Belajar Lambat Menuju Masyarakat 5.0

McDonaldisasi pendidikan juga disebabkan oleh “keinginan mengungguli” yang destruktif. Stefan Collini dalam bukunya bertajuk What Are The Universities For? (2012) mengatakan bahwa kecenderungan sekolah menaikkan standardnya ialah karena ingin dilabeli sebagai sekolah unggul, sekolah terdepan, atau sekolah termaju. Persaingan ini semakin lama semakin tidak sehat. Karena mengabaikan sisi dasar pendidikan, yaitu memanusiakan manusia.

Terakota.id Masyarakat 5.0 (smart society) merupakan masyarakat yang dicita-citakan Jepang pada kisaran tahun 2030. Jepang mulai memprakarsai masyarakat 5.0 sejak tahun 2016. Saat masyarakat global masih sibuk dengan era 4.0, Jepang sudah mulai mencetuskan ide baru, masyarakat 5.0. Perdana menteri Jepang Shinzo Abe menyampaikan bahwa Jepang akan melakukan transformasi dalam pendidikan untuk mewujudkan masyarakat 5.0.

Sektor pertama yang perlu dijadikan fokus adalah pendidikan. Karena pendidikan merupakan garda terdepan membentuk kesadaran masyarakat. Wacana yang dilakukan oleh Jepang ini sedikit banyak juga mempengaruhi sistem pendidikan secara global.

Lantas, perlukah sistem pendidikan kita ikut tergopoh-gopoh dalam memenuhi tuntutan zaman?

Pendidikan yang serba cepat dan terkesan terburu-buru perlu dipertanyakan efektivitasnya. Guru datang ke kelas dengan tergopoh-gopoh, kuantitas materi semakin banyak diserap siswa, hinga jam belajar siswa di kelas semakin lama semakin memangkas waktu bersosialisasi dengan masyarakat. Semua itu merupakan masalah pendidikan saat ini. Pendidikan menjelma industri yang dituntut oleh kepentingan korporasi.

masyarakat-5-0
Ilustrasi, akhirnya juga anak-anak yang jadi korban tarik ulur dan gonta ganti kebijakan. (Sumber: http://harian.analisadaily.com).

Pola komunikasi berganti menjadi pola transaksi. Interaksi guru dan siswa berubah menjadi interaksi produsen dan konsumen. Konsumerisme membuat orang berpikir bahwa waktu adalah uang sehingga segala yang dilakukannya serba tergesa-gesa. Guru tergesa-gesa mengajar, murid tergesa-gesa belajar. George Ritzer dalam bukunya bertajuk The McDonaldization of Society (1993) mengatakan bahwa kecepatan ini sebagai wujud dari McDonaldisasi masyarakat, khususnya McDonaldisasi Pendidikan.

McDonaldisasi pendidikan juga disebabkan oleh “keinginan mengungguli” yang destruktif. Stefan Collini dalam bukunya bertajuk What Are The Universities For? (2012) mengatakan bahwa kecenderungan sekolah menaikkan standardnya ialah karena ingin dilabeli sebagai sekolah unggul, sekolah terdepan, atau sekolah termaju. Persaingan ini semakin lama semakin tidak sehat. Karena mengabaikan sisi dasar pendidikan, yaitu memanusiakan manusia.

Efek dari rentetan ketergesa-gesaan ini adalah individu tidak cakap dalam membaca sekaligus mengambil peluang. Efek selanjutnya adalah stres yang dialami oleh pendidik sekaligus peserta didik. Apabila proses belajar mengajar dilalui dengan rasa stres dan penuh kecemasan, maka esensi dari materi pembelajaran tentu tidak akan sampai pada siswa.

Melihat berbagai macam efek pendidikan tersebut, maka diperlukan seni belajar melambat. Seni belajar lambat diperluas oleh Carl Honore dalam bukunya berjudul In Praise of Slow (2004). Honore mencoba memperluas prinsip slow food (yang melawan McDondadisasi itu) ke arah arsitektur, kedokteran, pekerjaan, hingga pendidikan. Temuan ini direspons oleh Prof. Maggie Berg dari Queen University. Menurutnya pelajaran lambat dapat melawan erosi humanistik dalam dunia pendidikan yang disebabkan oleh korporasi, konsumerisme, efisiensi, disabilitas, dan standardisasi. Metode belajar lambat sesungguhnya mampu mengurangi tekanan gurus sekalgus siswa.

Belajar lambat bukan berarti belajar dengan cara malas-malasan atau santai-santai. Melainkan belajar dengan cara tepat guna. Mempelajari hal-hal yang berguna bagi masa depan peserta didik disertai dengan memperbanyak waktu untuk bersosialisasi dengan masyarakat merupakan wujud dari belajar lambat ini. Materi tidak terlalu banyak tapi tepat. Pun waktu belajar tidak terlalu lama. Dengan begitu, siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengaplikasikan sekaligus mengeksplorasi ilmunya di masyarakat.

Anak-anak belajar menari di pelataran Candi Badut dalam kegiatan ajar pusaka budaya spesial anak. (Terakota/Eko Widianto).

Dampak dari belajar lambat adalah menumbuhkan kesadaran emosi sekaligus ketahanan intelektual bagi pendidik dan peserta didik. Ketahanan emosi sekaligus ketahanan intelektual membuaat peserta didik mampu mengambil hikmah kehidupan, memilah informasi di tengah arus tsunami informasi, dan melangkah dengan tepat dalam era yang semakin melaju.

Dampak positif yang tak kalah penting adalah peserta didik mampu melakukan repolitisasi kehidupannya sehari-hari. Peserta didik tidak mudah dipolitisasi oleh kepentingan tertentu. Mereka bebas merdeka dalam bercita-cita sekaligus mampu bertanggung jawab untuk mewujudkannya. Semua ini diperoleh sejak dalam belajar.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini