Instalasi panel surya di Masjid Istiqlal Jakarta menghemat kebutuhan listrik masjid. (Foto: Antara).
Iklan terakota

Terakota.id–Masjid Istiqlal Jakarta menjadi salah satu contoh rumah ibadah dengan konsep green building. Dengan memanfaatkan panel tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan listrik. Sebanyak 504 unit modul solar dengan kapasitas masing-masing modul sebesar 325 WP (Watt Peak) sejak 2019.

Saat ini energi yang dihasilkan panel listrik tenaga surya memenuhi sekitar 16 persen dari total kebutuhan energi listrik. Namun, penerapan panel surya terus dikembangkan melalui program wakaf energi. Yakni usaha mengajak publik turut berkontribusi meningkatkan kapasitas panel surya di Masjid Istiqlal.

Pemanfaatan panel tenaga surya, pengelola Masjid Istiqlal bisa menghemat biaya operasional pembayaran listrik secara signifikan.  “Listrik yang dihasilkan digunakan untuk pendingin udara, lampu dan kamera pengawas,” kata Wakil Kepala Bidang Riayah Masjid Istiqlal, Her Pramtama dalam siaran pers yang diterima Terakota.

Pengadaan awal instalasi PLTS, katanya, membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun, setelah itu tidak mengeluarkan biaya, kecuali membersihkan panel. Masjid Istiqlal sudah melewati penilaian Masjid Ramah Lingkungan MUI (Ecomasjid).

Konsultan Green Building Yodi Danusastro,  mendampingi Pengurus Masjid atau Building Management Masjid Istiqlal dalam proses sertifikasi green building MUI. Konsep green building, katanya, tak hanya pengadaan listrik, tetapi juga faktor lain seperti pengelolaan sampah.

“Tujuan green building bukan hanya konsep bangunannya saja, tetapi juga untuk orang-orang yang berada dalam gedung tersebut. Bagaimana perilaku dan budaya ramah lingkungan,” katanya.

Sehingga dipasang imbauan untuk menghemat lampu, dan air. Agar para jamaah mengubah perilaku saat memasuki masjid yang ramah lingkungan. Sampah juga dibuang di tempat sampah, airnya tidak dibuang-buang dan energi dipantau oleh manajemen dan dilakukan diaudit.

Saat ini, katanya, selain rumah ibadah, pemerintah juga akan mengedepankan implementasi green building di kantor pemerintahan. Salah satunya adalah gedung utama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Namun, pelaksanaan implementasi green building sepatutnya tidak hanya berhenti di kantor pemerintahan dan rumah ibadah saja.

“Sejauh ini, implementasi green building kebanyakan masih di tingkat pemerintah pusat,” kata Peneliti International Council on Clean Transportation (ICCT) Tenny Kristiana.

Ia berharap gerakan ini bisa meluas ke pemerintah daerah agar mereka bisa aktif untuk menginstal kebutuhan listriknya. Bahkan pemerintah pusat bisa membuat semacam proyek percontohan di berbagai kota. Serta membuat kompetisi antar perkotaan atau kabupaten.

“Sehingga pemerintah daerah berlomba-lomba untuk mengimplementasikan panel surya di gedung-gedung mereka,” katanya.

Listrik Tenaga Surya untuk Fasilitas Publik

Selain itu, masyarakat juga perlu memahami bahwa sumber listrik dari batubara seperti yang disediakan Perusahaan Listrik Negara (PLN), memperburuk kualitas udara. Sehingga sumber listrik harus segera dialihkan. Serta diperlukan sosialisasi pemanfaatan tenaga surya agar ditingkatkan.

“Perlu ada gerakan literasi agar masyarakat melek pemanfaatan panel surya,” katanya. Mulai teknis penggunaan dan skema pembiayaan panel surya. Selain itu, pemerintah juga bisa memberikan insentif finansial untuk masyarakat yang menggunakan panel surya.

Ia melihat jika depan harga panel surya akan lebih murah secara global. Sehingga akan semakin masif yang menggunakan panel surya karena lebih ekonomis. “Jika masyarakat melihat manfaat panel surya, akan semakin banyak yang menggunakan,” kata peneliti, spesialis teknologi energi dan kendaraan listrik, Institute for Essential Services Reform (IESR) Idoan Marciano.

Fasilitas publik perkotaan juga sebaiknya memanfaatkan panel tenaga surya. Misalnya untuk penerangan jalan, penerangan taman sampai operasional lampu lalu lintas.  Kementerian ESDM telah menggunakan penerangan jalan umum tenaga surya di 30 ribu titik yang menerangi jalan sepanjang 1.500 kilometer di 200 kabupaten/kota di Indonesia.

“Banyak penerangan jalan umum menggunakan panel surya. Memang secara kelistrikan tidak besar, tapi ini sangat berarti,” kata peneliti International ICCT, Tenny Kristiana.

Kereta warisan budaya di Australia dimodifikasi menjadi kereta listrik dengan menambahkan panel surya di bagian atas . (Foto: Inhabitat)

Tidak berhenti pada penerangan jalan, pemanfaatan panel surya bisa digunakan untuk fasilitas publik lainnya. Di Amerika, instalasi panel surya dipasang di parkiran bandara JFK,  dan stasiun kereta Washington DC.  Sementara di India, ada bandara yang seluruh operasional menggunakan listrik yang dihasilkan panel surya.

Sedangkan di Surabaya, Pemerintah Kota Surabaya menggunakan panel surya untuk lampu lalu lintas. Tujuannya untuk mengantisipasi pemadaman listrik yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Kebijakan ini, katanya, sejalan dengan hasil COP26 di Glasgow awal November 2021, untuk memperlambat secara bertahap penggunaan batu bara.

Panel surya menjadi pintu pembuka transisi energi yang lebih ambisius pada tahun mendatang. Teknologi tenaga surya diterapkan mendukung transportasi publik berbasis listrik di Shenzhen China.

Untuk transportasi dalam kota, tantangan terbesarnya adalah keterbatasan durasi operasional. Namun, tantangan ini bisa diatasi jika tersedia stasiun pengisian baterai kendaraan listrik yang menggunakan tenaga surya diperluas. Rencananya, pemerintah akan membangun 900 ribu stasiun pengisian baterai dan 6 ribu fast charging station untuk kendaraan listrik sampai dengan 2035.

“Ini menjadi perhatian utama kami agar upaya menggunakan kendaraan listrik jangan sampai malah mendorong peningkatan emisi karbon,” katanya. Untuk sektor transportasi, listrik  sebisa mungkin dihasilkan dari energi terbarukan. Lantaran selama ini, listriknya masih didominasi dari bahan bakar batu bara.

“Kendaraan yang tidak bisa beralih ke kendaraan listrik bisa menggunakan bahan bakar alternatif seperti clean fuels,” kata Idoan. Charging station kendaraan listrik yang bersumber dari panel surya menjadi kunci implementasi kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan.

Secara global, pemahaman sumber energi yang terbarukan untuk kendaraan listrik sudah tinggi. Bahkan produsen kendaraan listrik dunia seperti Tesla dan Hyundai juga aktif mengedepankan pemanfaatan panel surya untuk produknya. Seperti misalnya dengan menjual paket kendaraan listrik dan panel surya untuk perangkat charging-nya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini