Lockdown, Belajar dari Sejarah Wabah Pes

Terakota.id--Karantina Wilayah bukan merupakan barang baru bagi bangsa kita. Pada era kolonial, pemerintah Hindia Belanda bahkan pernah menerapkan karantina wilayah untuk memberantas penyakit Pes di Kota Malang.

Tak tanggung, sekira satu tahun (1911 sampai 1912) pemerintah kolonial melakulan karantina wilayah supaya daerah ini bersih dari wabah penyakit Pes yang membunuh banyak orang. Kebijakan ini, pada masa itu juga menimbulkan pro dan kontra.

Syefri Luwis, yang saat ini menjadi periset di salah satu lembaga pemerintah, dalam riset yang pernah ia buat mengenai “Pemberantasan Penyakit Pes di Malang 1911-1912” menunjukkan bahwa wabah Pes yang terjadi di daerah Malang dan sekitarnya pada tahun 1911-1916 ini adalah wabah pes yang pertama kali melanda Hindia Belanda.

Bersamaan dengan munculnya wabah ini, tahun 1911, Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (BGD), Dinas Kesehatan Masyarakat, dibentuk. Tugas pertama dari dinas ini ialah memberantas penyakit ini.

Penyakit ini berasal dari tikus yang terinfeksi basil Pes dan disebarkan melalui gigitan kutu tikus yang menggigit manusia. Penyakit ini menyerang wilayah Malang dan sekitarnya karena wilayah ini lebih sejuk dari wilayah lain.

Malang sendiri berada 442 meter di atas permukaan laut. Sehingga basil penyakit dapat bertahan hidup lebih lama dari pada di daerah yang berudara lebih panas. Pada tahun 1914, wabah pes mencapai puncaknya. Lebih dari 15.000 orang meninggal dunia.

BGD kemudian membentuk satu dinas khusus untuk memberantas wabah ini. Pada tahun 1915 Dienst der Pestbestriding, Dinas Pemberantasan Pes, dibentuk. Dengan adanya dinas ini, korban penyakit ini bisa ditekan hingga seminim mungkin.

Dampak yang terjadi bagi daerah Malang dan sekitarnya akibat wabah ini adalah menyusutnya jumlah penduduk karena menjadi korban dari penyakit ini, semakin meningkatnya usaha pengobatan secara modern, diungsikannya penduduk ke barak-barak, pembongkaran dan perbaikan rumah agar terbebas dari wabah penyakit.

Kuliah Darurat

BERSAMA
Syefri Luwis
Rabu, 1 April 2020
Jam 19.30-Sampai Sembuh.

Via Instagram Heuristik.id (@heuristikid)

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini