Masa Muda Mengandung Utang  

Ilustrasi : Candra Dwiyanto

As we grow older, I always think, why didn’t I do more when I was young, why didn’t I risk more? 

Chuck Palahniuk

Terakota.id–Saya sengaja membuka tulisan ini dengan kutipan dari Chuck Palahniuk, novelis dan jurnalis Amerika yang terkenal karena karya hebatnya Fight Club (2005). Karya ini di waktu kemudian diangkat ke layar lebar dengan Brad Pitt dan Edward Norton sebagai bintang terangnya.

Alasan saya mengutip Palahniuk adalah karena saya ingin menyorot masa muda dan betapa kadang kurang beraninya kita dalam mendayagunakan masa tersebut. Dan, saat kita telah melewatinya, yang tersisa hanyalah ampas semangat dan keinginan untuk menebus kekurangberanian itu. Beberapa orang, di masa tua mereka, mendapatkan kebijaksanaan dari kekurangberanian tersebut, tentu saja, setelah banyak merenung dan bercermin.

Masa muda adalah masa yang sarat makna, indah, penuh tantangan, sekaligus tidak akan kembali. Terlepas dari adanya beberapa sistem kebudayaan dan konsep teoretis yang memandang waktu sebagai sesuatu yang relatif dan sirkular, masa muda jelas tidak relatif dan tidak sirkular. Masa muda ada secara absolut dan linear atawa begitu berlalu, ya sudah berlalu dan tidak akan kembali. Kecuali kita adalah Benjamin Button, masa muda tidak akan datang lebih belakangan.

Seperti lirik lagu John Mayer, kita juga tidak bisa menghentikan lokomotif waktu dan berhenti di masa muda, yang mungkin sangat ingin kita pertahankan selama mungkin karena privilese yang diberikannya. Setidaknya, sampai sekarang belum ada ilmu pengetahuan yang dapat melanggengkan masa muda seseorang.

Bisa jadi baru dalam karya fiktif pengarang Irlandia Oscar Wilde (1854-1900)-lah masa muda dapat dipertahankan. Begitulah kira-kira yang digambarkannya dalam kisah The Picture of Dorian Gray (terbit sebagai buku pada 1891). Dorian Gray adalah pemuda hedonis yang ingin selamanya mereguk kenikmatan masa muda dan mengalihkan ketuaan serta penderitaannya pada lukisan magis dirinya yang menanggung semuanya itu baginya.

Penyesalan akan kekurangberanian mengambil risiko semasa muda jualah yang oleh tokoh utama dalam novel The Kite Runner (2003) karya Khaled Hosseini, penulis Amerika berdarah Afghanistan, coba lukiskan. Amir, nama tokoh utama sekaligus narator dari novel ini, adalah seorang bocah yang lahir dalam keluarga terpandang di Afghanistan pra-Taliban. Ayahnya berdarah bangsawan, tetapi ibunya meninggal dunia saat melahirkan Amir.

The Kite Runner merupakan semacam memoar yang Amir tulis setelah dia ‘mapan’ sebagai warga Amerika Serikat tentang tahun-tahun masa mudanya di negeri nenek moyangnya. Namun, jauh dari meromantika masa-masa mudanya tersebut atau menjadikannya nostalgia belaka, seperti banyak orang lakukan, Amir menuliskan memoarnya itu sebagai upaya penebusan dosanya.

Menebus Dosa Masa Muda

Menjelang kejatuhan Raja Afghan, Baba—ayah Amir—dan Amir melarikan diri ke Amerika Serikat. Dan, sebagai pelarian, mereka mau tak mau harus menanggalkan semua privilese yang sebelumnya mereka sandang sebagai sesuatu yang take it for granted. Mereka menetap di Fremont, California dan mesti memeras keringat untuk dapat memperoleh penghidupan yang kurang-lebih layak dan membayar biaya kuliah Amir. Baba, oleh harga dirinya, bertekad untuk tidak mengandalkan bantuan dari negara.

Ini berbeda serratus delapan puluh derajat dengan ketika mereka masih tinggal di Afghanistan sebelum serbuan Uni Soviet. Mereka tinggal di rumah gedong di kawasan yang elite dari kota lama Kabul, memiliki reputasi yang menjulang, dan menikmati pelayanan prima dari Ali dan putranya Hassan. Ali dan Hassan sendiri berasal dari suku Hazara, suku minoritas yang dipandang sebelah mata oleh suku mayoritas masyarakat Afghanistan.

Sementara Ali, oleh suatu alasan tertentu yang akan menjadi jelas seiring jalannya kisah, memiliki hubungan yang ‘rumit’ dengan Baba, Hassan adalah ‘sahabat’ paling setia bagi Amir. Hassan selalu ada di sana ketika Amir membutuhkan teman dan pendengar bagi cerita-ceritanya. Mereka bahkan mengukir dengan pisau di kulit pohon tempat mereka biasa nongkrong: ‘Amir dan Hassan, Sultan dari Kabul’.

Ketika suatu hari Amir mengikuti lomba adu layang-layang dan berharap dengan sangat bisa menang agar bisa membuat hati Baba senang dan bangga kepadanya, Hassan bersedia berlari mengejar layang-layang musuh yang putus. Dan, dalam usahanya itu, Hassan jatuh ke dalam pemerkosaan oleh berandal musuh besar mereka, Assef.

Amir melihat bagaimana Hassan, yang belakangan diketahuinya adalah saudara tiri satu ayah beda ibu dengannya, dipepet di suatu lorong demi mendapatkan layang-layang yang seturut janjinya akan diserahkannya kepada Amir. Amir melihat semua kekejian itu dengan mata kepalanya sendiri, tetapi dia memutuskan untuk tidak bertindak dan menolong Hassan. Dia hanya terpaku dan kelu.

Kepengecutan dan kekurangberanian Amir ini menghantuinya sepanjang waktu dan bahkan ditutupinya dengan mendesak ayahnya untuk mengusir Ali dan Hassan dari rumah mereka. Disusunnyalah sebuah rancangan jahat untuk menjatuhkan kedua pembantu tersebut di mata sang ayah. Baba yang dari awal sadar bahwa Hassan adalah anaknya sendiri pun, oleh kepengecutannya, hanya dapat melihat Hassan dan Ali meninggalkan rumah mereka pada suatu hari yang deras sekali hujannya.

Rasa bersalah terhadap Hassan ini terus menghantui Amir sampai berpuluh tahun kemudian. Setelah dia mapan menjadi dokter gigi dan berumah tangga di Amerika Serikat, suatu panggilan telepon dari masa lalu membangunnya. Itu adalah telepon dari Rahim Khan, sahabat keluarganya. Rahim memintanya datang ke Kabul untuk meluruskan masa lalunya, seakan Rahim tahu apa yang masih berurat-akar dalam ingatan Amir dan memangsanya pelan-pelan.

Di Afghanistan baru yang tidak lagi dikenalnya, Amir berjumpa dengan Assef, pemerkosa saudara tirinya dan penawan anak Hassan, Sohrab. Assef kini telah menjadi pejabat Taliban dan seorang yang berkuasa. Dia juga semakin pongah dan ganas. Dia masih berandal dan memperlakukan Sohrab sebagai budak seksnya.

Di sinilah Amir seperti dihadapkan pada masa mudanya, ketika alih-alih berdiri tegak dan membela orang yang menjadi sahabat dan pelayannya dari kekejian, dia justru menarik diri dan menutup pintu. Bedanya adalah kali ini, Amir lebih dewasa dan sudah punya waktu cukup untuk merenungkan kesalahan masa mudanya.

Maka, Amir mengambil risiko dan menghadapi Assef yang sedang menapaki puncak kekuasaannya dengan berani. Jelas saja, dia bukanlah lawan bagi Assef yang perkasa dan tubuhnya remuk menjadi bulan-bulanan tinju dan tonjokan Assef. Namun, keteguhan hatinya itulah yang akhirnya mendorong Sohrab, keponakannya yang nasibnya seperti mirroring nasib sang ayah, menarik ‘pelatuk’ ketapelnya yang menghunjam tepat di antara mata Assef.

Masa Muda Mengandung Utang

Kembalinya Amir ke Afghanistan atas undangan Rahim Khan bisa dilihat sebagai simbol kepulangannya ke masa mudanya. Walau secara nyata, kembali ke tanah masa kecilnya itu berarti menemukan sesuatu yang asing, baru, dan tak lagi dikenalinya sepenuhnya, di sana ada sesuatu yang belum selesai yang mesti dipurnakannya.

Hassan yang ditinggalkan dan dikhianatinya kembali tampil dalam rupa anaknya, Sohrab. ‘Utang budi’ dan terlebih ketidakberanian mengambil risiko di masa muda Amir telah menuntunnya kembali kepada titik di mana dia menghadapi masalah yang kurang-lebih sebanding. Hanya kali ini, Amir lebih dewasa dan lebih tabah.

Terkait hal ini, saya jadi teringat pada karya metaforis James Redfield The Celestine Prophecy (1992). Di dalam novel Redfield, ada bagian di mana dinyatakan bahwa tidak ada perjumpaan yang bersifat kebetulan. Segalanya terjadi karena satu alasan. Dan seringkali, alasan itu adalah sesuatu yang belum selesai antara pihak-pihak yang berjumpa di masa lalu mereka. Ada ‘utang-piutang’ yang perlu diperhitungkan dan dikelarkan.

Amir ditarik oleh sebuah kekuatan tak terindera untuk kembali ke masa lalu, ke masa mudanya yang pengecut, untuk menyelesaikan perhitungannya dengan saudara tirinya. Dan penebusannya terjadi kala dia berani berdiri membela darah-daging Hassan dari cengkeraman Assef.

Kalau kita bertemu, entah di mana dan dalam wujud seperti apa, bisa jadi ada sesuatu yang belum selesai di antara kita di masa lampau. Mungkin, kita perlu saling bertanya dan mendengarkan: apakah itu yang perlu kusampaikan kepadamu, atau apakah itu yang perlu kudengarkan darimu.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini