Mata Air Inspirasi dari Desa Cowek

Terakota.id—Dulu ditentang, sekarang didukung. Jika Sugiarto tunduk dan menyerah ketika warga melabrak rumahnya dulu, desanya mungkin masih gersang dan miskin sumber mata air. Tapi ia pantang mundur. Aksi penghijauan tetap ia lakukan dengan tekun dan teguh hati, dan kini Sugiarto bersama seluruh warga desa sudah memetik hasilnya.

Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, tempat ia tinggal, kini menjadi hijau dengan sumber mata air yang berlimpah. Sugiarto memulainya dengan langkah kecil pada 1993, ketika tamat dari Sekolah Menengah Atas PGRI Purwodadi. Dia membuat kebun pembibitan tanaman keras, seperti mahoni, sengon, tanjung, flamboyan, dan trembesi, di halaman rumahnya.

Ia terpacu memilih langkah itu karena melihat warga kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka harus berjalan dua kilometer untuk mengambil air bersih dari mata air. Membuat sumur sendiri hampir tak mungkin karena butuh kedalaman sampai 100 meter.

“Padahal masalah utamanya adalah sumber airnya memang kecil,” katanya. Berbekal bibit yang disemainya, ia mulai menanami lahan yang gersang. Sugiarto mengajak masyarakat menghijaukan lahan kosong dan kawasan mata air di Dusun Krajan, Barong, Selowinangun, dan Sempuh di Desa Cowek.

Tetapi jalannya tak selalu mulus. Bibit yang ia tanam sering dirusak. Atau, lahan yang sedang dihijaukan ditanami palawija oleh warga. Sugiarto malah sempat dilabrak warga yang tidak senang. Tetapi ayah dua anak ini tak menyerah.

Selama 23 tahun ini Sugiarto sudah menebar ribuan bibit tanaman keras yang menghijaukan 21 mata air yang jadi sumber air bagi 14 anak sungai dan Kali Welang yang membelah Pasuruan. Bersama Kader Lingkungan Hidup, organisasi yang dibentuknya pada 2008, dia berhasil menghijaukan 86,5 hektare hutan di sekitar mata air.

Seiring dengan debit air yang menderas, mulai mengalir pula dukungan warga sekitar. Sugiarto terus melaju. Ia menggagas upaya mengalirkan air bersih itu ke rumah warga melalui pipa. Pemipaan tersebut telah menyambung sepanjang 23,5 kilometer untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi 1.209 keluarga di Desa Cowek.

Berlimpahnya pasokan air akhirnya berdampak pada ekonomi warga. Peternakan sapi perah mulai menggeliat. Tanah yang sebelumnya hanya cocok untuk tanaman semusim, mulai ditanami sawah. Kebun pembibitan Sugiarto juga bertambah luas.

Dia juga berhasil membina warga untuk membuka usaha serupa. Sunari, pegawai Perum Perhutani, adalah salah satu kader yang berhasil merintis kebun pembibitan. Lalu, ada Fendi Tristianto, 19 tahun, yang memilih berhenti mabuk-mabukan dan terlibat dalam penghijauan. Carito, 38 tahun, mantan narapidana, juga mengikuti jalan serupa.

Dan, Sugiarto-lah yang menjadi inspirasi mereka. Untuk semua pengabdian itu, Sugiarto diganjar Kalpataru untuk kategori perintis lingkungan 2011. Kalpataru diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengapreasiasi pengabdian Sugiarto di bidang lingkungan.

Tinggalkan Balasan