Lentera Literasi dari Kebonagung

Adam Eksodia Prianto, Ruth Christia Panjaitan, dan Debora Violina Wahyudi. Buku Sabdo Palon di tangan Adam, Ruth memegang buku berjudul In For The Kill dan buku Deborah asyik membaca Being Happy. (Terakota/HA. Muntaha Mansur).

Terakota.id–Lonceng Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kristen Pamerdi, Kebonagung, Pakisaji, Kabupaten Malang berdentang. Para siswa berhamburan. Mereka keluar ruang kelas. Ada yang bercengkerama di taman ada pula yang khusuk membaca buku.

Tiga pelajar berseragam putih biru menenteng buku. Ketiganya, Adam Eksodia Prianto, Ruth Christia Panjaitan, dan Debora Violina Wahyudi. Buku Sabdo Palon di tangan Adam, Ruth memegang buku berjudul In For The Kill dan Deborah asyik membaca Being Happy.

Mereka tengah melahap buku bacaan, usai dibaca tuntas mereka bertugas menceritakan di depan kelas, dan merangkumnya. Selama duduk di kelas tujuh ini, mereka telah merampungkan beberapa buku. Mereka mulai akrab dengan buku. Tugas merangkum dan menceritakan di depan kelas turut menumbuhkan kepercayaan diri.

“Saya sekarang lebih percaya diri dan berani membaca pantun dan puisi di depan umum,” kata Deborah Senin, 18 Maret 2019.

Kepala SMP Kristen Pamerdi Wahyu Kris Aries Wardana menjelaskan program literasi bernama GROW Me. Program dengan akronim goal, reality, option, will, monitoring, dan evaluation ini berjalan sejak 2014. Program untuk meningkatkan kebugaran fisik, mengembangkan budaya literasi, dan memupuk hidup berbagi di lingkungan sekolah Pamerdi. Meliputi Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan SMP.

Dengan keterbatasan melahirkan kreatifitas. Tak memiliki lapangan yang luas, ruang perpustakaan, dan sarana yang minim. Namun, ia memanfaatkan sarana yang ada. Lebih baik menyalakan lentera daripada mengutuk kegelapan. Kini, Wahyu tengah menyalakan lentera literasi di Pamerdi.

Sebuah rak berisi 20 kotak, menjadi tempat menyimpan buku koleksi sekolah. Rak menempel tembok di depan sebuah ruang kelas di lantai dua. Buku juga diletakkan di lemari kelas dan lemari guru. Setiap guru dan siswa wajib membawa satu buku untuk dibaca di rumah.

Kepala SMP Kristen Pamerdi Wahyu Kris Aries Wardana menunjukkan rak buku sekolah. (Terakota/ HA. Muntaha Mansur).

Mereka bebas memilih buku bacaan. Mulai novel, biografi, ensiklopedia, dan beragam buku bacaan lainnya. Lalu, mereka akan berkelompok dan mendiskusikan bacaan setiap Senin selama sekitar 90 menit.

Setiap kelompok terdiri dari 8-10 siswa dan seorang guru pendamping. Semua mendapat giliran bercerita dan berbicara di depan teman-temannya. Sedang yang lain bisa bertanya dan menanggapi. Sedangkan, untuk siswa TK dan SD program GROW ME mulai berlaku pada 2016.

“Tentu banyak penyesuaian,” kata Wahyu.

Tak ada penilaian, guru tak memaksa semua siswa suka membaca. Minimal para siswa dibiasakan membuka, membaca buku dan bercerita. Literasi menjadi program unggulan di sana. Program literasi tak berhenti sebatas membaca buku dan menceritakan. Namun, guru dan siswa juga dibiasakan menulis.

Menulis dan Menerbitkan Buku

Sejumlah siswa Pamerdi mengikuti ASEAN Literary Festival (ALF) 2017 di Jakarta. Sekolah Pamerdi merupakan satu-satunya sekolah di Indonesia yang diundang. Siswa SMPK Pamerdi Ajay Deta juara 1 story telling dalam rangkaian acara di ALF. Sepulang dari acara itu, mereka menulis dan menerbitkan buku. Sebanyak empat buku diterbitkan setahun lalu.

Yakni buku berjudul Jatuh Bangkit dan Terbang sebuah kumpulan esai para guru, buku kumpulan puisi siswa Menabur Kata Menuai Cinta, buku Secangkir Kopi Inspirasi karya Wahyu Kris A.W dan Pamerdi Penuh Cinta sebagai kado wisuda.

Keempat buku diikutkan Festival Literasi Nasional Gerakan Sekolah Menulis Buku dan Adi Acarya Award 2018. Secangkir Kopi Inspirasi juara 1 kategori karya terbaik Adi Acarya Award. “Perlu gerakan inovatif, agar buku bisa sampai ke tangan pembaca. Tak benar anggapan minat baca bangsa Indonesia rendah,” katanya.

Yang terjadi, kata Wahyu, buku terlalu jauh dari masyarakat. Ia mencontohkan salah seorang guru yang dulu pernah mengajar di Pamerdi, namanya Ratna. Kini, ia melakukan gerakan literasi di pedalaman Jayapura, Sentani, dan Serui. Ia mendirikan Rumah Belajar Papua Hey. Ketika masyarakat di sana didekatkan dengan buku, kemauan membaca itu ada.

“Mereka bersemangat membaca. Kalau ada buku baru mereka senang sekali. Bahkan di Serui, anggotanya sudah sampai 1000 orang. Mereka mulai PAUD sampai SMA,” ujar salah seorang guru, Yosefa Anandita Dhea Rahmati. Saat mahasiswa, ia magang di Rumah Belajar Papua Hey selama hampir dua bulan.

Sastrawan Ayu Utami saat diskusi buku karyanya berjudul Anatomi Rasa di Universitas Brawijaya Malang, Rabu (20/03/2019), juga mengajak para pelajar untuk mencintai buku. Meletakkan gawai dan memegang buku. Tak cukup membaca pesan pendek, butuh kedalaman untuk memperoleh pengetahuan.

“Membaca buku perlu dibiasakan sejak dini,” katanya.

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini