Makna Biyung dalam Konteks Sosio-Budaya Jawa

Dian Sastro pemeran film Kartini April 2017. (Foto : Legacy Pictures).

Oleh : M. Dwi Cahyono*

Arti Istlah dan Kata Lain yang Bersinonim Arti

Terakota.id“Aduh biyung ……”, suatu kata sambat (mengaduh, keluh kesah) ketika seseorang terkena musibah. Tidak hanya anak-anak saja yang ketika mengaduh arah sambatnya ditujukan kepada biyung. Namun kata sambat yang demikian bisa juga terucap dari mulut orang dewasa. Seolah, biyung lah yang menjadi terminal akhir bagi sambatnya, bagi keluhkesahnya, bagi mengaduhnya siapapun.

Biyung adalah payung besar yang meneduhi, biyung sekaligus “guardian” yang melundungi anak-anyak dari ganggungguan pihak lain — bayangkanlah bagaimana galaknya induk ayam ketika anaknya diganggu. Pertanyaan adalah “siapa sesungguhnya BIYUNG itu?”

Kata “biyung” gapang diucap lebih singkat dengan “yung” saja. Dalam bahasa Jawa Baru, kata “biyung” berarti: orang tua perempuan, ibu. Kata jadian “biyungen” menunjuk kapada : selalu rindu pada ibunya (Mangunsuwito, 2013:263), yang dalam istilah ngoko disebut “mbok-mboken” dari orang yang dalam istilah gaul disebut “anak mama”.

Kata “biyung” ternyata tidak terdapat dalam bahasa Jawa Kuna ataupun Jawa Tengahan. terdapat kata “byung” dalam istilah kono, namun artinya tak menujuk pada ibu, melainkan : dalam jumlah banyak (bergerak dan berbaur, menimbulkan suara gaduh) (Zoetmulder, 1995: 149).

Dalam bahasa Indonesia terdapat kata yang mirip dan artinya serupa, yaitu kata “biang”, yang berarti : (1) induk (tentang binatang, tumbuhan), (2) kepala, pimpinan, (3) sari wtau pati, (4) jenis yang tulen, (5) pokok pamhkal, asal mula (KBBI, 2003:146).

Dalam konteks arti ini, jempol tangan atau kaki, yang acap disebut “ibu jari”, bisa juga “biang jari”. Demikianlah, biang bersinonim arti dengan ibu, yang menjadi induk dalam keluarga, kepala keluarga — selain ayah, dan asul usul untuk terbentuknya sanak keluarga.

Ibu ibarat “telor (ndok, endok), yang daripadanya lahir (menetas) keturunan. Oleh karena itu, ibu dari Ken Angrok, yang sekaligus muasal dari para raja di kerajaan Singhasari diberi sebutan “ndok” oleh kitab gancaran Pararaton, yaitu Ken Ndok”.

Kontek Pemakaian Sebutan “Buyung”

Kata “biyung” acap digunakan dalam konteks pengormatan terhadap ibu. Terkadang, kata “biyung” digabung dengan kata “ibu” menjadi “ibu-biyung” untuk maksud penghormatan. Selain untuk ibu, sebutan ini juga digunakan untuk abdi perempuan (emban, pengasuh anak, pembantu keluarga), seperti pada perkataan “biyung emban”. Namun, bukan berati bahwa ibu direndahkan setingkat emban, namun sebaliknya memberi penghargaan bahwa emban berfungsi penting serupa ibu.

Dalam kisah “Bawang Merah -Bawang Putih”, sebutan untuk ibu angkat dari Bawang Merah dan putih adalah “biyung”. Jadi, meki bukan ibu kandungnya sendiri, ibu angkat diposisikan setara dengan ibu. Demikian pula, dalam dialog wayang kulit, wayang orang, kethoprak ataupun ludruk sebagai teater Jawa tradisonal, sebutan “biyung” acap digunakan, baik kepada ibu, emban, atau kepada wanita-wanita lain yang perpetan laiknya ibu kepada seseorang. Kata “biyung” karenanya adalah sebutan lain untuk “ibu, embok, emak, uma, umi, dsb.”.

Kembali pada kata sambat “aduh biyung”, terdapat perkataan yang padan arti, seperti ” aduh embok, aduh mak, aduh embok, aduh ibu”. Kata adah menggambarkan keluh kesakitan, dan dalam kondisi demikian, yang disambat bukanlah ayah nya, melainkan ibunya. Tergambar bagaimana ibu memerankan diri sebagai pelindung, pengayom, penolong, pembela bagi anak. Utamanya ketika anaknya tengah menghadapi petaka, kesulitan.

Dalam kisah tradisional Jawa Timuran “Sarip Tambakyoso”, dikisahkan bahwa Sarip yang meregang nyawa sontak bugar ketika dirangkul ibunya. Demikian pula, ada cerita lama yang membuat anak siuman dari pingsannya dengan jalan mengusapkan (ngraupke) ujung bawah kain panjang (jarik, jarit) ibu ke muka anaknya yang tengah pingsan.

Itulah gambaran kusah mengenai “kesaktian” ibu, sebagai penolih, penyelamat.atau penyembuh bagi anaknya. Gambaran “kesaktiannya” juga terluhat dalam tuah atau kutukan ibu pada anak yang durhaka, serti dalam kusah “Malin Kundang” di ranah Minang, kisah “Joko Budeg” di Tulungagung”, kisah “Sangkuriang” di Tatar Sunda, dan legenda seripa utu di pantai Plehari Tanah Laut Kalimantan Selatan.

Oleh karenanya, tidak berlebihan apabila dalam bahasa Jawa Sang Ibu dinyatakan sebagai “malati”. Terkait itu, durhaka terhadap ibu bisa menyebabkan “kuwalat”.

Sebutan “Biyung” yang Kian Tak Disebut

Sebagai sebutan, kata “buyung” kian jarang diucapkan. Makin jarang diucap, maka kosa kata itu menjadi rentan hilang di tengah masyarakat. Jangankan faham arti dan kandungan makna darinya, mendengar saja tidak. Oleh karena, ustilah ini perlu kembali dimasyakatkan agar tidak menguap dan lentap dari kosa kata Jawa yang kaya istilah. Yang tetang, dalam kurun waktu lama, kata “biyung” hadir dalam kebahasaan Jawa.

Demikian tulisan ringkas dan bersahaja ini. Meski sedikit, semoga memberi kefaedahan. Dalam hormat kepada para “biyung” dan selamat ‘Hari Biyung” besok (Sabtu, 22 Desember 2018). Nuwun.

Sangkaling, 21 Desember 2018
Griya Ajar CITRALEKHA

*Arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini