Matematika, Sastra dan Korona

'Take my word for it. The answer is two. I'm a college graduate.'

Oleh : Wahyu Kris A.W.*

Terakota.id–Sastra mengajari kita mengolah rasa. Matematika mengajari kita mengasah rasio. Itulah mengapa rebahan  #DiRumahAja di tengah pandemi korona tak akan sisa-sia apabila kita membaca sastra sembari menekuri matematika.

Sastra dan matematika kerap diletakkan di dua kutub berbeda. Keduanya seolah bertolak belakang. Padahal, keduanya senantiasa berjalan beriringan seperti dua garis paralel. Sastra membutuhkan matematika agar olah rasa tetap berjalan dalam koridor akal sehat. Matematika membutuhkan sastra agar tak kehilangan hakikatnya sebagai pemecah masalah.

Ada beberapa karya sastra beraroma matematika yang layak kita cecap sembari berkarya #DiRumahAja. Mulai dari cerpen Edgar Allan Poe hingga novel Andrea Hirata.

Poe pernah membuat pembaca tercenung dengan cerpen Kumbang Emas. Sebagian paragrafnya berlumur simbol dan angka. Namun, berkat kejeliannya, Poe berhasil menyelamatkan pembaca dari kekakuan alur cerita. Ia menjadikan cerpen yang terbit pada tahun 1843 itu mengalir lancar meski  mengandung paparan matematika.

Poe memaparkan matematika melalui tokoh Legrant dan ‘aku’. Mereka berdua berjibaku mengartikan konsep ukur-ruang matematika demi sepeti harta karun. Mereka menaiki pohon dan memasukkan tangan ke lubang mata tengkorak. Cerita berakhir bahagia. Cara berpikir matematis membawa mereka pada peti penuh koin emas dan batu mulia berhasil mereka temukan.

Aroma matematika di ladang sastra terasa lebih kental pada novel Buku Panduan Matematika Terapan. Karya Triskaidekaman ini berisi pilinan kisah Mantisa dan Tari. Mantisa tinggal di asrama yang diasuh Tari penyuka dusta. Mantisa tipe gadis banyak akal dan suka bertanya. Ia piawai menghitung butir rinai hujan dengan tepat. Imajinasi tanpa batas yang dimiliki Mantisa membuat Tari kerap pening kepala.

Ilustrasi : Gramedia

Paparan matematika dalam novel ini bisa dikatakan sangat jujur. Konsep matematika digunakan untuk menegaskan narasi. Misal, ada x = 1 sebagai penegasan hakikat Tuhan yang Maha Satu.  Ada pula konsep diagram irisan himpunan untuk menguatkan pesan gemar berbagi.

Karya-karya Andrea Hirata pun tak luput dari paparan matematika. Terlebih novel terbaru Guru Aini yang melukiskan jatuh bangun seorang guru mengenalkan matematika di wilayah terluar Sumatera.

Cerita Guru Aini berawal dari guru muda bernama Bu Desi. Ia sangat idealis sekaligus eksentrik. Demi matematika Bu Desi bersumpah tak akan mengganti sepatunya sebelum menemukan murid jenius di kampung pelosok. Ia tahu hal itu tak mudah. Ia harus berhadapan dengan  kemiskinan dan kepercayaan diri yang rendah. Ini lebih pelik dari persoalan matematika.

Setelah bertahun-tahun mengajar, Bu Desi berjumpa dengan murid bebal matematika bernama Aini. Namun, di mata Bu Desi, Aini sangatlah istimewa. Ia terpesona dua hal yang melekat pada Aini: kejujuran dan keberanian bermimpi. Meski selalu mendapat nilai terjelek di kelas, Aini tak pernah sekalipun nyontek. Aini punya mimpi mulia yaitu menjadi dokter agar bisa mengobati ayahnya yang sakit.

Selain mengajak pembaca mengenang guru matematika, novel Andrea Hirata ini juga membongkar kenyamanan berpikir. Salah besar apabila kita meyakini matematika hanya milik mereka yang berbakat sejak lahir. Dosa besar apabila kita menganggap mimpi tak punya kekuatan. Bu Desi dan Aini membuktikan matematika bukanlah kumpulan rumus semata melainkan himpunan harapan, keberanian, dan kejujuran.

Ketiga prosa di atas bisa menjadi herbal bagi penderita alergi matematika. Prosa memiliki kelenturan mengemas persamaan matematika menjadi bahasa sastra yang lebih mudah dicerna. Prosa menjadi tabung erlenmeyer dimana matematika menjadi katalis dalam metamorfosa pemikiran manusia dari konstruksi abstrak menjadi konstruksi praktis. Yang semula sulit tersentuh rasio, kini mudah tersentuh rasa. Yang dulu hanya bisa diangankan, sekarang bisa dituliskan.

Matematika sarat simbol, sastra bertabur lambang. Sinergi keduanya menawarkan wadah olah rasa sekaligus asah rasio. Pilinan matematika dengan sastra tak hanya melahirkan karya sastra tapi juga karya matematika. Karya-karya Umar Khayyam dan Mirzakhani adalah secuil contohnya.

Umar Khayyam (1048 – 1131) dikenal dunia sebagai penyair. Karya antologinya Rubaiyat  tersusun atas seribuan syair berbahasa Persia.  Namun, ia juga melahirkan  buku aljabar Treatise on Demonstration of Problems of Algebra. Kritik terhadap postulat-postulat Euclid ia tuangkan dalam kitab Sharh ma ashkala min musadarat kitab Uqlidis.

Umar Khayyam bersama ilmuwan lain berhasil mengonversi satu tahun dengan 365,24219858156 hari. Dia juga merumuskan metode penyelesaian persamaan kubik berbekal irisan lingkaran dan parabola.

Di Iran, ada Maryam Mirzakhani, perempuan pertama dunia peraih penghargaan Fields Medal yang dikenal sebagai Nobel Matematika. Mirzakhani menyumbang gagasan besar pada  geometri dan sistem dinamika kompleks. Ia lebih mudah menemukan teori matematika ketika mengimajinasikan angka dalam topologi geometri sebagai karakter cerita.

Perjumpaannya dengan novel biografi Vincent van Gogh karya Irving Stone berjudul Lust For Life semakin mendekatkannya dengan matematika. Mirzakhani jadi suka membuat coretan-coretan pada lembaran kertas seperti pelukis membuat sketsa. Ia membuktikan kekuatan habitus. Kebiasaan membuat coretan itu melipatgandakan fokus ketika ia menghubungkan gagasan-gagasan menjadi sistem persamaan matematika.

Mirzakhani meneropong penelitian matematika serupa petualangan menulis novel. Selalu ada karakter yang saling berbeda. Semua saling mempengaruhi. Sejak kecil Mirzakhani memang bermimpi menjadi penulis, bukan matematikawan. Ia lebih suka membaca buku fiksi daripada menyelesaikan PR matematika. Mirzakhani meninggal di usia 40 tahun pada 2017 sebagai jenius matematika berbalut kepekaan sastrawi.

Begitulah semestinya sastra dan matematika saling berpilin. Rasa-sastra menjadikan rasio-matematika tidak lupa bahwa kita adalah manusia yang harus saling menolong. Rasio-matematika menjadikan rasa-sastra tetap memperhatikan keselamatan bersama ketika menolong orang lain.

Hari ini, pandemi korona nyaris meluluhlantakkan sistem sosial. Kita lupa bagaimana menggunakan rasio. Kita lebih sering menyebarkan kabar-kabar pemutus asa ketimbang penyala harapan. Kita kehabisan cara mengolah rasa. Kita lebih mementingkan keinginan personal dibandingkan kebutuhan  komunal.

Semoga,  membaca sastra dan menekuri matematika sembari rebahan #DiRumahAja melipatgandakan rasa dan rasio kita. Itulah imunitas paling tangguh menghadapi serbuan korona.

*Penulis adalah Kepala SMPK Pamerdi Kabupaten Malang dan penulis buku Mendidik Generasi Z dan A (2018)

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini