“Mahameru” (Tropical Forest): Hedonisme Alam sebagai Justifikasi

mahameru-tropical-forest-hedonisme-alam-sebagai-justifikasi

Terakota.id–Apa yang Anda rasakan saat melihat karya-karya seni yang hanya berbicara tentang keindahan, bunga-bunga, kupu-kupu dan lain-lain yang indah tapi tidak tampak menyangkut hajat hidup orang banyak? Sebagian yang mengunggulkan seni sebagai ekspresi individu yang murni mungkin akan mengatakan oke saja asal indah secara estetika. Namun, buat sebagian yang cenderung lebih politis, terutama di tengah suasana yang sangat membutuhkan kepedulian terhadap sekeliling, karya-karya semacam itu akan dipandang sebagai karya yang berjuis, tidak kritis, tidak politis.

Nah, pertanyaannya, apakah semua yang sekilas tidak politis itu memang tidak politis? Video klip dan lagu terbaru dari Tropical Forest ini akan membuat kita berpikir lagi. Daripada begitu saja bilang bahwa yang personal itu politis, saya akan mencoba menunjukkan bagaimana sesuatu yang sekilas apolitis itu juga punya kedudukan sendiri yang politis.

Tiga hari yang lalu, Tropical Forest merilis lagu baru beserta video klipnya yang berjudul “Mahameru.” Kebetulan saya dapat link ke laman YouTube lagu tersebut dari kawan saya Mas Didit, yang ternyata adalah sutradara dan pengarah fotografi video klip tersebut. Jadi, daripada menjadi fitnah, saya jelaskan dulu bahwa saya kenal sinematografernya.

Tapi, seperti blogger bertanggung jawab lainnya, sebisa mungkin lah saya akan dukung semua klaim saya dengan bukti-bukti sepantasnya biar tulisan ini tidak jadi semacam kibulan perkoncoan saja. Tapi, biar kita semua saling tahu apa yang kita bicarakan di sini, mari kita lihat dulu video klipnya.

Sekadar pengenalan, Tropical Forest adalah sebuah “unit reggae” asal Malang yang menurut situsnya ini telah menjalani jalur indie sejak tahun 2008. Kalau kita riset di YouTube, kita akan lihat bahwa lagu-lagu mereka banyak membawa isu-isu lingkungan dan sosial. Ada lagu tentang kerusakan alam dan ada lagu tentang perjuangan penegakan hak asasi manusia. Tapi, tema “Mahameru” tidak seperti lagu-lagu alam mereka yang lain.
Hedonisme Alam, Tidak Biasanya

“Mahameru” merupakan single terbaru Tropical Forest. Album penuh terakhir mereka, Nature Scene (2016), tidak menyertakan lagu ini. Video klipnya baru muncul dua hari yang lalu di kanal YouTube mereka ini. Isi lagu ini bisa dibilang berbeda dengan lagu-lagu Tropical Forest lain di album-album mereka sebelumnya.

Kalau lagu-lagu alam mereka biasanya merupakan kritik (“Bumi Merintih” dan “Rimba Raya”) lainnya diselipi isu-isu sosial, plus lagu woles khas reggae pantai seperti misalnya lagu “Feel Da Riddim” di album Nature Scene, lagu “Mahameru” ini agak berbeda. Lagu ini lebih berupa ungkapan tentang nikmatnya alam, menggiurkannya “desir pinus lereng semeru,” mencekamnya “dingin kabut ranu kumbolo,” syahdunya “di sabana membelai jiwa-jiwa”, dan seterusnya.  Intinya, menikmati alam, atau mari kita sebut “hedonisme alam.”

Penggemar Dewa 19 akan menyandingkan lagu ini dengan “Mahameru” lah pendeknya, lagu yang dinyanyikan oleh pendaki gunung saat mulai mendekat berjalan selewat Ranu Pani menuju Ranu Kumbolo. Kalau Anda lahir tahun 80-an dan kemudian jalan ke gunung semeru, mau tidak mau lagu ini akan terngiang di kuping batin Anda, tak peduli Anda cinta atau benci Ahmad Dhani.

Video Mengimbangi Lagu

Video klip “Mahameru” ini perlu diapresiasi secara khusus, terutama karena kemampuannya mengimbangi isi lagu. Mengimbangi bagaimana? Ya seperti di atas tadi: lagu ini berbeda dengan lagu alam Tropical Forest lainnya karena berisi penikmatan alam atau “hedonisme alam.” Video klip ini mengajak penonton menyaksikan kemegahan alam. Tapi, ada satu hal yang perlu saya tegaskan sebagai daya tarik video klip ini, yaitu adanya pembabakan. Ada beberapa babak dalam video klip ini: prolog, isi, dan epilog.

Sejak awal kita diberi imaji melihat ranting-ranting, pegunungan, dan dedaunan melalui teropong kaleidoskop empat bagian. Semua itu muncul disertai narasi lisan bahasa Tengger yang berbicara tentang dewa-dewa (ada kata “sang hyang geni” dan lain-lain) dan bidadari (ada kata “widadari”) dan dilanjutkan dengan tokoh utama klip turut berdoa di sebuah pura bersama seorang lain (Romo Mangku?). Baru selanjutnya kita menikmati gambar alam lain. Ini mengesankan rasa hormat si tokoh kepada penguasa alam–setidaknya begitulah saya bayangkan.

Di bagian inti klip, kita melihat sang gimbal berjalan menyusuri jalur setapak yang sudah dimakan semak, telapak tangannya membelai dedaunan. Di sepuluh detik pertama sejak si tokoh utama menjajakkan kaki di alam saja, kita sudah overdosis dengan gambar-gambar pakis. Kalau sudah kena pakis, hutan basah, danau pagi, kabut, saya suka klenger. Oke, ini saja sudah membahagiakan buat saya. Di bagian inilah kita mulai bisa memaknai ritual di awal klip tadi sebagai penghormatan kepada sang penguasa alam, sebuah nuwun sewu sebelum masuk wilayah yang bukan milik kita.

Keunikan video klip ini juga tampak pada paduan berbagai teknik transisi yang khas. Transisi di sini adalah efek visual yang menjembatani antara satu gambar dengan gambar lainnya. Di beberapa bagian, kita tidak akan mungkin melewatkan transisi antara satu gambar ke gambar lainnya yang cukup unik, misalnya peleburan bermotif fraktal.

Peleburan motif fraktal ini berbeda dengan transisi lazim fade in/out yang membuat kita beralih ke gambar selanjutnya tanpa terasa. Peleburan fraktal ini sedikit banyak membuat kita memberi arti penting pada gambar yang kita lihat sebagai sesuatu yang harus diperhatikan satu per satu.

Tidak hanya itu, ternyata di tempat lain ada transisi unik di mana si tokoh utama video klip masih bertahan di layar sementara langit di belakangnya sudah menghilang dan menjadi gunung di gambar selanjutnya. Penggunaan transisi secara khas dan cocok dengan tema lagu ini memberikan gambar yang membahagiakan buat mata. Video ini melengkapi suasana yang diciptakan oleh lagu dan musik yang menawarkan hedonisme alam itu.

Terakhir adalah bagian epilog, yang tampak dan terdengar sangat mencolok. Bagian ini dimulai ketika mata tokoh utama tiba-tiba berubah menjadi gambar alam dan musik secara jelas berubah mulai dari gebukan snare drum secara beruntun dan gitar utama memberikan solo menarik-narik. Reggae pun hilang.

Di situ kita melihat savana dengan setapak membelah dilihat dengan pandangan burung, pandangan tawon dengan empat baling-baling. Kemegahan kawasan Bromo Tengger Semeru mulai dipamerkan, seperti menggugat, menantang Peter Jackson: BTS nggak kalah kan sama Selandia Baru? Di titik inilah kita para penikmat semestinya mengalami klimaks dari apa yang disebut Eddie Vedder dalam lagu “Setting Forth” sebagai “nature drunk,” atau mabuk alam.

Menggunakan lirik Eddie Vedder yang dibuat untuk film Into the Wild itu,“ di sini kita menjadi “selaras kembali, di alam nan jauh, melayang dan mabuk alam, kita pun bebas.” Kebebasan bersama alam ini akhirnya membuat kita merasakan “hedonisme alam” itu. Kita menjunjung tinggi-tinggi kenikmatan bersama alam.

Hedonisme yang Terjustifikasi

Pertanyaan etisnya sekarang adalah: apakah hedonisme alam ini sah? Apakah bisa kita bernikmat-nikmat bersama alam sementara di luar sana banyak yang perlu diperjuangkan, ada lobang-lobang galian batubara, kita masih rasis bahkan dengan saudara sendiri, masih ada undang-undang yang perlu diusahakan revisinya, ada kasus HAM yang tak terselesaikan? Ini pertanyaan yang hanya bisa dijawab secara kasus per kasus, dan saya akan mencoba menjawab pertanyaan sendiri terkait Tropical Forest.

Bagi saya, video klip dan single ini perlu dibaca dalam kaitannya dengan lagu-lagu dan video klip Tropical Forest yang lain. Kita perlu membaca lagu ini sebagai satu ujaran yang berdialog dengan hal-hal lain. Apa hal-hal lain itu? Tidak ada yang bisa memastikan. Bisa pertanyaan orang. Bisa satu fenomena sosial. Bisa juga lagu-lagu Tropical Forest yang lain. Yang pasti, ada hal lain yang bisa menjustifikasi adanya lagu ini di depan kita.

Lagu-lagu alam mereka yang lain banyak berbicara tentang keprihatinan, kritik, protes, dan ratapan tentang kerusakan dan eksploitasi alam. “Mahameru” mewakili sisi lain dari lagu-lagu alam mereka. Di sini yang ditampakkan adalah indahnya jagat (ageng dan alit) ketika alam terjaga dan bisa dirasakan manfaatnya, ketika kita bisa menghormati alam sebagai sesuatu yang hidup, sesuatu yang menuntut untuk dihormati, disungkemi.

Di situlah kalimat yang sebenarnya ambigu ini tepat: “Di savanah, membelai jiwa-jiwa yang merunduk dan menghamba” sambil menampilkan gambar si tokoh gimbal membelai bunga-bunga ilalang di Pangonan Cilik. Apakah jiwa-jiwa terbelai yang merunduk itu jiwa manusia yang takzim karena alam? Ataukah sebenarnya, kita tamu alam ini yang membelai jiwa-jiwa yang merunduk yang diwakili oleh bunga-bunga ilalang yang dibelai oleh tokoh gimbal kita itu?

Kalau kita orang yang suka optimis dan memandang penting harapan, lagu ini punya apa yang terus-terusan didengungkan Fredric Jameson sebagai “denyut utopia.” Ada harapan di sini. Di antara berbagai kerusakan alam, perkawanan, dan kehidupan sosial yang telah disoroti dalam lagu-lagu Tropical Forest, ada sebuah lagu dengan atmosfer positif yang menunjukkan bahwa keindahan itu masih ada (dan bagus kalau juga ada di tempat lain). Menuju akhir lagu ini, musik kehilangan reggaenya dan terasa megah (kita sekarang suka menyebutnya “epik”) dengan orkestrasi synthesizer yang biasanya dipakai untuk mengiringi adegan-adegan kolosal itu membantu memperkuat denyut utopia yang laten dalam lagu ini.

Ketika lagu ini pun usai, kita bisa bernapas lega, teringat bahwa kita punya ibu, ibu alam, yang perlu kita jenguk, yang mungkin sudah sekian waktu tidak kita jenguk. Dan, sambil mengingat lagu-lagu Tropical Forest yang lain, kita jadi semakin yakin bahwa ada yang perlu terus kita perjuangkan dalam kaitannya dengan alam, karena tanpa perjuangan itu, kita tidak bisa lagi ber-muwajjahah, bertatap muka dengan ibu kita. Memang ini terasa antroposentris, masih memandang kelestarian alam untuk kepentingan kita-kita manusia, tapi setidaknya alam tetap lestari. Lengkaplah kini kritik dan protes yang selama ini muncul dalam lagu-lagu Tropical Forest sebelumnya. Memang ada alasan untuk itu.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini