Manusia Dongeng

manusia-dongeng

Terakota.id–Ketika membaca Harari, saya ingat judul buku biografi Boedihardjo, Siapa Sudi Saya Dongengi (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996).

Tapi, dalam kolom ini, saya tak hendak membahas buku Boedihardjo (1921-1997), menteri Penerangan semasa awal pemerintahan Orde Baru itu (1968-1973). Saya hanya terkesan judul bukunya yang persuasif.

Judul itu membujuk, tak terkesan memaksa. Tetapi, sepertinya hendak mengingatkan bahwa, sudah menjadi tabiat bangsa manusia, kalau dia suka dongeng.

Dongeng ialah ringkasan kisah, yang bahkan dipercampur dengan ragam imajinasi, dan seringkali memang bukan fakta. Yang penting bagi sebuah dongeng, bukan verifikasi fakta, tetapi keindahan cerita dan di atas semuanya menyimpan pertanyaan mendasar: apa pesan moral ceritanya.

Manusia butuh pesan moral untuk bertahan dan berkembang. Ini bisa kita konfirmasi dari buku fenomenal Yuval Noah Harari, Sapiens, Sejarah Ringkas Umat Manusia dari Zaman Batu hingga Perkiraan Kepunahannya (Jakarta: Alvabet, 2017).

Homo sapiens ialah spesies manusia yang masih bertahan di antara setidaknya enam spesies lainnya. Ada penjelasan dari Harari mengapa ia bertahan. Pertama, secara mutasi genetik memungkinkan mereka berpikir dalam cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan berkomunikasi dengan satu jenis bahasa yang sama sekali baru. Itu terjadi 70.000 tahun yang lalu, ketika rombongan Sapiens meninggalkan Afrika yang kedua kalinya.

Penjelasan kedua, adanya evolusi bahasa sebagai sarana berbagi informasi tentang dunia. Homo sapien pada dasarnya “binatang sosial” yang mengedepankan kerjasama sosial. Kemudian muncul suatu revolusi kognitif.

Mereka punya kemampuan baru: menyampaikan informasi dalam jumlah lebih besar tentang dunia yang mengelilingi mereka, hubungan sosial, dan bahkan informasi tentang hal-hal yang tidak benar-benar ada (mitos dan legenda).

Penjelasan terakhir ini menarik. Kita eksis karena dongeng.

Dan, kita bisa mengaitkannya dengan mengapa ada kisah-kisah 1001 Malam, Mahabharata, Khalilah dan Dimnah dan sejenisnya. Legenda dan mitos juga sering membuat manusia bunuh-membunuh. Tetapi, merujuk Harari, justru membuat mereka pandai bertahan.

Buku ini banyak dibaca orang, dan setidaknya membuat mereka yang biasa menulis esai imajiner merasa punya semangat, bahwa mereka punya kontribusi bagi survivalitas homo sapiens.

Lagi pula dongeng, kini juga dianggap penting sebagai sarana pendidikan karakter. Karena, seperti disebutkan di atas, yang ditekankan dalam suatu dongeng ialah, moral ceritanya.

Memang, dongeng berpotensi meninabobokan. Bisa pula berdampak mempertebal stereotipe dunia lain: Barat terhadap Timur, misalnya. Ketika, kisah-kisah 1001 malam dibesar-besarkan sebagai prototipe dunia Timur.

Misalnya, film The Water Diviner (2014) yang dibintangi Rusell Crowe. Film ini mengisahkan sejarah Perang Gallipoli yang melibatkan prajurit Australia di era Perang Dunia Pertama.

Terlepas plot kisahnya, terdapat di sana adegan ketika anak muda Australia, yang sebelumnya hanya tahu dunia Timur, hanya dari kisah 1001 Malam. Namun kelak, ketika dinyatakan hilang dalam perang, setelah ditemukan, dia malah telah menjadi pengikut sufi.

Tradisi dongeng di Dunia Timur berkembang seiring peradabannya. Dunia Barat juga punya dongengnya sendiri. Seringkali ada kemiripan-kemiripan. Tapi, apakah dongeng yang dikembangkan Ibn Tufail (yang dikenal Hayy ibn Yaqzan tokohnya) ataukah H.C. Andersen, bertemu dalam moral cerita yang sama.

Apakah Omar Khayam dengan Hermann Hesse, ataukah Johann Wolfgang von Goethe, Rabindranat Tagore, hingga Pramoedya Ananta Toer, dapat dilacak benang merah pesan moralnya dalam ilmu sastra.

Tapi mungkin kita punya pengalaman yang sama: didongengi nenek atau ibu seleum tidur. Saya ingat ini justru ketika kolega senior saya Hamid Basyaib mengarang buku dongeng untuk anandanya.

Mas hamid mengarang buku, Love Letters from a Father (Wahyu Media: 2018). Buku itu berisi 24 cerita anak yang masing-masing ceritanya mengajarkan nilai moral. Saya begitu iri dengan Mas Hamid, yang begitu romantis sama anaknya.

Tiba-tiba saya ingat almarhum ibuku yang suka mendongeng. Juga nenekku. Juga guru-guruku. Mereka manusia dongeng, yang akan terus kukenang. Mereka telah menanamkan nilai-nilai moral kelaziman kamnusiaan kita.

Saya menyesal kini. Ketika anak-anakku sudah besar-besar, tak bisa lagi mendongeng ke mereka sebelum tidur (kecuali dulu sering didongengi ibunya yang pandai berkisah).

Saya tentu tak dapat menarik kembali jarum sejarah, agar mereka jadi anak-anak lagi. Mungkin nanti, kalau saya sudah punya cucu-cucu. Tapi, ah, apakah cucu-cucuku kelak, sudi aku dongengi?

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini