Malam Budaya Berbalut Seni Tradisi di Lereng Bromo

Terakota.id–Dingin menyergap tubuh tak menyurutkan malam budaya di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Desa yang terletak di kaki Gunung Bromo ini tengah menyelenggarakan ritual yang diselenggarakan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 13.

Malam budaya bertema “Menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal berbasis pariwisata guna Desa Ngadas yang berkarakter.” Dukun Sutomo, duduk bersila di depan sesaji yang letakkan di atas nampan. Aneka buah-buahan dan makanan tersaji.

Duduk bersimpuh sembari merapal mantra dalam ritual yang diselenggarakan dalam malam budaya. Ritual malam budaya merupakan program kerja terakhir KKN 13. “Ritual pelepasan anggota KKN 13 Ngadas dipimpin dukun selaku tokoh adat,” kata Ketua Panitia penyelenggara malam budaya Roudita dalam siaran pers yang diterima Terakota.id, Sabtu malam 4 Agustus 2018.

Malam budaya digelar sebagai bagian saling menghormati budaya masyarakat Ngadas. Ritual doa dukun Ngadas untuk melepas mahasiswa KKN 13 Ngadas. Selepas meninggalkan Ngadas, katanya, diharapkan bisa menjadi bekal untuk bergaul kembali kepada masyarakat. Agar lebih berguna dan bermakna.

Ritual diakhiri dengan memotong tumpeng Dukun Sutomo menyuapi satu persatu mahasiswa anggota KKN 13 Ngadas. Malam budaya juga menampilkan kesenian tradisional yang kerap ditampilkan masyarakat Ngadas. Meliputi tari Beskalan dan tari Lesung  jumenglung.

Tari Beskalan merupakan tarian asli Kabupaten Malang. Biasanya pertunjukan saat menyambut tamu yang dihormati. Atau menjadi tarian selamat datang. Tari Beskalan juga dipentaskan dalam seni ludruk, biasa disajikan setelah tari remo.

Dalam sejarahnya, tari beskalan dijadikan pertunjukan tari secara khusus. Seperti ritual atau upacara mendirikan bangunan. Tari beskalan ditampilkan mengiringi ritual menanam kepala kerbau dan sesajen agar terhindar dari bahaya.

Tari Beskalan juga merupakan wujud syukur atas tanah yang subur dan hasil pertanian yang melimpah. Serta sebagai upaya menghormati para leluhur. Tari beskalan juga disajikan saat bersih desa dan ritual tertentu.

Tari Lesung Jemunglung Desa Ngadas hanya tampilkan pada acara-acara khusus. (Foto : dokumentasi KKN 13 Ngadas).

Sementara tarian Lesung Jemunglung Desa Ngadas acap tampilkan pada acara-acara tertentu. Tarian Lesung Jemunglung memiliki beberapa keunikan, yakni penari tak perboleh mengenakan warna hijau pada riasan wajah maupun kostum yang dikenakan. Lantaran warna hijau dianggap mengundang aura negatif bagi Desa Ngadas.

Roudita mengatakan malam budaya merupakan salah satu wadah bagi generasi muda untuk berkreasi dan berkesenian. Desa Ngadas merupakan desa tertinggi di Kabupaten Malang. Berada di lereng Gunung Bromo.

Ngadas dikenal dengan sebutan “Negeri di atas awan.” Desa unik, memiliki ragam budaya dan agama. Namun, tetap terjaga toleransi dan saling menghormati antar agama.

Penduduk Ngadas sekitar 50 persen beragama Buddha, sedangkan pemeluk Islam 40 persen dan Hindu 10 persen. Namun, mereka tetap memegang teguh adat istiadat dan tradisi yang diwariskan turun temurun oleh para leluhur.

Tinggalkan Balasan