Magnet Yadnya Kasada di Bromo (1)

Warga Tengger membawa berbagai hasil bumi dan ternak sebagai sesaji ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widhi ke kawah Gunung Bromo. (Eko Widianto/Terakota)

Iringan musik tradisi suku Tengger berkumandang dari Pendapa Agung Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura Probolinggo. Ribuan umat Hindu Tengger beserta wisatawan nusantara dan mancanegara meriung di dalam pendapa. Musik tradisi pengiringi kedatangan para tamu dan pejabat pemerintah daerah yang menghadiri malam resepsi Yadnya Kasada. Puluhan pemuda memukul alat musik gamelan berirama rancak, mengundang siapapun yang hadir larut dalam nuansa budaya tradisi Tengger.

Rintik hujan tak menyusutkan masyarakat untuk berbondong-bondong datang di malam resepsi Yadnya Kasada. Umat Hindu Tengger mengajak anak cucunya untuk menghadiri malam resepsi. Suku Tengger tersebar di 60 Desa sekitar Gunung Bromo meliputi  Kebupaten Probolinggo, Lumajang, Pasuruan dan Malang. Mereka disambut dengan pementasan Tari Sembilan Dewa yang dipersembahkan oleh pemuda desa setempat dan sejumlah seniman tari. Sebelum tarian dipentaskan, penari membakar dupa. Aroma harum dupa memenuhi ruangan menambah kesakralan acara yang diperingati setiap tahun oleh umat Hindu Tengger.

Usai pementasan tari, dilanjutkan pengukuhan warga kehormatan atau sesepuh Tengger yang dianugerahkan kepada Kepala Kepolisian Resor Probolinggo Ajun Komisaris Besar Arman Asmara Syarifuddin, Ketua Pengadilan Negeri Kraksaan Suratmo, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru John Kennedie, dan Komandan Kodim 0820 Probolinggo Letnan Kolonel Hendhi Yustian. Pengukuhan dilakukan oleh pimpinan umat Hindu Tengger atau Dukun Pendita, Sutomo didampingi Kepala Desa Ngadisari Sri Rahayu . Mengenakan pakaian adat Jawa Timuran, mereka duduk bersila beralas tikar, Sutomo memegang anglo berisi kemenyan. Asap kemenyan mengepul menguar menyebar ke seluruh ruangan. Di depan terhampar beragam sesaji hasil pertanian dan buah-buahan.

Sutomo mengawali pelantikan dengan merapal doa dan mantra. Ritual berlangsung khidmat, suasana menjadi hening selama pengukuhan. Pengukuhan diakhiri dengan pemasangan selempang selendang kuning kepada para sesepuh atau warga kehoirmatan Tengger. Arman Asmara Syarifuddin mengaku bangga diangkat menjadi sesepuh suku Tengger yang menjunjung kearifan local dan mempertahankan nilai tradisi setempat. “Pengukuhan ini sebuah kehormatan, semoga mendapatkan berkah,” katanya.

Tarian Sakral Roro Anteng-Joko Seger

Sendratari yang menceritakan kisah upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo. (Eko Widianto.Terakota)

Acara resepsi ditutup dengan pagelaran sendra tari Roro Anteng dan Joko Seger yang mainkan 43 para muda-mudi setempat. Tarian ini merupakan tarian sakral bagi warga Tengger, dipentaskan setiap tahun menjelang Yadnya Kasada. Tarian turun temurun yang mengisahkan legenda asal usul masyarakat Tengger.

Menurut legenda masyarakat Tengger, mereka merupakan keturunan dari pasangan Roro Anteng dan Joko seger. Setelah bertahun-tahun menikah tak memiliki anak, keduanya  bertapa dan berdoa kepada Tuhan. Mereka berjanji akan mengorbankan salah satu anaknya atau mempersembahkan ke kawah Gunung Bromo.

Akhirnya mereka dianugerahi 25 anak yang disayanginya, tetapi lupa dengan janjinya mengorbankan salah satu anaknya. Semua anaknya menolak dikorbankan namun si sulung Jaya Kusuma bersedia dikorbankan menemui sang Dewa Brahma atau Bromo untuk melunasi janji kedua orangtuanya. Jaya Kusuma menyampaikan agar masyarakat keturunan Roro Anteng dan Joko Seger atau Tengger memberikan persempahan hasil bumi ke kawah Bromo pada tanggal 14 bulan Kasada sesuai penanggalan Tengger.

“Masyarakat Tengger kini tak berani berjanji, ucapan dan tindakannya menyatu,” kata sutradara sendra tari, Heri Lentu. Menurutnya urutan kisah dalam tarian tak boleh diubah harus sesuai pakem. Mereka meyakini jika tarian berubah akan mempengaruhi aktivitas Gunung Bromo, Bahkan Heri merevitalisasi pakaian yang dikenakan Joko Seger, pakaian diberi mantra khusus oleh dukun atau pimpinan Hindu Tengger.

“Gunung Bromo erupsi setahun lalu diyakini karena pementasan tarian tak berurutan sesuai cerita legenda suku Tengger. Saat itu penari dari mahasiswa seni tari,” katanya. Menurutnya, mereka tak sekedar menari tetapi berdoa sesuai keyakinan agamanya. Tarian ini dianggap sakral dan harus dijaga sesuai dengan aslinya. Tarian ini mengandung nilai-nilai dan pesan kepada masyarakat agar menepati janji. (bersambung)

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini