Serta diajar oleh santri senior Tebuireng yang dikemudian hari menetap di Jakarta.

Seakan-akan beliau dididik oleh orangtua dan kakeknya juga untuk menjadi santri pada umumnya. Mereka jelasnya mendidik Gus Sholah untuk tetap mengikuti dan untuk menjadi santri pada umumnya. Tapi ya jelas, dia santri yang metropolis. Ngajar ala guru santri juga mestinya lahir batin.

Dengan mengajari Gus Sholah para gurunya tentu berharap, minimal bekal materi pendidikan di pesantren dapat membekas pada dirinya. Bahkan, bisa jadi lebih beda, cara mengajarnya karena muridnya khusus. Ya, bagaimanapun Gus Sholah adalah putra kiai. Ngajari putra kiai bukan sembarangan atau asal-asalan. Dimulai sejak menerima kemauan mengajar, perlu noto niat (menata niat).

Hadratussyaikh dalam kitabnya Adabul Alim ngendikan, “guru harus mengarahkan perhatiannya pada sesuatu yang bisa berguna dalam lingkup yang luas dan banyak dibutuhkan.”

Para putra kiai terkadang dalam banyak cerita kaum santri, saat masa kecil atau masa dewasanya ndablek tapi ia pintar dan kelak di masa tuanya jadi orang alim. Mujurnya putra kiai salah satunya masih dapat kiriman doa dari para santri bapak dan mbahnya.

Misalnya, para santri berdoa khusus setelah salat buat kiai dan keluarganya, baik yang masih hidup maupun sudah wafat. Semoga pak kiai, bu nyai, putra-putri dan keluarga besarnya diberikan tempat terbaik panjang umur, sehat, putra-putrinya menjadi orang bermanfaat dalam hidupnya. Serta kita dapat mengikuti jejaknya dan diakui santrinya meskipun kita ndablek jadi santrimu, yai.

Syair Hikmah yang disukai KH. Abd. Wahid Hasyim menemukan maknanya yang amat dalam. Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan, semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur….

Abdul Wahid Hasyim dikenal luas sebagai guru bangsa, ahli politik, ahli berorganisasi, ahli tirakat, ahli pendidikan, dan lain lain. Kiai Wahid sangat tahu cara mendidik putra-putrinya, santri-santrinya, kader-kadernya supaya menjadi apa saja, utamanya menjadi orang yang bermanfaat bagi agama dan bangsa. Cara menemukan dan mengkader orang-orang yang dikemudian hari menjadi orang hebat sudah dibuktikan, KH. Abdul Wahid Hasyim.

Sejak kecil Gus Sholah mendapat bekal pendidikan agama langsung dari ayahnya, KH. Wahid Hasyim dan Nyai Solichah. Selepas ayahnya wafat, kakeknya, KH. Bisri Syansuri yang bertugas mengajari langsung Gus Sholah. Beliau sering datang ke Jakarta untuk mendidik cucunya itu.

Bisri Syansuri seorang ulama besar yang dikenal ahli fikih, pendiri Pesantren Denanyar yang juga merupakan santri Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Selain KH. Bisri Syansuri ada ustad Muhammad Fauzi dan Ustad Abdul Ghoffar yang mengajari ngaji Gus Sholah. Keduanya merupakan alumni Pesantren Tebuireng yang tinggal di Jakarta.

Dari kedua orangtuanya, kakeknya, dan alumni Pesantren Tebuireng di atas, Gus Sholah diajari ngaji soal Al Qur’an, Fikih, Nahwu, Shorof, dan Tarikh. Pada masa liburan sekolah utamanya di bulan Ramadhan, Gus Sholah juga sering pulang ke rumah kakeknya di Pesantren Denanyar, Jombang.

mbak-liem-meramal-gus-sholah-menjadi-pengasuh-tebu-ireng
Gus Sholah bersama para santri Pondok Pesantren Tebuireng. (Foto : Ahmad Faozan).

Beliau ikut mengaji, pengajian kilatan. Itu tidak sekali namun beberapa kali ikut ngaji kilatan di bulan Ramadhan. Gus Sholah ditemani adiknya, Gus Umar Wahid, yang dokter itu saat ikut ngaji kilatan di Pesantren Denanyar, Jombang, tempat kakeknya mengajar dan membina santri-santrinya.

Gus Sholah lebih terlihat belajar secara formal dari bangku dasar hingga perguruan tinggi. Gus Sholah muda selain pernah juara lomba menyanyi dibangku SMP juga jago dalam ilmu Matematika, itu ilmu yang paling dicintainya. Bahkan, bagi sebagian orang ini pelajaran menjenuhkan, membosankan, dan sungguh sulit.

Meskipun pernah tidak naik kelas karena mengikuti kegiatan ‘Jambore di Filipina’ di luar negeri beliau berhasil membuktikan dirinya sebagai pelajar yang berprestasi. Saat lulus SMA pada 1962 terbaik di sekolahnya, sangat memuaskan. Kemudian melanjutkan kuliah jurusan Teknik Arsitektur di Institut Teknologi Bandung.

Kuliahnya sempat terhenti lama. Gus Sholah pernah aktif di Senat Mahasiswa. Juga aktif di Wanadri, perhimpunan pendaki Gunung. Pada 1977 kembali kuliah, sempat menikah lebih dulu dan baru menyelesaikan kuliah pada 1979.

Gus Sholah juga sempat merasa kurang puas dengan kuliah di jurusan yang telah dipilihnya. Menurutnya lebih tepat kuliah di jurusan Ilmu Hukum dan Ekonomi. Bahkan, pernah ingin pindah jurusan Jurusan Planologi tetapi tidak mendapatkan restu dari pembimbingnya, Profesor Soewondo.

Pengalaman kerja pertamanya menjadi panitia Teknik yang mengelola sarana prasarana pada Djakarta Fair pada 1968. Pada 1970 bersama dua temannya dan kakak iparnya, Hamid Baidlowi mendirikan perusahaan Kontraktor bertahan hingga 1977. Gus Sholah Kemudian bergabung dengan Biro Konsultan PT. MIRAZH.

Gus Sholah juga aktif pada 1986 di Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO). Pada 1990 Gus Sholah menjadi Ketua DPD INKINDO DKI Jakarta, aktif di KADIN Indonesia dan pernah menjadi ketua Departemen Konsultasi Manajemen Indonesia pada 1995. Serta malang melintang di banyak organisasi lainnya.

Gus Sholah yang telah malang melintang dalam dunia yang sangat berbeda bagi kebanyakan kaum sarungan. Meskipun demikian, takdir mengatakan lain, di pesantren menjadi tujuan terakhirnya.

Dengan segala ilmu, pengalaman kerja dan berorganisasinya, jejaringnya dikerahkan semua untuk membangun kejayaan Pesantren Tebuireng di era kontemporer. Terkadang mereka yang tidak utuh membaca atau ikut-ikutan atau yang bagian iya saja, hanya bisa geleng-geleng kepala. Ada saja ide dan gerakan pak kiai.

Gus Sholah, yang pergaulannya lintas batas, pengalamannya banyak, dan kemaunnya kuat tentunya, waooo sekali..kita santrinya sami’na wa ato’na. Boleh usul, mengkritik, dan lainnya. Dan memang Gus Sholah terbuka, dan mau mendengar. Tapi opo yo wani, kita-kita anak baru lahir mengkritik asal-asalan di depan Gus Sholah?

Kalau mau berpendapat, lengkapi datamu, tulis usulanmu, kita diskusikan. Kalau kiai berucap begitu, baru memberanikan diri. Ojo koq, asal bapak senang, asal kritik, asal ngomong ini itu, tanpa tabayun dulu jian pancen kita ndak diajari beliau ngawur. Tapi tertib.

Menjadi Kiai Karena Amanah Keluarga

Alkisah, “saat KH. M. Yusuf Hasyim paman saya hidup, medio Februari 2006, saya pernah dipanggil ke Tebuireng. Saya diminta untuk menjadi penggantinya. Sebab beliau sudah udzur secara usia dan ingin mengundurkan diri. Saat itu saya sedang sibuk di Jakarta.

Beliau memiliki intuisi bahwa saya akan dapat sukses memimpin Pesantren Tebuireng, karena saya dinilai memiliki tingkat kematangan emosi. Ketika diadakan musyawarah keluarga Bani Hasyim Asy’ari terkait suksesi kepemimpinan Pesantren Tebuireng semua sepakat memilih saya.

Rapat berlangsung sekitar tanggal 12 April 2006. Semua ini adalah amanah keluarga, amanah umat, dan dari Allah untuk saya, sehingga saya menerima dipilih sebagai pengasuh Tebuireng, lembaga yang didirikan oleh kakek saya, Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.”

Dalam sebuah keterangan lain dijelaskan, bahwa saat itu Gus Sholah sudah diberikan amanah menjadi Duta Besar oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Gus Sholah pun lebih memilih kembali ke Tebuireng karena keluarga memanggil. Itulah salah satu cerita, kenapa Gus Sholah bersedia menjadi pengasuh Tebuireng. Tentu saja sudah melalui pertimbangan yang matang, restu istri dan putra-putrinya.

Ramalan Mbah Liem

Jauh sebelum Gus Sholah akan menerima amanah memimpin Tebuireng, sudah pernah diprediksi oleh KH. Muslim Rivai Imampuro atau akrab dipanggil Mbah Liem. Seorang tokoh yang dianggap memiliki linuwih dari Klaten. Beliau juga sangat dekat dengan kakaknya, Gus Dur.

“Saya mempunyai pengalaman yang cukup menarik dalam kaitannya sikap percaya Gus Dur terhadap para kiai yang dianggap memiliki ilmu laduni. Alkisah, pada tahun 1987, Gus Dur mengajak Mbah Liem untuk berkunjung ke rumah saya. Kebetulan saya belum pulang dan waktu itu belum dikenal adanya ponsel.

Maka keduanya menunggu kedatangan saya cukup lama. Setelah saya datang dan mengobrol secara santai, Mbah Liem menyampaikan maksud kedatangannya. Dia menanyakan kepada saya, apakah saya bersedia menjadi seorang kiai?

Saya jawab saya tidak mempunyai kemampuan untuk itu dan karena saya belum berpikir untuk menjadi seorang kiai. Selanjutnya Mbah Liem menyatakan bahwa dia memperoleh wisik bahwa saya akan menjadi kiai di Tebuireng untuk menggantikan KH. M. Yusuf Hasyim.

Secara akal sehat saya kurang percaya apa yang dikemukakan oleh Mbah Liem. Dari mana jalannya saya akan menjadi kiai Tebuireng. Kepada Mbah Liem saya menjawab apapaun kalau memang Allah SWT menghendaki, maka apapun bisa terjadi. Saya tidak mengganggap serius perkataan Mbah Liem dan terbukti kini 12 tahun kemudian Pak Ud masih tetap menjadi Kiai Tebuireng.

Tetapi saya juga tidak beranggapan bahwa ngalamat dari Mbah Liem itu tidak mungkin terjadi. Mula-mula saya khawatir KH. M. Yusuf Hasyim mendengar berita itu dan mempunyai anggapan bahwa saya memang mempunyai minat untuk menjadi kiai Tebuireng. Tetapi kekhawatiran itu segera hilang karena tentunya Kiai Yusuf Hasyim mempunyai akal yang sangat sehat untuk bisa menepis kekhawatiran semacam itu.”

Ya, Gus Sholah memang menjadi Pengganti KH. M. Yusuf Hasyim dikemudian hari. Entah karena panggilan keluarga maupun petunjuk langit. Kuasa Allah yang jelas. Dalam hal ini, kita juga tidak lupa. Di balik kebesaran orang ada doa terbaik dari orang tua dan simbah-simbah kita.

Menjelma Menjadi Kiai Sejati

Dalam hal ini, Syair Hikmah yang disukai KH. Abdul Wahid Hasyim menemukan makna yang amat dalam. “Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan, semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur.”

Memang sulit dipercaya oleh pikiran rasional. Apalagi oleh kita sebagai orang awam. Seorang insinyur kok jadi Kiai, disuruh ndandani Pesantren. Tak tangung-tanggung Pesantren Tebuireng pula. Meskipun awalnya Gus Sholah sangat rasional dan tidak punya mimpi menjadi kiai sekalipun. Bila Allah sudah berkehendak, mau apa?

Gus Sholah sebagai insinyur memulainya dengan sangat tepat. “Saya sebagai seorang yang berlatarbelakang insinyur dan pengusaha, mendapat tugas menjadi pengasuh Pesantren merupakan hal baru. Hal yang saya lakukan adalah mendiagnosis penyakit, dan memberikan ‘dosis.’ Layaknya sebuah perusahaan yang harus menyembuhkan dan membangkitkan usaha yang tidak maju, dicarikan solusi dan alternatif terapisnya.

Kemudian dikembangkan paradigma baru kepada semua member dan stake holder tentang makna keunggulan pesantren. Selanjutnya saya desain sendiri bangunan pesantren modern yang nantinya akan meninggalkan kesan bahwa pesantren identik dengan kekumuhan, sebaliknya Pesantren Tebuireng baru menjadi Modern Of Islamic Boarding School. Setidak-tidaknya dengan latarbelakang pendidikan saya yang insinyur ini, saya bermimpi dululah, baru nanti dicarikan sumber dananya.

Tak lupa pula Gus Sholah juga belajar kepada para pendahulunya. Mana yang perlu diperbaiki dan mana yang harus ditambahkan. Bahkan, tak canggung beliau sering meminta saran kepada santri Hadratusssyaikh seperti, Kiai Muchit Muzadi, Santri Kiai Idris Kamali, Prof. Dr. Tolchah Hasan, dll.

Serta kepada para pengasuh pesantren baik yang ada di Jombang maupun tetangga sebelah yang sudah maju, atau kepada mereka para kiai yang tokoh pendahulunya pernah menyantri di Pesantren Tebuireng dan kini lebih besar dan lebih maju dari Tebuireng.

Berkah pengalaman panjang di luar Tebuireng, Gus Sholah ikut membantunya, ya pengalaman adalah guru terbaik. Soal infrastruktur Pesantren Tebuireng, kebersihan, aneka diklat pembina, guru, karyawan, dilakukan.

Ternyata ini baru pengantar dari Gus Sholah. Mimpi-mimpi besar setelah infrastrukur selesai soal SDM, Manajemen, mengkader ulama, dll. Gus Sholah sudah memberikan pengantar dan memberikan landasan supaya generasi berikutnya yang meneruskan, lancar dan sesuai harapan.

Semangat Gus Sholah masih tinggi soal perjuangan dalam membangun pesantrennya, NU nya, bangsanya, santrinya, keluarganya, dll. Namun, Allah yang menentukan. Sudah dicukupkan Allah untuk berhenti di tahun ini. Suka tidak suka. Kini giliran penerusnya kelak yang akan melanjutkan. Manusia berencana Allah yang punya Kuasa.

Kisah ini mengingatkan kita akan sebuah syair yang dikutip KH. Karim Hasyim,” Sebaik-baik mereka adalah orang yang berketurunan darah bangsawan, akan tetapi ia sanggup dan kuasa membangun dan mewujudkan kemuliaan dan keagungan baru (dengan bekas tangan dan kakinya sendiri, di atas reruntuhan riwayat kemegahan nenek moyangnya).”

*Pustaka Tebuireng

 Sumber :

  1. Mubarok Yasin, Atunk, dll, Profil Pesantren Tebuireng, Pustaka Tebuireng, 2010.
  2. Salahuddin Wahid, Transformasi Pesantren Tebuireng Menjaga Tradisi di Tengah Tantangan, Uin Maliki Malang Prees, 2011
  3. Ali Yahya, Gus Dur di Mata adik-adiknya, Pustaka Tebuireng, 2010
  4. Ahmad Suedy dan Ulil Abshar Abdalla, ed. Gila Gus Dur Wacana Pembaca Abdurrahman Wahid, Lkis, 2010.
  5. Imron Arifin dan Muhammad Slamet, Kepemimpinan Kyai Dalam Perubahan Manajemen Pondok Pesantren Tebuireng Kasus Ponpes Tebuireng Jombang, Aditya Media, 2010.
  6. Akarkhanaf, Bapak Umat Islam Indonesia, Pustaka Tebuireng, 2018
  7. Tim Dosen Mahad Aly, terjemah Adabul Alim, Pustaka Tebuireng, 2017
  8. Syair Hikmah KH. Abd. Wahid Hasyim, NU online.

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini