Mahasiswa Universitas Widyagama Merekam Ecososioreligiokultural Suku Tengger

Mahasiswa Universitas Widyagama Malang mendokumentasikan dan merekam jejak hukum Ecososioreligiokultural Tengger. (Foto : dokumentasi UWG).

Terakota.id–Mahasiwa Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang merekam jejak hukum ecososioreligiokultural suku tengger di Desa Ngagas, Poncokusumo, Kabupaten Malang dan Ranupani, Senduro, Lumajang, 5-7 Maret 2021.  Aktivitas mereka rekam menggunakan kamera ponsel. Aktivitas mahasiswa bertajuk Phonegraphy Advokasi : Merekam Jejak Hukum Ecososioreligiokultural Tengger.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Widyagama, Purnawan Dwikora Negara memprediksi terjadi perubahan ecososioreligiokultural suku adat Tengger. Mereka bermukim di daerah konservasi desa enclave atau yang berada di tengah-tengah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. “Rekaman perubahan ini yang disorot dalam perspektif hukum,” kata Purnawan dalam siaran pers yang diterima Terakota.id, Ahad 7 Maret 2021.

Mahasiswa Universitas Widyagama Malang mendokumentasikan dan merekam jejak hukum Ecososioreligiokultural Tengger. (Foto : dokumentasi UWG).

Para mahasiswa mendokumentasikan dan merekaman peristiwa dalam berbagai perspektif. Meliputi perspektif hukum konservasi, hukum lingkungan, hukum tata ruang, hukum HAKI, budaya hukum, maupun faktor faktor non hukum lainnya yang mempengaruhi perkembangan budaya hukum masyarakat Tengger dan hukum adatnya.

Sebelum mendokumentasikan suku adat Tengger, mahasiswa ini mendalam materi teknik foto berbicara menggunakan kamera HP. Mereka didampingi Sri Wahyuni dari sebuah komunitas fotografi Kota Batu yang berbasis kamera HP Utab Phonegraphy.

Koordinator kegiatan Fika menjelaskan hampir semua mahasiswa memiliki telepon pintar. Sebagai mahasiswa fakultas hukum harus dapat bertanggungjawab atas perangkat komunikasi modern yang dimilikinya. Juga mengoptimalkan kamera telepon pintar atau gawai sebagai piranti yang bermanfaat dalam studi.

“Sehingga penting merekam dinamika perkembangan ecososioreligiokultural yang berpengaruh pada perkembangan hukum masyarakat setempat (hukum adat) maupun hukum negara,” katanya.

Minimal, kata Fika, ada arsip perkembangan Tengger Ngadas dan Ranupani. Khususnya perubahan ekologi, kearifan lokal, budaya hukum di berbaggai sisi kehidupan seperti berladang, tata ruang, pemanfaatan kayu-kayu di hutan, model pemenuhan kebutuhannya. Data yang terekam bisa dibandingkan dalam rentang waktu 10 tahun atau 20 tahun kedepan.

Hasil rekaman ini bakal dipamerkan secara daring 31 Maret 2021 sebagai bagian peringatan 50 tahun Universitas Widyagama Malang di laman https://widyagama.ac.id. Dalam pameran itu, hasil bidikan foto mahasiswa akan diberi narasi yang menjelaskan konteks dan makna hukumnya.

Pameran akan menjadi referensi bagi para mahasiswa yang meminati hukum adat atau pun antropologi hukum. Lantaran mendapat model referensi alternatif berupa dokumentasi hukum dalam bentuk foto dan narasi.

Fika menambahkan secara prinsip menggunakan telepon pintar untuk meningkatkan kapasitas diri. Telepon pintar juga penting dioptimalkan dalam era model belajar yang sudah berbasis daring. Serta keleluasaan dalam Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, sehingga mahasiswa bisa berkreasi dan mengekspesikan diri lebih optimal.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini