Mari Bernostalgia di Kampung Heritage Kayutangan

mari-bernostalgia-di-kampung-heritage-kayutangan
Pengunjung berpose di dalam salah satu rumah penuh barang lawas di Kampung Wisata Kayutangan (Terakota/Zainul Arifin)

Terakota.id-Cerek, radio, televisi sampai kamera zaman dulu tertata di sebuah meja bergaya vintage. Meja dan kursi kuno ini berada di dalam sebuah rumah di Kampoeng Wisata Kajoetangan. Di sini kita seolah memasuki lorong waktu, berada di masa lalu.Barang lawasan ini menjadi daya tarik siapapum untuk berfoto dan bergaya dengan latar ornamen retro.

Sore akhir pekan lalu, sekelompok muda-mudi berpose di depan rumah itu. Mereka berfoto dengan latar properti yang sudah didesain bernuansa lawas.  Masih di depan rumah itu, terdapat meja dengan sebuah buku tamu di atasnya.

Kampoeng Wisata Kajoetangan atau Kampung Kayutangan sudah cukup dikenal para penyuka dan pegiat sejarah sampai pemburu foto bernuansa zaman dulu. Papan bertulis Kampoeng Wisata Kajoetangan terlihat jelas di sebuah gapura gang di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang. Di kampung yang juga sering disebut Gang Talun.

Para tamu atau pengunjung kudu mengisi buku tamu sebelum masuk ke kampung. Jangan lupa menyiapkan selembar duit Rp 5 ribu sebagai kontribusi. Selembar peta wisata dan kartupos bergambang bangunan lawas akan diberikan sebagai gantinya.

“Uang kontribusi itu digunakan untuk kebutuhan perawatan dan operasional kampung,” kata Ahmad Ilham, pemilik rumah dekat gapura itu.

Selain lewat koridor Talun, ada dua akses masuk lain ke Kampung Wisata Kayutangan. Yaitu koridor Kayutangan di Jalan Basuki Rahmat yang juga menerapkan kontribusi bagi pengunjung. Uang dikelola warga melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kayutangan.

“Guna memenuhi biaya operasional, seperti perawatan kampung dan kebutuhan lainnya seperti menyiapkan properti,” tutur Ilham yang juga anggota Pokdarwis Kayutangan.

Usai mengisi daftar pengunjung, kita bisa berkeliling sepuasnya. Menyusuri jengkal demi jengkal di tiap sudut kampung. Di sini ada 60 rumah tua berarsitektur kolonial Belanda. Seluruhnya masih terjaga keasliannya. Bahkan ada rumah yang sudah dipercantik empunya rumah.

mari-bernostalgia-di-kampung-heritage-kayutangan
Para pengunjung berfoto di properti bernuansa lawas yang sudah disediakan di Kampung Wisata Kayutangan

Dari seluruh rumah tua itu, ada sekitar 25 rumah memasang plakat informasi. Memuat usia bangunan sampai pemilik pertamanya. Rumah tertua dicatat dibangun pada 1870, selebihnya dibangun dalam kurun 1920-1940. Rumah bermodel atap pelana atau biasa disebut rumah jengki.

Beberapa rumah itu ada yang dimiliki secara turun temurun, antar generasi dari pemilik pertamanya. Misalnya rumah Ester yang dibangun pada 1940. Dahulu rumah ini pernah jadi tempat pengobatan sinshe. Sekarang meski tidak lagi ada praktik pengobatan, tapi keturunannya masih menjual jamu tradisional.

Tidak ada masalah bagi pengunjung berfoto sepuasnya di depan rumah. Termasuk bila ingin mengabadikan momen di dalam rumah. Namun harus merogoh kocek Rp 10 ribu bila berfoto di dalam setiap rumah, layaknya permintaan izin. Sebab di dalam rumah sudah ada properti pendukung berfoto.

“Agar ada manfaat ekonomi bagi warga sebagai dampak langsung keberadaan kampung wisata ini,” ujar Ilham.

Sejarah Permukiman

Kampung Kayutangan bisa disebut sebuah kampung penuh sejarah. Jejak peradaban di sini, khususnya yang masuk koridor Talun telah berusia berabad-abad sejak masa klasik. Dicatat dalam Prasasti Ukir Nagara berangka tahun 1198 Masehi sebagai sebuah desa perdikan. Nama Talun kembali disebut dalam Kitab Paraton.

Kitab yang tidak diketahui siapa penulisnya itu menuliskan, hutan belantara Talun jadi tempat persembunyian Ken Arok. Akuwu Tumapel Tunggul Ametung memerintahkan prajuritnya mengejar Arok ke hutan yang dipenuhi pepohoan patangantangan. Sebuah upaya pencarian yang tidak membuahkan hasil.

Konon nama Kayutangan mengambil dari nama pohon patangantangan. Sebuah pohon yang menyerupai tangan manusia. Versi lain dari warga menyebut kawasan ini penuh dengan pohon yang menantang. “Warga biasa menyebut pohon dengan kayu. Akhirnya jadi nama Kayutangan,” kata Ketua Pokdarwis Kayutangan, Rizal Fahmi.

Kampung tuan ini terus berkembang hingga di masa kolonial Belanda. Koridor Talun yang berada di sebelah barat daya Alun – alun Malang menjadi kawasan permukiman baru bagi orang – orang eropa di masa Hindia Belanda.

mari-bernostalgia-di-kampung-heritage-kayutangan
Musisi jalanan bermain musik bersama pengunjung di salah satu rumah di Kampung Wisata Kayutangan (Terakota/Zainul Arifin)

Sementara koridor Kayutangan di Jalan Basuki Rahmat berkembang saat bouwplan atau pengembangan tata ruang gementee atau Kotamadya Malang. Kotamadya yang baru ditetapkan pemerintah Hindia Belanda pada 1914. Kawasan ini jadi salah satu pusat bisnis dan perdagangan masa itu. Hal itu tertulis dalam Kroniek der Stadsgemeente Malang 1914 – 1939.

Sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono menjelaskan revitalisasi pada masa kolonial menempatkan koridor Kayutangan jadi salah satu titik strategis. “Belanda membuat jalan dengan menembus hutan Kayutangan. Semakin cepat berkembangan setelah Alun – alun Malang dibangun,” ujar Dwi.

Maka tidak heran di kampung ini banyak berdiri rumah – rumah kuno peninggalan masa Hindia Belanda. Bahkan di sini ada setidaknya dua punden yang lokasinya cukup berdekatan. Menunjukkan jejak peradaban panjang kampung ini.

Kampung Wisata Kayutangan secara resmi ditetapkan pada 2018 silam. Sejak itu, kampung selalu ramai dikunjungi wisatawan. Di hari biasa, sedikitnya ada 100 – 250 tamu berkunjung. Sedangkan akhir pekan bisa mencapai 500-an pengunjung. Bagi warga, rombongan anak – anak muda menyusuri kampung adalah pemandangan biasa.

Agustus nanti rencananya Pemerintah Kota Malang bakal memanfaatkan koridor Kayutangan di Jalan Basuki Rahmat jadi sentra wisata. Dikonsep mirip menyerupai kawasan Malioboro, Yogyakarta ataupun Braga di Bandung.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini