Marak Kejahatan di Dunia Maya, Anak Muda Berlatih Literasi Digital

Iklan terakota

Terakota.ID–Marak kejahatan di dunia maya, Jaringan Pegiat Literasi Digital Indonesia (Japelidi) bekerja sama dengan My America Surabaya, Kedutaan Besar Amerika Serikat menyelenggarakan Pelatihan Literasi Digital untuk Kaum Muda Indonesia Timur. Khususnya pelajar SMA Negeri 7 dan SMA Negeri 10, Buru Selatan, Provinsi Maluku.

Sebuah studi menunjukkan anak muda usia 18 tahun-24 tahun, tiga kali lebih besar untuk tidak mengenali penipuan daripada manula. Meskipun mereka memiliki penguasaan fitur dan ketrampilan digital.

“Berbagai kejahatan terus mengintai kehidupan anak muda di ruang digital. Seperti pelanggaran data pribadi, penipuan daring dan pembajakan akun media sosial,” kata fasilitator keamanan dan kebersihan digital, Devie Rahmawati dalam siaran pers yang diterima Terakota.ID.

Fasilitator Frida Kusumastuti melatih para pelajar menguji kekuatan password  yang digunakan. Agar mereka dapat melindungi rumah digital mereka dengan baik. “Mulai email, media sosial, dan aplikasi lain di gawai,” ujar Frida Kusumastuti.

Kordinator Nasional Japelidi yang juga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Gadja Mada Novi Kurnia menyampaikan berbagai tantangan di dunia digital yang dihadapi kaum muda. Meliputi etiket di media sosial, gagap teknologi, bujuk rayu penipuan digital dan kurang menghargai perbedaan di ruang digital. “Tantangan ini perlu dicarikan solusinya,” ujarnya.

Dosen Komunikasi Universitas Udayana Ni Made Ras Amanda, yang juga Ketua Pelaksanaan  Program Nasional berharap peserta semakin kompeten. Juga bersedia menjadi agen literasi digital bagi sesama anak muda. “Bisa menjadi agen literasi bagi teman sebaya,” katanya.

Kegiatan ini, katanya, merupakan bagian dari rangkaian pelatihan yang dilangsungkan di lima Provinsi dan 10 Kabupaten, di Kawasan Indonesia Timur. Meliputi Kalimantan Selatan (Banjar, Tanah Laut), Sulawesi Selatan (Gowa, Pare Pare), Bali (Bangli, Karang Asem), Nusa Tenggara Timur  (Kupang, Manggarai Barat) dan Maluku (Maluku Tengah dan Buru Selatan). Menyasar sedikitnya 500 kaum muda Indonesia Timur, rentang usia 15-19 tahun. Pelatihan dilangsungkan secara hibrida, memadukan daring dan luring.

Kordinator Nasional Pelatihan Kaum Muda Indonesia Timur, dan Pengajar Vokasi Universitas Indonesia Devie Rahmawati menjelaskan program untuk Kaum Muda Indonesia Timur ini melalui serangkaian proses hampir satu tahun. Dimulai dengan  pertemuan dengan kaum muda lewat kelompok diskusi terarah (FGD).

“Lalu tim  program menyusun modul pelatihan, menyelenggarakan serangkaian pelatihan, menggelar kompetisi dan kemudian nanti ditutup dengan penyusunan peta digital kompetensi literasi digital Kaum Muda Indonesia Timur,” katanya.

Anak muda timur, katanya, harus memiliki tiga aktivitas yang akan membentuk kecakapan digital yaitu anti tipu-tipu, belajar memanfaatkan aplikasi atau tools bahasa anti cupu  serta membuat konten dan anti gaptek. “Kami melatih peserta untuk melakukan simulasi bagaimana terampil memastikan kebenaran sebuah informasi  dengan berbagai media di ruang digital,“ ujar  pengajar Universitas Sam Ratulangi Manado Leviane Jackelin.

Untuk mengukur dan memastikan materi yang dilatih sudah memenuhi misi pelatihan, Japelidi menggelar pre test dan post test. Juga diselenggarakan kompetisi video kreatif dengan tema besar Cakap & Keren Bermedia Digital  sub tema Ayo Lawan Cyberbullying dan Awasi Data Pribadimu.

“Anak muda timur pemenangnya akan mendapatkan hadiah gawai, jam pintar, paket podcast dan action cam,” katanya.

Salah seorang peserta Faryani Marua menyampaikan harapannya agar lebih waspada terhadap penipuan dan hoaks. Selain itu, ia menyampaikan terima kasih telah mendapat kesempatan belajar literasi digital. “Terima kasih, ilmu ini akan menjadi bekal kami hidup di era digital,” katanya.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini