Literasi Rendah, Hoaks Bertebaran di Dunia Maya

Terakota.id–Satriya Nugraha galau, sejumlah data dan nomor telepon di gawainya diretas. Data tersebut dibobol seseorang. Sejak itu, ia khawatir dengan keamanan data yang ada di gawai. Kekhawatiran dia beralasan lantaran sejumlah temannya juga mengalami hal yang sama.

“Phone book saya dipindai,” katanya saat sesi janya jawab dalam halfday basics workshop hoax busting and digital hygiene  di Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (FISIP) Universitas Brawijaya, Jumat 17 November 2018. Ia juga kaget jika ada aplikasi melalui pesan pendek yang bisa disebar secara berantai dan massal. Termasuk mengirim pesan video dan foto.

“Ini kan rawan digunakan kejahatan. Apa ada fitur untuk mencegahnya,” ujar Satriya. Ia juga berharap Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang menyediakan tim untuk cek fakta dan verifikasi berita. Lantaran sebagai blogger ia kerap ditanya warga Kabupaten Malang atas berbagai isu untuk menelusuri apakah kabar bohong atau hoaks.

Hoaks, katanya, berseliweran di berbagai grup media sosial. Sedangkan warga Kabupaten Malang juga banyak yang memiliki bekal untuk menelisik apakah informasi itu benar atau hoaks.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya  Neni juga mengaku gemes lantaran mengetahui banyak informasi tak jelas dan hoaks berkelindan di media sosial. Sementara saat ini ia tak apa yang harus dilakukan. “Kalau lapor kemana? Saya harus ngapain?,” tanyanya.

Berbagai pertanyaan dan kebingungan warganet dan mahasiswa ini disampaikan dalam sesi tanya jawab. Sekitar 100 an mahasiswa, pemuda, warganet dan pegiat media sosial mengikuti workshop singkat tersebut. Workshop diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bekerjasama dengan FISIP Universitas Brawijaya, Google News Initiative dan Internews.

Dua trainer tersertifikasi Google, terdiri dari akademikus Universitas Multimedia Nusantara Lilik Dwi Mardjianto dan jurnalis kompas.com Inggried Dwi Wedhaswary mengajak peserta untuk menelusuri dan menangkal hoaks. Inggried menjelaskan jika hoaks menyebar lantaran tingkat literasi rendah.

Baca juga :  Wirausaha ala Santri  Sidogiri

“Literasi Indonesia menempati ranking ke 60 dari 61 negara sedangkan pengguna media sosial nomor lima terbesar di dunia,” ujarnya. Lantaran literasi rendah, tak memiliki daya kritis terhadap informasi sehingga kabar bohong terus terdistribusi melalui media sosial. Dampaknya, semakin lama hoaks semakin menyebar.

Sekitar 100 mahasiswa, warganet dan pegiat media sosial berlatih menangkal kabar bohong atau hoaks. (Foto : AJI Malang).

Sedangkan untuk melaporkan temuan hoaks dan kejahatan siber bisa dilaporkan ke polisi atau Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Pengaduan juga bisa disampaikan melalui Kementerian Informastikan dan Komunikasi. Selain itu, juga ada sejumlah forum dan lembaga masyarakat seperti Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) yang menerima dan melaporkan kasus tersebut.

Sementara menanggapi kerisauan Satriya, ia menjelaskan jika banyak aplikasi dan penyedia advertising yang menyediakan cara beriklan melalui operator seluler. Pesan iklan masuk ke pesan pendek yang ditelusuri dari lokasi pemilik gawai atau gadget melalui sistem navigasi berbasis satelit.

“GPS aktif, posisi kita bisa diketahui. Fitur lokasi bisa dimatikan. Kita harus melapisi sistem keamanan agar data aman dan tak mudah diretas,” ujarnya. Kemampuan mengolah informasi, katanya, rendah. Sehingga mudah menyebarkan hoaks.

Melawan dan Menangkal Hoaks.
Lilik Dwi Mardjianto menjelaskan jika internet bak belantara. Jika tingkat literasi rendah, tak bisa menyaring dan mengolah informasi seperti orang yang tak tahu arah karena tak memiliki kompas.  Sehingga bakal turut ikut menyebarkan hoaks.

Ada misinformasi dan disinformasi, katanya, misinformasi terjadi karena ketidaktahuan sedangkan disinformasi sengaja disebarkan dengan tujuan tertentu. Yakni mulai tujuannya mencari sensasi,  sekdar lucu-lucuan dan mencari untung secara bisnis.

Tak hanya warganet yang minim literasi, bekas pejabat Negara juga mengalami kekeliruan. Seperti yang dilakukan bekas Menteri Komunikasi dan Informatika yang membagi foto korban pembantaian dan memberi komentar foto tersebut merupakan korban pemberitaan pengungsi Rohingya di Myanmar.

Baca juga :  Mengenang "Si Binatang Jalang" Chairil Anwar
Sekitar 100 mahasiswa, warganet dan pegiat media sosial berlatih menangkal kabar bohong atau hoaks. (Foto : AJI Malang).

“Setelah ditelusuri ternyata itu foto demonstrasi muslim di Thailand selatan. Sebanyak 78 orang tewas,” ujarnya. Lilik juga menyebutkan kasus Ratna Sarumpaet. Sikap dan aktivitas kita, katanya, terekam di dunia maya. Semua jejak digital tersimpan dan siapapun bisa mengetahui jejak digital yang ditinggalkan.

Untuk itu, Lilik mengajak peserta untuk memastikan semua informasi yang diterima. Penerima pesan harus skeptis atau tak mudah percaya. Serta harus menelusuri informasi tersebut. Meliputi mengecek alamat situs melalui domainbigdata.com.

Jika ada yang ditutupi, dan sengaja menyembunytikan identitas untuk tujuan tertentu. Serta harus mewaspadai situs berita yang sangat banyak iklan. Selain itu, juga harus dilihat karakter berita apakah nama penulis,  editor jelas, struktur, dan huruf ejaan sesuai standar jurnalistik.

“Siapa yang mengelola dan bertanggungjawab. Cek alamat dan pedoman pemberitaan media siber.”

Hoaks paling banyak disebarkan melalui media sosial. Bahkan disebarkan hingga ribuan kali, karena verifikasi berita lebih sedikit. Sehingga hoaks semakin viral. Paling banyak, katanya, hoaks muncul karena bencana. Seperti bencana di Lombok dan NTB sehingga menimbulkan keresahan.

“Bahkan relawan takut. Video berseliweran seolah terjadi saat bencana alam terjadi,” ujarnya

Ketua program doktoral Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya Bambang D Prasetyo menjelaskan hoaks menyebar dan berkelindan di media sosial setiap hari. Era banjir informasi, warganet harus cerdas memilih media dan memilah informasi.

“Polisi era sekarang tak harus gagah,  tapi juga memiliki intelektualitas,” katanya. Sehingga penting polisi untuk mengawasi dan menindak hukum.  Jika tahu informasi yang diterima hoaks, katanya,  setop jangan disebarkan.

Sampai saat ini kabar tak benar, katanya,  tetap melintas di lini masa.  Bahkan warganet ikut mendistribusi informasi yang tak benar atau hoaks. “Bagaimana generasi kedepan jika setiap hari diasup setiap saat,” ujarnya.

Baca juga :  Ngobrol Sastra, Perempuan Berkepang Kenangan

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini