Maradhana, Kobaran Api Cinta ataukah Cinta Terbakar Kobar Api?

Oleh: M. Dwi Cahyono

Mutiara kata bilang

‘Jangan beramain air, terpercik basah nanti.
Jangan bermain cinta, terbakar hati nanti’.

Terakota.id–Setiap masa mempunyai ‘cinta (asmara)’-nya sendiri-sendiri. Dalam hal stilye (gaya)-nya, romantika atau dramatikanya, maupun makna terkandung di dalamnya bisa beda-beda. Masing-masing mempunyai peminatnya sendiri, baik untuk mendengarkan tuturannya, membaca suratannya, atau melihat visualisasi kisah asmaranya. Fenomena ‘gaya bercinta tahun 1990-an’ dalam film romantika remaja “Dilan” yang terbukti banyak diminati pemirsa adalah salah sebuah contoh representatif mengenai itu. Meski orang kini menyatakannya sebagai ‘asmara jadul (zaman dulu, seperempat abad yang lalu)’, namun ternyata orang-orang yang hidup di zaman now, yang nota bene memiliki gaya asmara beda, tak pelak ingin menontonnya, dan komentarrnya “asyik juga ya”.

Lebih judul (lama) daripada romantika cinta ‘Dilan-Milea;’ adalah kisah asmara ‘Syakuntala-Dusyanta’ karya rakawi India lama Kalidasa, api asmara Dewa Kama – Dewi Rati[h] di dalam ‘kakawin Smaradahana’ karya rakawi Pu Dharmaja dari masa pemeritahan kerajaan Kadiri, asmara ‘Roro Mendut-Pronocitro’ pada masa Kasultanan Mataram era pemerintahan Sultan Agung, dan banyak lagi. Itu adalah sebagian dari dramatika cinta di tiap-tiap masa. Demikian pula tragedi cinta Eropa Klasik ‘Romeo-Julia’ dan ‘Sam Pek-Eng Tay” pada era Cina Klasik, tak terkecuali diminati oleh kita dengan mengikuti romantika, degup-debar lika-liku kisahnya, maupun makna humanis terkandung di dalamnya. Pendek kata, kisah asamara senantiasa memukau, termasuk kisah cinta sendiri yang meski hanya memukau diri sendiri,

Kakawin ‘Smaradahana’, Kisah Asmara Jawa Kuna

Salah sebuah diantara karya susastra yang produktif di tulis pada masa Pemerintahan Kerajaan Kadiri (1049-1222 Masehi) adalah kakawin ‘Smaradahana’ karya rakawi Pu Dharmaja. Menurut filolog Prof. R.M. Ng. Poerbatjaraka, susastra romantis ini ditulis pada masa pemerintahan raja Kameswara (1115 hingga 1130 Masehi). Pendapat lain, menempatkan penulisan Smaradahana pada masa pemerintahan raja Keeswara II, yang memerintah sekitar tahun 1185 Masehi.

Menarik untuk dicermati bahwa nama raja yang memerintah kala itu adalah “Kameswara’, yang namanya terdiri atas dua kata, yaitu : Kama + Iswara. Unsur nama “Kama” mengingatkan kepada salah seorang tokoh peran utama dalam kisah asmara ini, yakni Dewa Kama (Smaradewa, Dewa Asmara), sebagai kekasih (baca ‘suami’) dari Dewi Rati[h]. Dalam susastra ini, panah asmara Dewa Kama dikisahkan sebagai ‘pengobar api cinta’ di dalam hati Dewa Siwa. Demikian pula lantaran ‘api (dahana) kemarahan’ yang terpancar dari mata ketiga (trinetra) Dewa Siwa, jasad Kama terbakar habis, yang kemudian diikuti oleh terbakarnya jasad Rati[h] oleh api yang sama — sebagai permintaan tulus-setia darinya untuk menyertai sang suami ke alam kematian (belapati). Penyesuaian tokoh peran Kama dengan unsur nama ‘Kama” dari raja Kameswara yang mememrintah kala itu memberi gambaran bahwa susastra ini masuk dalam ketegori ‘puja sastra’.

Sinopsis Kisah “Api Asmara” Kama-Rati

Kisah ini dimulai dari keprihatinan di Alam Kedewataan (Kiandran) tentang terjadinya serangan mahadahsyat dari Asura sakti dengan nama sebutan “Nilaludraka (nila= biru dan ludra = darah’. Mengantisipasi serangan itu, maka para dewa bermusyawarah, untuk mencari hingga menemukan cara tepat untuk dapat mengatasinya. Diperoleh kesepakatan bahwa Asura Nilaludraka hanya bisa dikalahkan oleh putra bungu pasangan Dewa Siwa dan Dewi Uma yang kelak akan lahir. Namun masalahnya adalah bagaimana anak yang diharap-harapkan itu bisa terlahir apabila Siwa dan Uma tak ‘berhubungan badan’. Mengingat, ketika itu itu Siwa tengah menjalani gentur bersamadi di gunung Kailasa, terpisah jauh dari istri (sakti)nya.

Dicarilah jalan keluar (solusi) untuk dapat mempertemukan Siwa-Uma dalam percintaannya, yang diharapkan bakal melahirkan buah cinta, yakni seorang putra tangguh yang mampu hadapi asura sakti tersebut. Intinya, Siwa musti dibuat ‘kasmaran’, harus dijadikan ‘terlanda rindu sitri’, yaki dengan mengobarkan api asmara di hatinya. Terkait dengan cara taktis ini, hanya Kama (Dewa Asamara) yang dinilai bermampuan kobarkan api cinta Siwa, sehingga tugas itu diamanahkan padanya. Tentunya ini merupakan tugas teraramat berat, karena jika Siwa sampai mengehui bahwa kobaran api asmara yang membatalkan samadi-Nya itu muasalnya dari Kama, pastilah kemarahan besar bakal tertumpahkan kepadanya. Namun, perintah tetaplah perintah, Kama pantang tolak amanah, tidak kuasa menghindar dari kesepakatan yang menugaskannya.

Berbekal panah saktinya, yani ‘panah bunga’, Dewa Kama berangkat menunju ke tempat samadi Dewa Siwa di Kailasa. Setelah berhasil menemukan, dengan bersembunyi diri dibidikkan secara tepat panah puspanya. Titik bididik sararan panahnya itu adalah ‘hati’ Dewa Siwa, sebab hatilah yang menjadi muasal cinta. Benarlah adannya, suasana hati Siwa yang sebelumnya kuasa untuk menjauhkan diri dari pangaruh asmara, tak terhindarkan dari sentuhan kama (cinta) meski tekun (gentur) dalam samadi. Lantaran itu, serta-merta Siwa dilanda asmara, tak kuasa menahan diri untuk segera memadu kasih bersama Sang Istri (Dewi Uma).

Memang, siapapun yang terbakar oleh api cinta, meski tengah menjaliani kegiatan apapun, tidak terkeculi bersamadi, tak bakal kuasa untuk menghindar. Maka, samadi yang telah gentur dijaninya pun dibatalkan, dan segera pulang untuk menjumpai kekasih hatiNya. Dengan ‘muslihat cinta’ itu, behasillah para dewa menjadikan Dewi Uma hamil. Kelak Uma melahirkan putra perkasa dan diberi nama ‘Ganesya’. Setelah dewasa ia menjadi lawan tangguh dan berhasil mengalahkan Asura Nilaludraka

Pada sisi lain, kejadian ‘pembatalan samadi’ tersebuat membuat Siwa terheran-heran. Bagaimana bisa Dewa sekaliber diriNya berniat batalkan samadi. Tentu ada hal luar biasa yang membuatnya demikian. Direnungkan musababkan, dan diketemukan simpulan bahwa penyebababnya adalah kama (cinta), kekuatan dahsyat api asmara. Lalu, siapa yang mengobarkan api asmara di dalam hatiNya? Nah, ketemulah siapa pelakunya, tiada lain adalah Kama, Sang Dewa Asmara.

Ketika Siwa menanyakan perihal itu kepada Dewa Kama, sebagai Dewa – yang pantang untuk berlaku dusta – pertanyaanNya itu dijawab dengan ‘ya, Akulah musababnya’. Maka, marah besarlah Siwa kepada Kama. Mata ketiga (trinetra) pada dahiNya bernyala-nyala, Kobaran api hebat menyambar jasad Dewa Kama hingga melumatkannya. Dengan sekejap Jasad Kama lenyap, demi menjalankan amanah para dewa untuk penyelamatan Kaindran dari serangan Asura. Lantaran membakar hati Siwa dengan api asmaranya, maka jasad Kama terbakar oleh api dari trinetra Siwa. Asmara telah menghadirkan api yang bakar di hati Siwa pada satu pihak, Di pihak lain, lantaran api asmara itu pulalah, maka jasad Kama terbakar oleh api kemarahan Siwa.

Kabar mengenai terbakar lenyapnya jasad Kama oleh api kemarahan Siwa akhirnya sampai juga ke telinga kekasih Kama, yakni Dewi Rati[h]. Sebagai kekasih (istri), sebagai pasangan hidup yang mendeklarasikan diri dalam kebersamaan selamanya, Rati bergegas menemui Siwa. Berharap amat Dewa Siwa berkenan menghantarkan kesetian (satya)Nya kepada Sang Kekasih dengan membakar jasadNya dengan api yang juga berasal dari trinetra Siwa. Demi perintaan tulus, yang didasari oleh ‘satya’nya itu, Siwa tidak mampu mengelak dari ‘niat bhakti’ istri terhadap suami.

Kesetiaaan tak bisa dipisahkan oleh apapun dan siapapun, tak terkecuali oleh kematian. Maka api dari trinetraNya pun kembali berkobar membakar jasad Rati. Namun, api yang kali ini bukanlah ‘api kemarahan’, melainkan ‘api kasih’, yakni api yang menghatarkan cinta-kasih Rati kepada Kama, dalam bentuk kesediaan Rati untuk mengakhiri hidupnya di dalam kematian. Api cinta melenyapkan jasad Rati demi menyertai kematian Sang Suami. Rati tulus ikhlas ber-bela pati atas kematian Kama. Setelah jasad Rati lenyap, terdengar;ah suara sepasang Dewa-Dewi (Kama-Rati) dari ‘langit’ menyatakan bahwa ‘kendatipun jasad kami lenyap, namun sebagai spirit kami akan senantiasa ada selamanya, yang hadir buat mengisi relung hati siapapun untuk tengah jatuh cinta’.

Kobaran ‘Api Cinta’ pada Siapa Saja

Perkataan ‘Smaradahana’ yang menjadi judul dari susastra itu terdiri atas dua katam yaitu kata : (1) smara (asmara, cinta), dan (2) dahana (api). Dengan demikian, secara harafiah berarti : api asmara. Tergambar dalam perkataan itu, cinta dikiaskan sebagai ‘api’, sehingga tepat bika kata mutiara menyatakan ‘jangan bermain cinta, terbakar [hati] nanti’. Asmara dikukiskan sebagai api yang berkobar-kobar, sehingga siapa pun yang terkena asmara, maka terbahakarlah hatinya. Api cinta demikian kuat kobarannya, sehingga siapa pun yang terkena cinta, maka terbakarlah hatinya, tak kuasa untuk mengealak dari kobaran apinya.

Pada kisah salam susatra ‘Smaradahana’ itu, jelas digambarkan bahwa muasal cinta adalah hati. Oleh karena itu, dapat difahami apabila panah puspa Dewa Kama diarahkan dengan tepat ke hati Dewa Siwa. Gambaran demikian mengingatkan kita pada simbol ‘jatuh cinta’, yang secara visual dilukiskan sebagai ‘hati (berbetuk menyerupai daun waru)’ yang tertancapi ‘anak panah’. Dalam konteks cerita ini, hati tersebut adalah hatinya Dewa Siwa, adapun mata panah itu adalah ‘panah puspa’ yang dilesatkan dengan tepat oleh Dewa Asmara (Kama).

Hati yang tengah terbakar oleh api asmara disiyilahi dengan ‘hati yang berbunga-bunga’, sebab kendati hati itu terkena panah, namuan panahnya adalah ‘panah bunga’. Suasana asmara didikaitkan dengan Dewa Kama dan Rati. Pada relief cerita “Parthayajna” di teras ke-2 Candi Jajaghu, dalam perjalanan ke tempat pertapaan di Gunung Indarakila, hati Partha (nama muda dari Arjuna) tak terelakkan digoda oleh ‘kama (nafsu). Kemesraan Kama-Rati yang Partha jumpai dalam perjanan religisnya itu sempat menggoda hatinya, yang berupaya untuk bisa terhindar dari godaan kama.

Hati adalah muasal cinta, yang bukan hanya ‘fisis (wadag)’ sosoknya, meliankan bisa berwujud spirit (non-fisis, tak berwadag). Dalam kisah itu, wadag Kama dan Rati sebagai sepasang Dewa-Dewi Asmara boleh lenyap oleh api dari trinetra Siwa, namun spirit cintanya akan tetaplah ada, selamanya. Itulah apa yang dinamai dengan ‘rasa cinta’, itulah yang patur untuk ‘direnungkan’. Dalam kaitan itu, saya (penulis) jadi teringat kepada syair suatu lagu jadul pupuler di zamanhya, yang berjudul ‘Renungkanlah”, yang konon dipopulerkan oleh M. Mashabi, dengan lirik lagu demikian :

Rasa cinta pasti ada
pada makhluk yang bernyawa
Sejak lama sampai kini
tetap suci dan abadi

Takkan hilang selamanya
sampai datang akhir masa
Takkan hilang selamanya
sampai datang akhir masa.

Renungkanlah ….

Perasaan insan sama
ingin cinta dan dicinta
Bukan ciptaan manusia
tapi takdir Yang Kuasa
Janganlah engkau pungkiri
segala yang Tuhan beri.

Apabila cinta telah menghamipiri, maka tak seorangpun kuasa mengihindari. Dewa Siwa yang menskipun tengah gentur bersamadi, namun ketika hatinya tekena panah puspa dari Dewa Cinta (Kama), tak kuasa juga untuk menghindar fari kobaran asmara di dalam hatinya. Cinta karenanya adalah kekuatan yang luar biasa. Apinya berkobar kuat, yang tidak terpadamkan, sekalipun oleh semburan air satu tangki dari mobil pemadam kebakaran.

Demikianlah kualtnya spirit cinta, sehingga kematian tidak dilihat sabagai penghalang. Demi kesetian, demi cita kasihnya kepada Kama, Rati menyediakan kematiannya guna menyertai Sang Suami ke alam kematian. Inilah yang menjadi spirit tradisi “bela-pati (dalam istilah Sanskreta dinamai ‘sati’), yakni tindakkan altruistuk yang ditandai dengan ketulusikhalasan istri untuk mengakhiri hidupnya guna mengikuti kematian suami. Gambara demikian banyak didapati dalam susastra Jawa Kuna. Kakawin Bharatayuddha dan Gathotkacasraya, Kidung Sunda (Sundayana) dan Ranggalawe, legenda Roro Mendut dan Pranacita, serta banyak lagi memuat kisah dramatik-altristiik para istri yang rela melakukan belapati. Hal serupa kita dapati pada trafedi cinta Romeo-Julia. Sampek-Eng Tay, Alexder-Cleopatra, dsb.

Kekuatan cinta juga tergambarkan dalam berbagai pusi cnita, Khalil Gibran misalnya, mengambarkan kekuatan cinta sebagai berikut :

Pabila cinta memanggilmu,
maka dekatilah dia, 
walau jalannya terjal berliku,
dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat,
takkan tercipta bertahun-tahun,
bahkan abadi.

Panggilan cinta tak sekedar panggilan nafsu (kama, asmara)m namun dalam arti luas cinta bersangkut-paut dengan ‘kasih; atau acap disebuti lengkap dengan ‘kasih-sayang, cinta kasih’. Demikan pula sebutan untuk ‘kekasih’, tak hanya tertu kepada pacar, istri resmi ataupun ‘istri gelap’, namun bisa pada siapa saja yang dicintai, dikasihi atau disayangi. Pendek kata, kepada ‘si jantung hati’, kagem ‘ingkang sinorowedi’.

Kekuatan dari cinta dalam terjang-menerjang, yang tak pernah mau peduli akan halang-rintang, menjadikan seloah cinta itu buta, tanpa mata tanpa telinga. Cinta bisa membutakan mata siapun, tua-muda, laki-istri, kaya-miskin. Cinta mentulikan telinga siapapun, meski berkali-kali kata-kata larangan dipekikkan ke telinga peyandang ‘derita cinta’ tak juga ia menggubrisnya.

Sakit rindu karena cinta, itulah yang disebut dengan ‘sakit asmara (lara wuyung)’. Derita sakit yang bukan tidak mungkin melanda siapapun, kapanpun dan dimanapun. Pada deretan panil ‘Relief Cerita Panji’ di Pendapa Teras II Kompleks Candi Penataran digambarkan seorang wanita muda tengah sakit. Bukan karena penyakit biasa, melainkan sakit rindu, lantaran terpisah jauh dengan kekasih (suami)-nya, yakni Panji, yang tengah menjalani pembelajaran jauh di seberang. Penyakitnya ini pun serta merta sembuh seketika, berkat menerima sepucuk surat cinta yang dihantarkan oleh burung (atat) Jaruman – sebagai ‘burung pos’. Terlebih setelah kepulangan Panji. Lantaran cinta itu buta dan tuli, maka banyak orang dibutakan dan ditulikan oleh cinta. Yang bersangkutan tak terkendali, baik sikap ataupun tindakannya.

P e n u t u p

Kalaupun cinta itu tak terbendungkan kehadirannya, maka yang dilakukan terhadapya bukan menolaknya sekuat tenaga. Bukan dengan membangun tembok kokoh-tebal buat perisai untuk menghadangnya. Tidak pula dengan membedung deras kuat alirannya. Lebih tepat kiranya dengan cara mengelola alirannya, sehingga tidak menimbulkan petaka, baik pada dirinya sendiri, keluarga maupun aib di masyakatnya. Maka dibutuhkan kewasapadaan dan kedewasan dengan mengelolnya secara bijak apabila cinta datang melanda.

Demikian essay perdana mengenai ‘ROMANTIKA ASMARA SETIAP MASA’, yang kali ini mengangkat romantika asmara lama di dalam susustra “Kakawn Smaradahana’. Kisah cinta ini ditokohi oleh Dewa Jama dan Dewi Rati, yang dalam pewayangan Jawa diberi sebutan “Kamajaya dan Kamarati”. Pasangan dewata ini juga tampil dalam ritus lingkaran hidup manusia, tepatnya tradisi upacara ‘mitung wulani (tingkeban)” kehamilan, dimana figur tokoh wayang Kama-Ratih diguriskan pada kulit cengkir gading, demgan pengharapan bayi yang kelak lahir apsbila perempuan diharap mirip dengan kecantikan dan kesetian Dewi Ratih, dan jika pria menyerupai ketampanan Dewa Kama. Terlepas dari berjenis kelamin pria ataukah waita bati yang bakal lahir itu, yang terang merupakan buah canta-kasih ayah-bundanya. Pada kesempatan lain, bakal disusuli dengan romantika asmara dari masa-masa lain, dengan kisah lain, dan semoga tak membosankan. Kisah asmara bukan hanya enak diikuti romantikanya, namun ada sisratan nilai yang bermakna untuk mendewasa sikap dan tindakkan diri.

Semoga tulisan ringkas yang cuma bersahaja ini membuahkan kefaedahan. Baik bagi yang tengah kasmaran ataupun bagi yang hatinya telah dan masih senantiasa dikobari api cinta. Selama “Smaradiwsa (Hari Asmara, Valentine Day)”. Sembah nuwun bekenan telah membacanya.

Sangkaliang, 11 Februari 2018
PATEMBAYAN CITRALEKHA

*Arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Negeri Malang

Tinggalkan Balasan