Matahari, Sang Penari dan Mata-Mata Legendaris

Oleh : Maharani*

Terakota.id–Musim salju turun, tubuh menggigil saat perjalanan darat menuju Netherlands pada  Februari 2018. Perjalanan panjang berawal dari kota Luxemburg – Austria menuju tujuan utama kota Leeuwarden, sebuah kota di Belanda Utara sekitar 400 kilometer dari Luxemburg atau 400 kilometer dari Amsterdam. Keinginan kuat untuk merekam sejarah sehingga menembus dingin dan lelah dengan perjalanan panjang antar Negara di Eropa.

Bermodalkan selembar peta dan global positioning system (GPS), saya bertekad harus sampai Leeuwarden. Melihat langsung dan mengunjungi Fries Muzeum, menjadi impian sejak lama. Penasaran dan perasaan emosional yang berlebihan atas sosok Matahari, sang penari legendaris. Perempuan bernama asli Margaretha Geertruida Zelle, pernah tinggal di Malang.

Museum Fries terletak di kota asal Matahari. Banyak penulis terkenal mengisahkan cerita hidup Matahari. Mulai penelitian, misteri kehidupan dan kariernya yang terkenal sebagai mata-mata legendaris dalam sejarah abad 20.

Sesampai di kota Leeuwarden, bertemu penduduknya yang cukup ramah. Memberikan perunjuk dan arah saat ditanya alamat,  sehingga mempermudah saya menemukan letak museum. Fries Muzeum berada di tengah pusat keramaian dengan halaman luas.

Sebuah bangunan modern tiga lantai. Menunjukkan keseriusan dalam memberi penghargaan yang tinggi terhadap sejarah dan karya seni. Semua ruangan di gedung ini seluruhnya bercerita tentang Matahari. Luar biasa.

Tak terasa saya menghabiskan waktu di dalam  museum lebih dari lima  jam.  Menikmati segala bentuk penyajian dan permanen display perjalanan hidup Matahari. Mulai kisah Matahari lahir, masa kanak-kanan, masa remaja, menikah, dan saat eksekusi meninggalnya pada  15 Oktober 1917.

Bagian luar museum sedang dipamerkan karya lukis anak-anak sekolah dan cindera mata tentang Matahari. Juga persiapan konser musik dan fashion show. Sedangkan di dalam gedung, Matahari Room tampak  buku harian pribadi dan koleksi kartu pos yang dikirim Matahari kepada ibunya.

Berjejer koleksi Matahari mulai patung syiwa, wayang kulit, berbagai foto keluarga, hasil kerajinan menyulam, kostum menari, dengan video high tech  yang menampilkan Matahari sedang menari dan segala cerita serta seluruh kehidupannya.  Di ruangan itu sedang ada latihan perfoming art kolaborasi musik dan tari. Seperti dulu, saat Matahari menarikannya.

Mengapa Matahari menjadi tokoh yang dikagumi sampai saat ini, tentu banyak hal luar biasa yang sudah dilakukannya. Matahari sebagai penari erotis, yang membawa dirinya ke pergaulan elite kelas atas di Eropa sampai akhirnya mengantarkan nasibnya ke depan regu tembak. Lantaram dicurigai sebagai mata-mata dan lain sebagainya.  Matahari atau nama kecilnya Margaretha Zelle tetap misteri.

Saat berusia 18 tahun menikah dengan Kapten Rudolf MacLeod pada 11 Juli 1895. Mengikuti suami yang ditugaskan ke Indonesia. Pasangan tersebut tinggal di Malang, Jawa Timur dan dikaruniai dua anak, Norman-John dan Louise Jeanne.

Mereka pernah tinggal di markas Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) di Lawang. Sekarang menjadi markas Detasemen Polisi Militer (POM). Selain di Lawang, Matahari juga pernah tinggal di Tumpang selama kurang lebih empat tahun, lebih tepatnya hingga tahun 1902.

Selama itu Matahari rajin mengamati masyarakat setempat yang tengah belajar menari topeng Malang di sekitar candi Jago. Nalurinya sebagai seorang penari menginspirasi untuk mengombinasikan tarian Jawa dengan tarian balet modern yang lebih dahulu dikuasainya.

Tarian kombinasi tersebut akhirnya menjadi karya andalan yang dibawakannya dalam setiap pertunjukan. Ternyata, bukan hanya tarian yang memikat hatinya. Matahari juga memadukan kostum dengan kultur Jawa.

Ia mengadopsi busana serta aksesoris khas Jawa yang ditemuinya di Malang.  Mulai dari mengombinasikan kostum balet ala Eropa-nya dengan selendang. Sehingga kostum tersebut akhirnya menjadi ciri khasnya.

Salah satu ciri khas dalam setiap pertunjukannya itu adalah kain panjang, sampur (selendang), klat bahu di lengan, dan jamang (kepala) seperti yang digunakan para penari wayang orang dan tari topeng Malang.

Ketertarikan Matahari terhadap kostum yang dipadukan dalam karyanya menjadi fokus perhatian saya. Mengingat saat itu Bupati Malang Bagoes Muhammad Syarif atau disebut Adipati Soerjo Adiningrat yang berkuasa 1898-1934 juga sangat memperhatikan kesenian tari topeng Malang, bersama mbah Reni.

Pertanyaan besar buat saya apakah Matahari belajar tari kepada beliau? Sampai saat ini saya belum menemukan data tertulis. Hanya penjelasan bahwa Matahari pernah belajar menari dan tinggal di Tumpang, Kabupaten Malang. Kemudian kembali ke Eropa pada 1905.

Setelah kunjungan di Fries museum, saya mengabadikan patung Matahari dalam sebuah foto. Lokasinya terletak tidak jauh dari Museum yaitu di Kelders 33, Leeuwarden-Netherlands.

 

Maharani, Juni 2018

*Pelukis dan traveler

Surel : dwirachmatikamaharani@gmail.com
FB : Maharani Art
IG : Pavilionsix

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Balasan