Ludruk: Media Perjuangan Rakyat

“Pagupon omahe doro, melok nippon tambah sengsoro.” (Pagupon rumahnya burung dara, ikut Nippon semakin sengsara). Itulah penggalan kidungan yang dibawakan Cak Durasim dalam sebuah pementasan ludruk. Jepang tersinggung. Durasim pun ditangkap dan dipenjara pada 1944.

Dari Kiri ke Kanan : Sutak Wardhiono, Henri Supriyanto, Sigit Priyo Utomo dan Eko Widianto. (Foto : Yogi Fachri)

Terakota.id—Setiap seni budaya di seluruh nusantara menunjukkan corak dan ciri yang khas. Memiliki identitas kultural yang beragam dan berbeda. Seperti kesenian rakyat bernama ludruk yang mampu tampil sebagai salah satu simbol kesenian rakyat dari Jawa Timur.

Ludruk dimaknai sebagai seni pertunjukan rakyat. Bisa juga dikatakan sebagai teater rakyat. Ludruk lahir dari rahim kreativitas rakyat kelas bawah Jawa Timur. Cerita dalam ludruk digali dari kehidupan sehari-hari  masyarakat desa, kelas bawah, dan tradisi rakyat.

Musik yang mengiringi juga musik rakyat; gamelan, lagu jula-juli, walang kekek, ayak samera, dan sebagainya. Tata busana sederhana, obrolan spontan, pemain menyatu dengan penonton, menegaskan ludruk sebagai seni pertunjukan rakyat yang membumi.

“Dialog antar pemain tidak terpaku pada naskah yang dihafalkan. Mereka spontan dan berimprovisasi. Aktor juga bisa berdialog langsung dengan penonton. Seringkali terjadi adegan lempar rokok dari penonton yang meminta lagu-lagu tertentu,” kata profesor Henri Supriyanto, peneliti kesenian ludruk sekaligus pendiri Padepokan Sastra Tan Tular di Kabupaten Malang, kepada Terakota.id.

Dalam sejarahnya, ludruk dikenal sejak abad ke-19. Istilah ludruk muncul dalam naskah Rara Mendut-Pranacitra yang ditulis Raden Ngabehi Renggasutrasno pada 1820, jaman Pakubuwono V. Henri Supriyanto menyebut istilah ludruk dalam naskah itu mengacu pada badhutan dan taledhek (penari wanita). Ada juga yang mengatakan ludruk sebelum abad ke-20 terdapat unsur unjuk kekebalan dan demonstrasi magis.

Pada perkembangannya, sejarah ludruk dikenal dari lerok ngamen yang dilakukan oleh Pak Santik dan kawan-kawannya di Jombang. Lerok merupakan variasi ujar dari lorek. Pemainnya mencoret-coret wajahnya. Pada periode ini pemainnya belum banyak, hanya satu orang. Tidak ada alat musik pengiring. Pemainnya memanfaatkan suara-suara dari mulutnya sebagai iringan musik. Periode ini berlangsung sekitar tahun 1907 sampai 1917.

Pada periode 1920 sampai 1925 ludruk berkembang. Awalnya pertunjukan jalanan yang berpindah-pindah tempat atau ngamen. Berubah dengan tempat pertunjukkannya yang menetap di halaman rumah atau ditanggap. Seperti ditanggap dalam pesta perkawinan, ruwatan, khitanan, dan sebagainya.

Jumlah pemain dan alat musiknya sudah bertambah serta berkembang. Periode ini disebut periode lerok besut. Besut sendiri bisa diartikan dari akronim mbekto maksud (membawa maksud). Ada juga yang mengaitkannya dengan nama pelopornya waktu itu, Pak Besut.

Setelah periode itu terjadi penambahan-penambahan dalam lerok besut. Misalnya penambahan tari remo. Henri Supriyanto, menyebut hentakan-hentakan kaki (gedrak-gedruk) itulah yang menginspirasi nama ludruk. Selain itu, lakon atau cerita sandiwara diadopsi dalam pertunjukan lerok. Dikenal dengan istilah lerok lakon atau ludruk. Pada 1937, tokoh ludruk dari Surabaya, Cak Durasim, menggunakan cerita legenda dan berubah menjadi semacam drama.

Ludruk mampu mengumpulkan massa besar, sehingga tidak luput dari kecurigaan Belanda. Naskah lakon yang akan dimainkan harus dilaporkan ke pihak Belanda terlebih dahulu. Baru kemudian saat Jepang masuk pertunjukan anti Belanda bermunculan.

Ada lakon Sarip Tambak Oso, Sawunggaling, Pak Sakerah, Sogol Pendekar Sumur Gemuling, Jaka Sambang, dan lain-lain. Siasat Jepang yang mengaku saudara tua memanfaatkan ludruk sebagai alat propaganda. Tapi soal perizinan, Jepang tidak jauh berbeda dengan Belanda. Anti dikritik. Imbasnya, Cak Durasim ditangkap tentara Jepang pada 1944.

Selain sebagai hiburan, ludruk efektif sebagai media kritik sosial. Kaitannya dengan fungsi ludruk, dalam buku Perkembangan Ludruk di Jawa Timur: Kajian Analisis Wacana(1997:9) , ludruk memiliki banyak fungsi. Ia sebagai alat pendidikan rakyat, pemupuk solidaritas kolektif, memperkaya jiwa dan nilai estetika, serta dunia alternative cara berfikir dan pengendali budaya.

Henri Supriyanto juga menyebut ludruk bisa digunakan sebagai media perjuangan. “Hari ini seharusnya ludruk bisa mementaskan lakon semacam Munir, Marsinah, atau korban lumpur lapindo,” terang Henri Supriyanto.

Seorang seniman ludruk sekaligus pendiri grup ludruk Kendo Kenceng asal Malang, Sutak Wardhionomengatakan ludruk bisa menjadi media gerakan yang efektif. Kolonial waktu itu takut pada kesenian rakyat.

Kekuatan sanepan yang penuh nilai dan kedalaman makna kini juga mulai hilang. Ia menuturkan bahwa panggung dalam ludruk adalah ciptaan kolonial. “Panggung menjadi batas antara pemain, rakyat, dan alam. Akhirnya budaya yang diciptakan pun adalah budaya menonton,” ujar Sutak.

Setelah revolusi kemerdekaan, ludruk memasuki masa kejayaannya. Organisasi-organisasi ludruk bermunculan. Ada Ludruk Marhaen, Ludruk Murba, Ludruk Karen, Ludruk Budidojo, dan sebagainya. Pada masa itu, sejak 1955, ludruk berafiliasi dengan partai politik. Melalui Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang punya hubungan dengan PKI dan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) yang berhubungan dengan PNI. Periode keemasan ini berlangsung sampai tahun 1965.

Ludruk di Tangan Orde Baru

Tandak menari remo dan ngidung dalam sebuah pementasan. (Foto: Dokumen Ludruk Karisma Baru)

Geger peristiwa1965 turut berimbas pada kesenian rakyat ludruk. Ludruk yang identik dengan perjuangan rakyat masa itu dibekukan. Mereka dianggap punya kedekatan dengan PKI dan Sukarno. Soeharto membekukan ludruk selama tiga tahun, 1965-1968. Banyak pemain ludruk yang dihilangkan, dipenjara, maupun dibunuh karena dianggap bagian dari PKI.

Sedang seniman yang tersisa dan bukan bagian dari PKI, memilih berdiam diri. Takut dihukum. Sadar akan potensi kultural yang dimiliki ludruk, Soeharto berupaya mengendalikan ludruk sesuai kemauannya. Melalui militer, DAM VIII Brawijaya, Soeharto melakukan peleburan beberapa kelompok ludruk yang terkenal pada masa Sukarno dan berada di bawah kendali tentara.

Ludruk Marhaen Surabaya dilebur menjadi Ludruk Wijaya Kusuma Unit I. Ludruk Anogara Malang dilebur menjadi Ludruk Wijaya Kusuma Unit II. Ludruk Uril A Malang dilebur menjadi Ludruk Wijaya Kusuma Unit III, dibina Korem 083 Baladika Jaya Malang. Ludruk Tresna Enggal Surabaya dilebur menjadi Ludruk Wijaya Kusuma Unit IV. Dan Ludruk Kartika di Kediri dilebur menjadi Ludruk Wijaya Kusuma Unit V.
Selain itu, di beberapa kabupaten tentara dan polisi juga membuat kelompok-kelompok baru dengan pemain-pemain lama.  “Ada juga versi yang mengatakan upaya militer tersebut terkait penyelamatan kesenian. Ada militer yang bagus, takut ludruk dihabiskan. Tapi, kata teman-teman justru sebaliknya. Militer mengangkangi ludruk. Desukarnoisasi dan kritik sosial hilang,” terang Henri Supriyanto.

Ludruk yang berada di bawah kendali militer menjadi kehilangan daya kritisnya. Celetukan-celetukan kritis dalam parikan, kidungan, atau lawakan menjadi hilang. Akibatnya, ludruk hanya menjadi media hiburan sekaligus corong penguasa. Ia menjadi alat propaganda program pembangunan, KB, Repelita, Bimas/Linmas, dan sebagainya.

Untuk memantapkan kontrol, para seniman ludruk harus mendapatkan nomor induk dan wajib mengikuti penataran P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Banyak diantara mereka juga diangkat menjadi pegawai negeri atau digaji sebagai pegawai sipil melalui militer.

“Baru pada 1985 ludruk dibiarkan. Mungkin karena sudah lelah mengurusi ludruk,” kata Henri Supriyanto.

Sayang, meski telah dibebaskan dari kontrol militer ludruk tidak sesemarak zaman sukarno. Henri menengarai kondisi sekarang disebabkan adanya saingan dari televisi dan seni digital. Budaya pop menciptakan batas generasi hari ini dengan kesenian rakyat semacam ludruk.

Selain itu, perubahan model dari ludruk organisasi menjadi ludruk majikan juga turut mempersulit ludruk itu sendiri. Hal itu berimbas  pada biaya, beban kerja profesional, visi-misi, dan regenerasi.

Terakota.id mengupas luduruk dengan menggelar sinau tradisi bertajuk “Makna Ludruk Sebagai Nilai Hidup Bagi Generasi Kini dan Akan Datang”,  Jum’at 25 Agustus 2017 di kantor Terakota. Hadir sebagai pembicara peneliti ludruk Profesor Henri Supriyanto, penulis Sang Primadono dan Pemimpin Redaksi Terakota Eko Widianto, dan seniman ludruk Kendo Kenceng Sigit Priyo Utomo.

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini