Lokalitas Sebagai Kunci Menghadapi Pendidikan 5.0

Industry 5.0 Concept - Illustration as EPS 10 File
Iklan terakota

Terakota.id–Pandemi virus corona ternyata tidak menyurutkan ambisi masyarakat global untuk mereduksi revolusi pendidikan digital. Pada tahun 2018 peneliti Jepang mayumi Fukuyama memang telah mempublikasikan artikel berjudul Society 5.0: Aiming for a New Human Centered Society.

Artikel tersebut seolah melegtimasi langkah Jepang untuk memasuki babap baru dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu sektor yang diperhatikan tentunya adalah pendidikan. Diperlukan kesadaran literasi digital untuk memadupadankan teknologi dengan kebutuhan hidup sehari-hari.

Wabah virus corona ternyata semakin mempercepat terbentuknya masyarakat 5.0. Pendidikan justru menjadi salah satu faktor utama dalam proses pembentukan masyarakat cerdas ini. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan masifnya penggunaan Learning Management System (LMS) baik pada sekolah tingkat dasar, menengah, mapun tinggi.

Di Indonesia, tak jarang sekolah menggunakan LMS yang tersedia di internet seperti Google, Zoom, Edmodo, dan lain sebagainya. Fenomena ini di satu sisi memang terlihat merugikan, tapi di sisi lain ini adalah kesempatan. Kesempatan untuk mengajarkan konsep-konsep lokalitas pada skala internasional.

Kerja Kolaboratif
Salah satu universitas dunia yang melakukan proses pembelajaran secara daring bahkan lintas negara adalah UoP atau University of People. Universitas ini menjaring mahasiswa dan tenaga pengajar dari berbagai belahan dunia. Bukan tidak mungkin jika nanti banyak universitas bahkan sekolah melakukan hal serupa.

Misalnya ada anak Indonesia yang ingi menempuh pendidikan tinggi di Australia, maka dia tak perlu bersusah payah pergi ke Australia karena dia dapat menempuh materi dari dosen-dosen terbaik di Australia melalui LMS yang mereka miliki.

Jika pada tingkat universitas hal itu menjadi sebuah kewajaran, maka tidak menutup kemungkinan sekolah pun melakukan hal yang sama. Sekolah seni dari Italia membuka kelas daring bagi pelajar di Indonesia, pun demikian juga dengan negara lainya.

Jika hal ini terjadi, di mana posisi pendidikan Indonesia? Pendidikan Indonesia harusnya juga punya kesempatan serupa. Para guru dan pengelola pendidikan punya kesempatan untuk mengajarkan konsep-konsep yang asli dimiliki oleh Indonesia.

Keragaman suku, budaya, bahasa, dan adat istiadat seharusnya menjadikan Indonesia sebagai negara yang kaya sumber daya. Banyak materi yang dapat diajarkan dan disuarakan pada tataran global. Mulai dari kuliner, permainan anak-naka, proses pembuatan baju daerah, hingga laku hidup dan adat istiadat.

Seringkali memang produk lokal terasa “murah” tapi sesungguhnya itu merupakan produk asli Indonesia yang tak dimiliki oleh negara lain. Pembelajaran matematika, cara merakit komputer, algoritma, dan ilmu dasar lain yang sifatnya umum dimiliki semua negara bukanlah solusi untuk diajarkan pada skala global. Menjadi berbeda adalah kunci utamanya.

Pembelajaran seperti cara membuat batik, cara memasak peyek, cara mengolah kacang hingga menjadi bumbu pecel adalah pembelajaran yang unik dan dapat diminati oleh negara lain. Keunikan inilah yang harus disosialisasikan, harus dijadikan kesempatan untuk bangga sekaligus percaya diri para potensi asli Indonesia.

Dalam hal belajar mengajar, proses pembelajaran bukan sekedar nilai kognitif. Aspek afektif dan psikomotorik juga harus diintegrasikan sehingga pebelajar memiliki kecerdasan yang kompleks. Belajar berarti berporses untuk bisa bertahan hidup, bukan (hanya) sekedar untuk mendapatkan angka dan huruf. Kecerdasan pun beragam dan tak bisa disamakan satu dengan lainya. Oleh sebab itu, menu pembelajaran yang dimiliki Indonesia harusnya beragam.

Setiap daerah, setiap pulau, setiap suku memiliki ragam proses belajar. Memiliki ragam baju adat dan cara pembuatanya yang bermakna, memiliki beragam permainan tradisonal yang mampu mengasah kecerdasan fisik, dan memiliki aneka kuliner nusantara yang layak disuguhkan pada berbagai macam sensor rasa di lidah.

Sudah saatnya para pendidik untuk meliat kembali, menggali kembali konsep-konsep lokal untuk digunakan sebagai bahan pembelajaran. Konsep-konsep yang mungkjn saja selama ini dianggap sebelah mata karena standardisasi pendidikan global. Konsep-konsep yang mungkin hampir punah sehingga prlu dieskavasi kembali. Perlu penggalian kultural untuk memilah, memroses, dan merefleksikan konsep-konsep luhur tersebut sebagai sajian sumber belajar khas Indonesia.

Langkah berikutnya adalah mengajak para pelaku digital atau praktisi bidang digital untuk mengemas konsep tersebut menjadi moda pembelajaran yang menarik. Alangkah baiknya apabila setiap daerah memiliki satu praktisi digital sehingga mampu menerjemahkan potensi lokalitas dalam bentuk media digital.

Pada tahap ini dibutuhkan kolaborasi lintas bidang dan lintas generasi. Semakin kolabiratif maka semakin kolektif kecerdasan yang dihasilkan. Saling menghargai, menurunkan ego masing masing dan mau menerima masukan adalah kuncinya. Memang terlihat sulit di awal, tapi mau tidak mau kita harus beradaptasi di tengah zaman yang sedang berlari kencang tunggang langgang.

Jangan sampai kita mengulang memroi kelam sejarah, ketika kaum kolonilan menulis tentang Hindia Belanda dengan kaca mata mereka. Ketika eksotisme sekedar dieksploitasi tanpa berdampak banyak bagi masyarakat. Saat itu, masyarakat belum mengenal keberaksaraan dan juga revolusi mesin cetak. Tidak banyak masyarakat Hindia Belanda yang memahami mesin cetak sehingga percetakan dan segala isinya dikuasai oleh kaum kolonial.

Kini ketika kita menghadapi revolusi digital, jangan sampai kesalahan serupa terulang kembali. Kesadaran untuk berbangga pada konsep-konsep luhur dalam negeri dan memaksimlkan potensi lokal yang dikelola, disampaikan dan disarasakan manfaatnya oleh masyarakat sudah jadi kewajiban.

Pendidikan 5.0 adalah jembatan untuk mengoptimalkan keberagaman potensi lokal dan pendidik mengajak masyarakat bersinergi bersama, bahu membahu mewujudkan pendidikan Indonesia yang kaya, sehingga diakui oleh dunia.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini