Lorong Gelap Freeport di Bumi Papua

Area tambang Freeport tampak dari udara (Foto : Eksplorasi.id).

Terakota.id–Freeport kembali menguji kedaulatan Negara Indonesia. Membicarakan Freeport sama halnya menapaki narasi panjang kolonialisme di Negara ini. Baik sebelum masa kemerdekaan, maupun paska proklamasi dikumandangkan.

Eksplorasi Freeport berawal dari sebuah ekspedisi yang dilakukan Antonie Hendrikus Colijn, Jean Jacques Dozy dan Frits Julius Wissel. Mereka  melakukan perjalanan pada 1936 untuk mencari sumber minyak bumi. Kekayaan alam yang terkandung di bumi Papua terendus keluar. Antonie Hendrikus Colijn merupakan anak dari seorang mantan perdana menteri Belanda sekaligus pengusaha migas. Sedang, ekspedisi ini dipimpin oleh geolog Jean Jacques Dozy.

Mereka bertiga tidak hanya berhasil mencapai puncak Gunung Cartenz atau Pegunungan Nemangkawi. Melainkan juga menemukan kandungan bijih tembaga yang melimpah berserak di sana. Karena temuannya, Dozy menandai, membuat sketsa, dan menamai wilayah tersebut dengan nama Ertsberg yang berarti gunung bijih tembaga. Dozy menuliskan laporan ekspedisinya dan lebih dikenal dengan nama “Dokumen Dozy.”

Dokumen ini sebelumnya dianggap tidak berguna, berdebu di Perpustakaan Leiden. Situasi politik global punya andil membuka kembali dokumen yang ditulis Dozy pada 1936 itu. Saat itu, di Kuba gerakan yang dipimpin oleh Fidel Castro dan Che Guevara berhasil menumbangkan kediktatoran Fulgencio Batista. Perusahaan-perusahaan asing dinasionalisasi.

Freeport Sulphur yang beroperasi di Kuba terkena imbasnya. Mereka limbung dan nyaris bangkrut. Di tengah ambang kebangkrutan, pada Agustus 1959, Direktur Freeport Sulphur, Forbes Wilson, melakukan pertemuan dengan East Borneo Company, Jan Van Gruisen. Dalam pertemuan itu, Gruisen mengutarakan temuan  “Dokumen Dozy” yang menunjukkan adanya Gunung Ertsberg dengan kekayaan alam yang luar biasa.

Wilson tertarik. Segera ia berangkat ke Irian Barat guna membuktikan temuan “Dokumen Dozy”. Di sana ia tercengang. Gunung Bijih Tembaga itu, menurutnya, lebih layak dinamai Gunung Emas. Ia kegirangan dengan menemukan harta karun yang kelak menyelamatkannya dari ambang kebangkrutan. Sejarah ini ditulis Lisa Pease dalam ““JFK, Indonesia, CIA and Freeport“ yang dimuat majalah Probe di tahun 1996.

Namun, rencana mereka untuk mengeksploitasi Gunung Ertsberg membentur karang. Sukarno, Presiden Indonesia saat itu, bersikukuh menolak modal asing yang akan mengusai sumber daya alam Indonesia. Banyak pasukan dikirim untuk memperkuat dan mempertahankan Irian Barat. Waktu itu Irian Barat  memang belum benar-benar terbebas dari cengkraman Belanda. Belum juga bisa dikatakan bagian dari Indonesia.

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini