Mari Hidup Sehat di Desa Wisata Waturejo

mari-hidup-sehat-di-desa-wisata-waturejo
Desa Waturejo, Ngantang, Kabupaten Malang memiliki 248 gazebo tersebar di seluruh wilayah desa. Gazebo menjadi ruang publik, warga diskusi dan berdialog. (Terakota/M. Yufirly Raizza Fadilah).

Advertorial

Terakota.id-Sebuah gazebo berdiri di samping gapura Desa Waturejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Di sini lah, warga biasa bertemu, berdialog dan bermusyawarah. Sebuah taman mini, dengan tulisan Desa Wisata Waturejo menyapa setiap tamu yang berkunjung.

Sepanjang jalan di depan rumah warga berjajar aneka tanaman sayur dan tanaman obat keluarga (Toga). Aneka tanaman sayuran dan buah turut memanjakan mata setiap pengunjung yang hadir di sini. Bahkan, tanaman merambat seperti buah markisa juga memperindah wajah desa yang berada di sisi barat Kabupaten Malang.

Keriuhan juga terlihat di sejumlah sudut desa, anak-anak asyik bermain dan belajar di sebuah gazebo. Ya, gazebo juga berfungsi sebagai taman baca. Anak-anak bisa menikmati aneka bacaan sembari bermain. “Telah dibangun 248 gazebo,” kata Kepala Desa Waturejo, Suroso Karyo Utomo.

Gazebo disulap menjadi taman baca. Anak-anak desa belajar, membaca dan bermain di sini. (Terakota/M. Yufirly Raizza Fadilah).

Sebuah papan pertulis, imbauan untuk warga desa juga terpampang. Berisi peraturan bagi setiap warga. Meliputi matikan rokok sebelum masuk rumah, mencuci tangan sebelum masuk rumah, menjaga kebersihan, melestarikan lingkungan, membuang sampah di tempat dan membudayakan gotong royong. Imbauan ini menjadi pegangan warga desa.

Di samping pintu setiap rumah warga, tersedia asbak dan tempayan atau drum berisi air beserta sabun cair. Siapapun yang masuk rumah wajib mematikan rokok dan mencuci tangan hingga bersih. Pemerintah desa mengeluarkan peraturan desa kawasan tanpa rokok di rumah. Sedangkan jika ingin merokok tersedia di gazebo.

“Kami memikirkan dampak rokok terhadap perokok pasif. Di rumah ada ibu hamil atau balita,” katanya. Tak mudah, katanya, untuk menerapkan kawasan bebas rokok di rumah. Sempat terjadi penolakan, Suroso harus beradu argumentasi dengan sejumlah kelompok yang menentangnya, Setelah dijelaskan, mereka akhirnya menerima dan mendukung peraturan desa tersebut.

Setiap rumah diwajibkan menanam lima pot sayuran dan tanaman obat keluarga. (Terakota/M. Yufirly Raizza Fadilah).

“Selama delapan bulan, kami berkumpul dan berdialog. Akhirnya sepakat disusun perdes,” katanya. Kini, sekitar 85 persen keluarga mematuhi tak merokok di dalam rumah. Memang tak mudah, mengubah parilaku. Namun, mayoritas mulai memahami dampak kesehatan asap rokok terhadap ibu hamil dan balita.

Ketua tim penggerak PKK Desa Waturejo, Sunaryati mengatakan masyarakat mulai sadar atas gangguan kesehatan yang bakal ditimbulkan dari asap rokok. Meski awalnya terjadi pro dan kontra. “Merokok di rumah sendiri kok dilarang?,” kata Sunaryati menirukan ucapan warga yang menolak.

Lantas Kepala Desa, dilakukan sosialisasi dampak buruk asap rokok terhadap kesehatan. Melibatkan tenaga kesehatan dan tim ahli. Sosialisasi dilangsungkan di kelompok pengajian dan tahlil. Akhirnya sepakat di dalam rumah menjadi kawasan bebas asap rokok. Sedangkan untuk merokok disediakan di gazebo.

“Masyarakat dulu menolak. Seiring berjalannya waktu masyarakat merespons positif. Meski belum 100 persen,” katanya. Di Waturejo hampir 90 persen laki-laki dewasa merupakan perokok. Termasuk Kepala Desa Waturejo yang menggagas kawasan tanpa asap rokok di rumah dalam sehari menghabiskan tiga bungkus rokok.

Cuci tangan juga menjadi program kesehatan di Desa Waturejo, tujuannya mengajarkan anak sejak dini membiasakan menjaga kebersihan. Mencuci tangan memakai sabun, katanya, juga mencegah menyebarkan penyakit diare. Kebersihan diri dan sanitasi atau kebersihan lingkungan dianggap sebagai kunci hidup sehat.

Setiap rumah memiliki tempat mencuci tangan. Setiap tamu dan anggota keluarga wajib mencuci tangan dan mematikan rokok saat masuk rumah. (Terakota/M. Yufirly Raizza Fadilah).

Kadang, anak-anak setelah bermain di luar rumah, kemudian masuk dan memegang makanan. Sehingga jika sudah mencuci tangan, sudah bersih dan bebas penyakit. Penyakit diare sempat mewabah, sehingga mencuci tangan diwajibkan untuk mencegah kembali wabah diare.

“Sosialisasi agar tak diare, biasakan cuci tangan,” katanya. Apalagi, anak-anak rentan terhadap penyakit yang menyebabkan dehidrasi atau kehilangan cairan tubuh secara cepat ini. Promosi kesehatan terutama diare, dilakukan rutin kepada para siswa PAUD dan Taman Kanak-Kanak.

Setiap rumah memiliki tempat mencuci tangan, terbuat dari tempayan, tabung bambu dan kaleng bekas cat. Selain itu, setiap rumah minimal menanam lima pot sayuran dan tanaman obat keluarga. Tujuannya, agar setiap keluarga bisa menyediakan menu makanan sehat di rumah tanpa mengeluarkan biaya. Cukup memetik sayuran di halaman rumah sendiri. Selain itu, juga untuk membuat jamu bisa memetik dan mengambil di taman toga.

Berinteraksi di Gazebo

Beragam bentuk gazebo berdiri di setiap sudut desa seluas 527 hektare ini. Mulai bentuk sederhana seperti pos kamling, sampai berbentuk seperti rumah adat minang. Gazebo berfungsi sebagai ruang berinteraksi masyarakat. Di sini warga desa bisa bertemu, berdialog dan menggagas kegiatan gotong royong.

“Kegiatan jagong maton di gazebo setiap sore. Cangkrukan orang tua berkumpul dan berdiskusi,” kata Kepala Desa Waturejo, Suroso Karyo Utomo. Awalnya gazebo dibangun saat mengikuti lomba desa siaga. Sebagai contoh dibangun dua gazebo. Kini telah berdiri 288 buah gazebo di desa yang berada di ketinggian 671 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Gazebo dibangun secara swadaya oleh masyarakat desa. Biaya pembangunan dan tenaga dikerjakan secara bergotongroyong. Pemerintahan desa selalu menyelaraskan program dengan program PKK. “PKK dan pemerintahan itu ibarat manusia ya satu tubuh,” katanya.

Ada juga gazebo yang berfungsi sebagai taman baca. Anak-anak membaca buku koleksi taman baca sembari belajar dan bermain. Kini, gazebo menjadi ruang publik, menjadi kebutuhan warga untuk bertemu dan berinteraksi di gazebo. Inovasi itu membuat Desa Waturejo menjelma menjadi desa wisata berbasis program PKK.

Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) menyediakan beragam paket wisata. Terbanyak kunjungan berasal dari luar Jawa untuk keperluan studi banding. Pada 2018 wisatawan mencapai 703 orang. Sedangkan sampai Agustus 2019 kunjungan sebanyak 356 orang.

Berwisata di sini, katanya, wisatawan bisa melihat kegiatan masyarakat sehari-hari. Termasuk melihat aktivitas pelaku UMKM mulai produksi cobek, tusuk sate, dan batik.

Desa wisata juga menggerakkan ekonomi masyarakat dengan didukung delapan homestay dan delapan pemandu wisata. Total penduduk Desa Waturejo 3.670 jiwa, laki laki 1.834 dan perempuan 1.838.

Bidan desa Waturejo, Arini menjelaskan program desa tersebut memberikan dampak kesehatan bagi warga. Sehingga profil masyarakat semakin sehat. Pasien yang menjalani pengobatan di poliklinik desa menurun. Terutama pasien dengan riwayat penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) dan batuk menurun. Penyakit yang disebabkan asap rokok.

mari-hidup-sehat-di-desa-wisata-waturejo
Gazebo juga menjadi tempat bermain anak-anak Desa Waturejo, Ngantang, Kabupaten Malang. (Terakota/M. Yufirly Raizza Fadilah).

Termasuk penyakit diare yang disebabkan bakteri e-coli. Ia juga terus melakukan promosi kesehatan kepada masyarakat desa. “Sehari sekitar 10 orang yang berobat,” katanya.

Salah seorang warga Eko Sunarko mengaku warga bergotongroyong menyediakan segala sarana dan prasarana. Berangkat dengan program desa siaga, untuk menjaga kesehatan warga mereka kini memiliki kesadaran hidup sehat. Termasuk mencuci tangan sebelum masuk rumah.

“Kebersihan itu awal dari hidup sehat,” katanya. Jika dulu ia mengaku sulit meminta anak untuk mencuci tangan setelah bermain. Kini, mereka terbiasa mencuci tangan sebelum masuk rumah. Sehingga saat memegang sesuatu termasuk makanan, sudah dalam keadaan bersih.

Atas inovasi ini, Desa Waturejo menjadi finalis Indonesia Suistainble Tourism Award (ISTA) 2019. Dari sebanyak 263 destinasi wisata di Indonesia yang mendaftar, sebanyak 37 destinasi terpilih. Sementara Kabupaten Malang diwakili tiga desa meliputi desa wisata adat Ngadas, wisata berbasis PKK Waturejo, dan desa wisata Boonpring, Sanankerto.

Tim penilai dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Profesor  Riant Nugroho mengatakan setiap destinasi memiliki keunikan masing-masing. Kultural atau budaya, memiliki kekuatan dalam konsep wisata berkelanjutan tersebut. Waturejo salah satu kandidat yang memiliki potensi. Apalagi Kabuaten Malang mengandalkan desa wisata untuk mendorong pertumbuhan ekonomi desa.

“Sektor wisata lebih cepat menyerap tenaga kerja,” katanya. Ia mencontohkan jika masyarakat sekitar kawah Dieng awalnya miskin. Dengan mengandalkan pendapatan dari tanaman kentang. Kini, masyarakat desa menggerakkan sektor wisata. Hasilnya warga mendapat keuntungan dengan menyediakan homestay.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini