Massa Aksi dan Corona

massa-aksi-dan-corona
Sukarno berpidato di depan ribuan massa. (Foto : Natgeo Indonesia).

Oleh : Hariyono*

Terakota.idMengingat kembali perjuangan para pendiri bangsa ada idiom yang terkenal di zamannya, yaitu “Massa actie”. Suatu tindakan sadar dari anggota yang tergabung dalam suatu gerakan sehingga tindakan mereka tidak menjadi massa aksi, yaitu tindakan yang anut grubyuk.

Istilah massa aksi banyak digunakan para pendiri bangsa dalam menanamkan semangat berdikari pada rakyat. Tan Malaka pada 1926 sempat membuat buku, tepatnya brosur yang diberi judul massa aksi.

Demikian pula bung Karno pernah menulis beberapa kajian tentang pentingnya massa aksi. Intinya gerakan mencapai Indonesia merdeka harus melibatkan massa rakyat yang sadar (bewust) rakyat yang menyadari akan taktik dan strategi perjuangan. Bukan rakyat yang hanya menjadi obyek dari elit yang pandai melakukan provokasi, agitasi sehingga masyarakat terbakar emosinya untuk ikut demontrasi.

Dan gerakan melihat kekuatan rakyat sebagai subyek pejuang telah disemai oleh Perhimpunan Indonesia (organisasi pelajar di negeri Belanda) pada 1923-25. Dalam otobiografi yang ditulis Ali Sastroamidjojo, Tonggak Tonggak di Perjalananku (1974) disebutkan bahwa azas  Perhimpunan Indonesia sejak 1923 sampai1925 ada tiga, yaitu; Pertama, pengertian dan kesadaran bahwa kita adalah suatu bangsa, bangsa Indonesia. Kedua, bahwa kita harus berjuang untuk Indonesia Merdeka. Ketiga, bahwa untuk mencapai tujuan itu bangsa kita harus bersatu padu dan menjalankan massa aksi nasionalis yang sadar dan berdasarkan kepercayaan pada kekuasaan diri sendiri, untuk melawan dan menghentikan penjajahan Belanda atas Indonesia.

Asas perjuangan Perhimpunan Indonesia tersebut pernah diulas Profesor Sartono Kartodirdjo dengan istilah Manifesto Politik Perhimpunan Indonesia, sebagai suatu landasan membangun keindonesiaan yang mendahului Sumpah Pemuda 1928.

Mengapa rakyat harus disadarkan, Bung Hatta yang pernah menjadi bendahara Perhimpunan Indonesia selama empat tahun dan menjadi ketua empat tahun, dalam Memoir (1979) menjelaskan bahwa self help harus banyak diarahkan pada rakyat. Tanpa pergerakan massa tidak mungkin perjuangan mencapai kemerdekaan dapat dilakukan. Kaum intelektual hendaknya mengenal dan mencari kekuatan pada massa rakyat. “Di dalam massa bersembunyi kekuatan rakyat yang sebenarnya”

Rakyat harus diajar berjuang sendiri untuk memperbaiki keadaan ekonominya agar memiliki semangat juang (fighting spirit) yang tangguh. Tentu azas massa aksi yang dikembangkan pada masa pergerakan nasional masih relevan dengan kondisi sekarang, termasuk dalam menghadapi wabah Covid-19. Peristiwa pandemi Corona dapat menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang mandiri dengan gerakan massa aksi.

Masyarakat di pelbagai kampung telah bergotong royong menyikapi wabah Covid-19 secara massal agar tidak ada warganya yang terpapar Covid-19. Mereka melakukan penyemprotan disinfektan secara massal, membagikan masker dan lain sebagainya. Tentu belum bisa disimpulkan apakah gerakan mereka itu bagian dari massa aksi atau massal aksi.

Kita makin sadar bahwa kesehatan itu menjadi sangat penting. Pola hidup bersih dengan sering cuci tangan dengan sabun itu juga penting. Dan masyarakat seyogyanya juga bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan sehingga diri dan komunitasnya dapat lebih produktif. Kita sadar bahwa masyarakat sering dijadikan obyek kekuatan politik ekonomi sebagai konsumen sehingga jarang membedakan mana keinginan dan kebutuhan. Konsumerisme menjadi tradisi yang membelenggu kemandirian dirinya.

Di sinilah pentingnya teman-teman aktivis dan aparat untuk mendampingi dan menggelorakan reaksi masyarakat menjadi respons dalam menyikapi pandemi Corona. Mungkin selama ini mereka banyak terlibat karena ikut ikutan. Mereka perlu diajak dialog tentang penyebaran Corona dengan segala eksesnya, terutama aspek sosial, ekonomi dan kemanusiaan.

Sepintas kulihat beberapa teman-teman pegiat kampung sudah melakukan itu. Misalnya kampung Glintung Go Green dan Kampung Cempluk yang ada di Malang. Jejaring komunitas dan kampung di seluruh Nusantara yang selama ini telah melakukan “Pancasila dalam Tindakan” perlu mendorong gerakan massa aksi agar tubuh dan masyarakat kita dapat menjadi sehat. Sehat secara biologis sosial, ekonomi, budaya dan politik.

tangkal-pageblug-dengan-kidung-purwojati-sunan-kalijaga
Ki Ardi Purbo Antono memimpin doa dengan ritual kidung Purwojati Sunan Kalijaga untuk tolak balak, Mengusir pagebluk atau wabah corona. (Terakota/Abdul Malik).

Kesadaran warga kampung (komunitas) menjadi penting untuk menjadikan komunitas mereka mandiri dalam pemenuhan kebutuhannya. Potensi timbulnya kelangkaan pangan perlu disikapi dengan menanam tanaman pangan (termasuk sayur) di lingkungannya. Jaringan dengan kampung kampung pertanian makin digelorakan agar kedaulatan pangan dapat tercapai. Melalui gerakan ini eksploitasi mafia pangan bisa dinegasi masuk ke wilayahnya.

Demikan pula pemanfaatan obat obatan herbal yang diolah dari tanaman yang dikelola sendiri mampu meningkatkan kesehatan dan daya imunitas sehingga dominasi mafia farmasi bisa diminimalisir. Demikian pula kreativitas dan inovasi yang berhasil berkembang perlu dielevasi, diangkat dan dijadikan contoh untuk diapresiasi dan ditiru (bukan dipersulit bahkan dirampas dengan alasan teknis masalah ijin).

Rakyat bergerak Negara akan sehat. Rakyat mandiri membuat kesejahteraan dapat tercapai di seluruh negeri. Rakyat yang sadar tidak mudah diadudomba dan diprovokasi. Konsep massa aksi para pendiri bangsa dapat kita aktualisasikan secara kontekstual ditengah pandemi Corona agar bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang bersatu, maju, mandiri dan sejahtera. Semoga.

Prof. Hariyono (Sumber: Dok. Pribadi)

*Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila dan guru besar sejarah Universitas Negeri Malang

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini