Manusia Literasi : Membaca Masa Lalu Menulis Masa Depan

Jika ditelisik, sebab rendahnya minat baca masyarakat karena rasio ketersediaan bacaan dengan jumlah penduduk Indonesia. Setiap tahun hanya tersedia 50 juta judul buku baru sementara penduduk Indonesia pada tahun 2021 mencapai 270 juta jiwa.

Ilustrasi Budaya Membaca Buku (Pixabay.com)

Terakota.id–Salah satu indikator bangsa yang cerdas dapat dilihat dari tingkat budaya membaca dan menulis (keaksaraan). Indikator tersebut tepat, mengingat dengan membaca manusia belajar dari masa lalu. Serta dengan menulis pengalaman dan gagasan jadi tertata abadi. Itulah ilmu pengetahuan yang menghidupkan peradaban manusia hingga kini.

Sumbangsih aksara terhadap kemajuan peradaban telah teruji secara historis maupun sosiologis. Semakin baik keaksaraan suatu bangsa, semakin maju pula peradaban dan keadaban bangsa tersebut. Demikian halnya jika suatu bangsa tidak punya budaya aksara yang kokoh dan tradisi intelektual yang kuat, membuatnya mudah goyah nan rapuh.

Sejarah peradaban manusia/bangsa Mesir Kuno, Cina Kuno, Makedonia Kuno, Mesopotamia, Persia Kuno, India Kuno, dan Yunani Kuno memiliki tradisi literasi yang kuat. Menjadikan peradaban bangsa-bangsa tersebut unggul dan termasyhur (Saryono, 2019; xi). Demikian dalam konteks Indonesia, mulai zaman kerajaan nusantara hingga masa perjuangan kemerdekaan kental dengan pengaruh aksara baca-tulis.

Sejak ditemukan, perkembangan aksara terus berlangsung hingga kini. Belakangan istilah aksara lebih populer dengan sebutan literasi. Pemaknaan literasi, kini, tidak hanya tentang membaca dan menulis saja, melainkan cakupannya lebih luas. Menurut UNESCO, ada enam literasi dasar yakni, literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi finansial, literasi sains, literasi budaya dan kewarganegaraan, dan literasi teknologi informasi dan komunikasi atau digital.

Lebih dalam, National Institute for Literacy mengartikannya sebagai kemampuan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung serta mampu memanfaatkannya untuk memecahkan masalah dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat (Kemendikbud, 2020). Sampai titik penjelasan tersebut, pemaknaan literasi menjadi satu kesatuan dengan kemampuan atau keterampilan manusia menjalani hidupnya. Tidak terpisahkan.

Tanda seseorang memiliki tingkat literasi yang baik dapat dilihat dari keterampilan individu dalam menjalani hidup. Individu dengan literasi mumpuni cenderung cakap menyelesaikan persoalan. Namun bukan berarti bahwa individu yang tidak menempuh bangku sekolah pasti minim keterampilan menyelesaikan masalah.

Justru individu yang terampil menyelesaikan suatu perkara dengan baik berarti memiliki literasi memadai. Kata kuncinya ada pada kemampuan menangani persoalan hidup. Kemampuan tersebut tentu tidak hanya diperoleh dari bangku sekolah, melainkan juga dari pengalaman hidup. Itulah makna literasi secara esensial.

Jika ditelaah berdasarkan cara kerja logical frame work, masing-masing variabel antara lain, literasi, keterampilan mengatasi persoalan, dan pendidikan, dapat diurutkan. Terampil menjalani hidup yang ditandai kemampuan menyelesaikan persoalan dengan baik merupakan outcame. Sementara literasi adalah output, dan pendidikan itu instrumen penting mencapai output dan outcame tersebut. Barangkali jika ditarik pada tataran visi, maka mencapai kehidupan damai sejahtera merupakan cita-cita manusia di belahan bumi manapun.

Sebegitu penting literasi bahkan sejak memasuki bangku sekolah diajarkan literasi dasar seperti membaca dan menulis. Pada tingkatan pendidikan yang lebih tinggi akan disuguhi literasi yang sesuai porsinya. Sejujurnya dalam pandangan penulis, literasi bukan instrumen pendidikan, sebaliknya melalui pendidikan kecakapan berliterasi dapat dimiliki individu. Belajar dari sejarah panjang perdaban manusia dan literasi, sesungguhnya kita ini manusia literasi.

Kondisi literasi kita
Indonesia tercatat sudah mengenal aksara sejak 1500 tahun lalu melalui aksara Palawa dengan Bahasa Sansekerta. Beberapa bukti peninggalannya antara lain, Prasasti Kutai pada abad ke-4 Masehi, Prasasti Tarumanegara di Jawa Barat, dan Prasasti Canggal pada abad ke-8 di Jawa Tengah. Nenek moyang bangsa kita ternyata sudah sejak lama mengenal-menggunakan aksara.

Pada masa perjuangan kemerdekaan pun para pejuang bangsa lekat dengan literasi baca-tulis. Karena membaca dan menulis, para pahlawan bangsa memiliki daya intelektual guna mengkritisi dan melawan penjajahan. Perjuangan tersebut terbukti membuahkan kemerdekaan. Melihat peran aksara-literasi bagi peradaban Indonesia yang begitu besar rasanya sangat penting menjadikannya budaya yang dimiliki segenap masyarakatnya. Kita butuh refleksi atas perjalanan literasi bangsa ini. Untuk melihat kondisi literasi Indonesia kekinian, biarlah data yang menjelaskan.

Hasil penelitian UNESCO memaparkan temuan memprihatinkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya mencapai 0,001%. Hal ini berarti, dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 orang yang rajin membaca. Selain itu, pada tahun 2016 Central Connecticut State University melakukan riset bertema World’s Most Literate Nation Ranked menemukan hal serupa. Minat baca Indonesia berada pada peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei.

Jika ditelisik, sebab rendahnya minat baca masyarakat karena rasio ketersediaan bacaan dengan jumlah penduduk Indonesia. Setiap tahun hanya tersedia 50 juta judul buku baru sementara penduduk Indonesia pada tahun 2021 mencapai 270 juta jiwa. Ada kekurangan 220 juta judul buku baru jika ukurannya 1 buku baru setiap orang per tahun. Sementara ukuran yang dipakai UNESCO adalah standard minimal 3 buku baru setiap orang per tahun. Dari data tersebut dapat disimpulkan hanya sedikit orang yang produktif menulis di Indonesia. dari fenomena dan data di atas tampak literasi baca-tulis saling terkait.

Bangsa yang Cerdas Membaca Masa Lalu Menulis Masa Depan
Kesadaran akan pentingnya membaca sudah diketahui semua orang. Namun perihal apakah kesadaran tersebut medarat atau tidak biarlah data yang berbicara. Kondisi literasi baca tulis Indonesia yang terpuruk perlu disikapi dengan bijak. Apa gerangan penyebabnya dan bagaimana cara memperbaikinya?

Sejumlah analisis menyebut bahwa rendahnya minat baca dipengaruhi oleh minimnya bahan bacaan sekaligus minimnya penekanan budaya membaca. Teknik membaca bisa cepat dipelajari, namun praktiknya harus digiring oleh falsafah yang tepat dan mengakar. Ada alasan kuat untuk membaca, bahkan jika perlu malu alpa membaca karena sama halnya menafikan budaya.

Sejarah mencatat orang-orang hebat republik ini terbentuk intelektualnya dari membaca. Bung Hatta bahkan berani berkata “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Sama hal dengan Bung Karno yang berucap demikian “Saya ini, boleh dikatakan, sebagian daripada hidup saya itu pekerjaan cuma membaca, membaca, membaca, membaca, dan membaca. Atas pengalaman mereka juga menyarankan kepada generasi penerusnya supaya membaca agar mampu merawat negeri yang ditinggalkannya. Dengan membaca kita belajar banyak hal dari masa lalu.

Satu tingkat di atas membaca adalah menulis, ada pepatah Cina “Menulis adalah membaca dua kali”. Membaca adalah aktivitas memperoleh pengalaman dan ide dari orang lain, sementara menulis adalah aktivitas menata pengalaman dan mencipta gagasan yang baik dibaca oleh orang lain maupun sekadar konsumsi diri sendiri.

Pada hakikatnya menulis berarti berbagi ilmu, namun jauh sebelum itu sesungguhnya juga merupakan media belajar. Belajar dalam arti mendalami dan menata gagasan. Dengan menulis, pikiran akan terlatih bekerja secara sistematis dan runtut membaca suatu fenomena. Melalui tulisan juga tercipta kedalaman ilmu pengetahuan dan kematangan berpikir. Menulis dapat membuahkan perubahan.

Rasanya ada begitu banyak bukti kesaktian tulisan yang dapat dirujuk. Salah satu contohnya tulisan Multatuli berjadul “Max Havelar” yang bercerita tentang kisah kesewenangan Raja Kesultanan Lebak Banten dan Pemerintah Kolonial Belanda kala itu terhadap masyarakat pribumi. Ia mengkritisi dengan tajam kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat dan menilai Raja dan Pemerintah Kolonial Belanda hanya mementingkan diri dan kelompoknya. Kritik tersebut terdengar oleh Raja Lebak Banten dan Pemerintah Kolonial Belanda sehingga menimbulkan kegelisahan atas kebijakannya yang tidak manusiawi.

Berawal dari tulisan tersebut lahir politik etis (balas budi) untuk memperbaiki tiga sektor utama. Sektor edukasi (pendidikan), irigasi (pertanian), dan transmigrasi (kependudukan). Selain itu, masyarakat pribumi utamanya golongan muda terpelajar semakin berani membentuk gerakan yang mengkritisi pemerintahan Kolonial. Hingga perjuangan kemerdekaan massif dilakukan dan membuahkan kemerdekaan. Dari kisah tulisan Multatuli dapat dipelajari bahwa menulis adalah pekerjaan mencipta perubahan di masa depan.

Itulah sekilas cerita literasi dan peradaban manusia. Kekinian, istilah literasi makin akrab di telinga masyarakat Indonesia seiring kesadaran pentingnya literasi. Karenanya, perlu ada upaya berkelanjutan meningkatkan kualitas literasi bangsa. Ayo! budayakan literasi, sebab, kita ini manusia literasi!

**Setiap artikel menjadi tanggungjawab penulis. Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Subjek : Terasiana_Nama_Judul. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini