Lestarikan Seni, Tradisi dan Kudapan Khas Malang

Terjadi interaksi dan akulturasi budaya di Festival Panawijen Djaman Bijen. Saling belajar seni dan budaya, serta berbagi cerita tradisi setiap daerah.

Terakota.id–Ratusan mahasiswa dan wisatawan memenuhi pelataran Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang, Ahad 25 November 2018. Mereka merupakan pengunjung Festival Panawijen Djaman Bijen. Mahasiswa berasal dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Muhammadiah Malang (UMM).

Peserta disambut dengan tari topeng Malang. Festival dibuka tembang macapat pocung oleh Ki Suryono, dia merupakan pengajar sinau tembang macapat di Kampung Budaya Polowijen. Para pengunjung turut mengikuti dan menirukan tembang pocung.

Ngelmu iku kalakone kanthi laku

Ilmu itu hanya dapat diraih dengan cara dilakukan dalam perbuatan

Lekase lawan kas

Dimulai dengan kemauan

Tegese kas nyantosani

Artinya kemauan yang menguatkan

Setya budaya pangekese dur angkara

Ketulusan budi dan usaha adalah penakluk kejahatan

Tembang macapat pocung ini memberi pesan moral, sebuah wejangan atau nasihat agar bersungguh-sungguh mencari ilmu. Saling berbalas tembang, mahasiswi UPI Bandung Adelia menampilkan tembang berbahasa Sunda. Berupa tembang kawih. Adelia menyuguhkan tembang kawih bersama temannya Shinta. Tembang kawih Isola menceritakan tentang bumi Siliwangi yang berada di bawah kaki Gunung Tangkupan Perahu sebagai tempat pencetak generasi penerus bangsa.

Isola bumi siliwangi

Isola bumi siliwangi

Liliwatan Bandung lembang

Melewati Bandung lembang

Suku tangkuban parahu

Dibawah kaki gunung tangkuban parahu

Ngabedega endah agreg sigrong

Terlihat indah dengan bangunan yang kokoh

Isola pada muru tijauhna

Isola jadi tempat yang dituju oleh orang orang

Kajojo sanusantara

Terkenal senusantara

Kader kader ker harepan bangsa

Menciptakan calon generasi penerus bangsa

Ti isola mimitina

Dari isola awalnya

Terjadi interaksi dan akulturasi budaya di Festival Panawijen Djaman Bijen. Saling belajar seni dan budaya, serta berbagi cerita tradisi setiap daerah. Para pengunjung turut mencicipi kudapan tradisional khas Malang. Berupa gatot, bledus, pala pendhem, cenil, tiwul, gaplek, dan gethuk. Kudapan itu disuguhkan warga Polowijen bernama Mak Bakiyah. Kudapan ini sekarang telah langka, jarang ditemukan dijajakan di pasar tradisional. “Gatot merupakan olahan singkong,” kata mahasiswa UMM Lia Yuanita menirukan keterangan Mak Bakiyah dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.

Baca juga :  Belajar dan Bermain Permainan Tradisional
Aneka kudapan lawas berupa gatot, bledus, tewul dan lain-lain yang disajikan dalam Festival Panawijen Djaman Bijen. (Foto : dokumentasi KBP).

Singkong dikeringkan beberapa hari sampai menghitam, lantas dikukus sampai masak. Gatot dihidangkan dengan taburan parutan kelapa dan garam. Sedangkan bledus terbuat dari jagung kering yang direndam dan dikukus sampai masak. Bledus disajikan dengan taburan parutan kelapa.

Sementara pala pendem merupakan aneka jenis umbi-umbian seperti ketela, ubi, singkong, talas, ganyong, dan kacang tanah. Para pengunjung juga diajak menari bersama, menari topeng Malang. Pengunjung juga dilibatkan bermain aneka permainan tradisional, dan musik dolanan anak.

Batik dan Topeng Malang

Pengunjung diajak membatik, selembar kain dibentangkan. Cairan malam dan canting tersaji khusus untuk para pengunjung. Mereka diajarkan menorehkan malam di atas kain putih, meluruhkan malam dan memberi warna.  Titik Nur Fajriyah yang kerap melatih membatik di Kampung Budaya Polowijen berharap pengunjung turut melestarikan batik.

“Membatik merupakan warisan leluhur,” katanya. Batik Malang, kata Titik, memiliki ciri khas. Yakni menggunakan desain dan motif topeng Malang. Selain itu juga teratai dan ragam relief candi. Ia juga menjelaskan filosofi batik sembari menorehkan malam di atas kain putih.

Mahasiswa pengunjung Festival Panawijen Djaman Bijen turut belajar membatik. (Foto : dokumentasi KBP).

 

Para pengunjung juga diajak mewarna topeng Malang. Yuli Purwanto pengajar seni pahat topeng Malang memegang topeng. Ia menjelaskan kepada pengunjung mengenai karakter tokoh topeng Malang. Yuli juga mempraktikkan cara mengecat topeng Malang.

“Topeng Malang banyak versi baik dari Kedungmonggo, Jabung, Tumpang, Glagahdowo, Jambuwer, Jatiguwi, Senggreng dan Polowijen,” katanya. Perbedaan terletak pada makhota dan ukiran. Namun karakter tokoh yang dimainkan dalam gebyak wayang topeng relatif sama.

Pengunjung Festival Panawijen Djaman Bijen mewarnai topeng Malang. (Foto : dokumentasi KBP).

Beragam tanggapan dari pengunjung. Salah seorang dosen dari UPI Bandung Wildan mengaku tertarik belajar mengembangkan dan melestarikan kesenian tradisi.  Seni dan tradisi, katanya, harus tetap dilestarikan. “Kami berharap mahasiwa kelak bisa mempraktikkan di kampung halamannya.”

Baca juga :  Misteri Garuda Terbang di Candi Kidal

Sementara mahasiswi UPI Bandung, Siti Haniah terkesan dengan tarian topeng Malang. Sebagai calon guru, ia akan mengembangkan dan turut melestarikan kesenian tradisi di kampungnya. “Ada juga pengananan tradisi yang tetap lestari,” ujarnya.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini