Magnet Yadnya Kasada di Bromo (2-Habis)

Umat Hindu Tengger Persembahkan Hasil Bumi

Usai malam resepsi, mereka melanjutkan dengan upacara Yadnya Kasada di Pura Agung kawasan lautan pasir sejauh satu kilometer dari kawah Gunung Bromo. Ribuan umat Hindu Tengger mengenakan pakaian adat, berjalan kaki sejauh lima kilometer dari perkampungan menuju Pura Agung sejak pukul 24.00 WIB, Kamis 21 Juli 2016. Warga Tengger tua, muda, laki-laki dan perempuan berjalan beriringan sebagian memanggul ongkek berisi aneka hasil pertanian seperti sayur mayor, buah dan kudapan.

Umat Hindu Tengger juga membawa penganan berupa raka genep terdiri dari penganan yang terbuat dari tepung jagung. Memiliki simbol lelaki, perempuan dan anak, yang merupakan wujud kerukunan keluarga. Penganan ini disajikan untuk dimakan bersama. “Ongkek dibuat di masing-masing desa, berisi hasil bumi yang ditanam,” kata Dukun Desa Ngadiwono, Tosari, Pasuruan, Puja Pramana.

Selama semalaman, mereka berdoa dipimpin oleh pimpinan umat Hindu Tengger. Gerimis hujan mengguyur kawasan Gunung Bromo tak menyurutkan umat Hindu Tengger untuk menunaikan ritual sesuai keyakinan untuk memberikan persembahan kepada Jaya Kusuma. Bahkan erupsi Gunung Bromo juga tak mengurungkan niat mereka melaksanakan ritual. Umat Hindu Tengger berduyun-duyun ke Pura Agung, mereka duduk bersila khidmat mendengarkan tembang dan puji-pujian sembari berdoa kepada Tuhan. Sejumlah dukun atau pimpinan umat Hindu Tengger berjajar, duduk bersila mengenakan pakaian serba putih dan ikat kepala khas Suku Tengger.

Para dukun membakar kemenyan di atas anglo, sambil merapa mantra dan doa. Aneka sejajian hasil pertanian ditata rapi di depan dan samping para dukun. Menjelang subuh, Dukun Pandita Sutomo mengumumkan upacara ritual dan membacakan kisah legenda masyarakat Tengger dengan berbahasa Tengger. Dilanjutkan dengan membaca doa dan mantra untuk mengantarkan sesaji ke Gunung Bromo.

Usai upacara ritual Yadnya Kasada di Pura Agung, umat Hindu Tengger bergegas memanggul ongkek berisi hasil pertanian. Mereka berjalan beriringan menuju kawah Gunung Bromo. Rasa lelas, kantuk dan guyuran hujan tak menghalangi mereka untuk melaksanakan kewajiban ritual sesuai kepercayaan Hindu Tengger. Sesampai di bibir kawah Bromo, seluruh hasil bumi dilempar ke dalam kawah.

Kawah Bromo mengeluarkan abu vulkanis, asap keluar dari kawah membubung tinggi. Aroma belerang tercium menyesakkan dada. Sesekali keluar asap berwarna pekat, abu vulkanis mengguyur umat Hindu Tengger yang mengikuti Yadnya Kasada. Menjelang matahari terbit, seluruh proses persembahan sesaji usai.  “Kami juga berdoa semoga erupsi berakhir,” katanya.

Yadnya Kasada Magnet Wisatawan

Warga Tengger juga menunggu pemberian berbagai hasil bumi dan peternakan oleh warga lainnya. (Eko Widianto/Terakota)

Ritual Yadnya Kasada juga menjadi atraksi wisata. Pemerintah Kabupaten Probolinggo berupaya untuk mengemasnya menjadi pertunjukan wisata yang mampu menarik wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Selama 2015 jumlah kunjungan ke Bromo mencapai 37 ribu wisatawan mancanegara, 380 ribu wisatawan nusantara. Kunjungan wisatawan mancanegara bertambah sejak kapal pesiar bersandar setahun 12 kali. Rata-rata, kata Anung, setiap kunjungan mencapai 500 wisatawan mancanegara.

“Semoga target satu juta wisatawan mancanegara terpenuhi,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Anung Widiarto. Berkunjung ke Gunung Bromo bisa melalui Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Malang. Sebagian besar wisatawan memilih melalui Probolinggo. Namun, sejumlah wisatawan sempat membatalkan kunjungan ke Bromo setelah mendengar kabar jika obyek wisata gunung api Gunung Bromo ditutup akibat erupsi. Sehingga kunjungan wisatawan mancanegara merosot.

“Bromo tak pernah ditutup, tapi selama erupsi penunjung tak boleh mendekati kawah,” ujarnya.Keindahan Gunung Bromo, katanya, tak surut meski ada erupsi. Bahkan, erupsi atau meningkatnya aktivitas vulkanis justru menjadi atraksi wisata yang menarik. Wisatawan bisa mengamati aktivitas vulkanis, kepulan asap dan abu vulkanis tapi tetap di daerah yang aman.

Pertama kali berkunjung ke Gunung Bromo setelah melihat keindahannya dari foto-foto. Dia penasaran dengan ritual Yadnya Kasada yang hanya dilakukan oleh umat Hindu Tengger. Dia sempat takut untuk menuju kawah Gunung Bromo. Apalagi saat ini terjadi erupsi Gunung Bromo. “Kami sesama umat Hindu kagum dengan Kasada persembahan ke kawah,” kata mahasiswa  Universitas Mahendradata Bali, I Made Wirasa yang datang bersama teman-temannya.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), John Kennedie menyampaikan sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) wisatawan menjaga jarak maksimal radius satu kilometer dari bibir kawah.  “Demi keamanan dan keselamatan wisatawan dipasang garis polisi,” katanya.

Data Balai Besar TNBTS menyebutkan jumlah kunjungan wisatawan total selama 2015 mencapai 474.011 wisatawan. Terdiri dari 17.016 wisatawan mancanegara dan 456.995 wisatawan nusantara. Sedangkan selama libur lebaran 2016 jumlah wisatawan mencapai 24.095 jiwa, terdiri dari wisatawan nusantara 23.366 dan wisatawan mancanegara 732 orang.

Warga setempat juga ikut berebut menangkap sesaji hasil bumi. Mereka berjajar di sekitar kawah membawa jaring untuk menangkap sesaji. Kondisi kawah yang curam dan berbahaya warga setempat diminta untuk tak melakukan aktivitas berebut sesaji selama upacara Yadnya Kasada berlangsung. Meski demikian masih banyak warga yang berebut sesaji. “Berbahaya bisa terpeleset dan masuk ke kawah,” ujarnya.

Sejumlah warga Tengger menggendong seekor kambing sebagai persembahan ke kawah Gunung Bromo. Sekaligus memuji atas karunia Tuhan atas rezeki yang diberikan selama ini. Dia bersama empat temannya sempat berjanji akan memberikan sesaji kambing jika tanaman kentangnya tumbuh bagus. Kini, keempat petani itu menempai janji memberikan sesaji ke sang Dewa Brahma. “Sebagai ungkapan syukur, hasil tanam kentang tahun ini bagus,” kata warga Sedaeng, Tosari, Pasuruan, Tono. (EW)

 

Tinggalkan Pesan