Lembut dan Legit Kue Kicak, Khas Yogyakarta

Awalnya kicak dijual sebagai menu harian di rumah Mbah Wono. Namun, kue berbahan beras ketan itu tak banyak peminatnya ketika disediakan setiap hari. Akhirnya hanya dijual saat bulan puasa.

Terakota.id–Menelusuri Yogyakarta tak lengkap jika tak menyicipi aneka kuliner yang menggoda lidah. Setiap wisatawan pasti mengenal gudeg sebagai kuliner khas Yogyakarta. Nah, untuk kudapan pasti teringat bakpia. Tapi apakah ada yang kenal jajanan khas bernama kicak?

Kue berbahan beras ketan ini sering hadir saat bulan puasa. Pas disantap saat membatalkan puasa. Kicak bisa dijumpai di Gang Kauman, Jalan KH Ahmad Dahlan Kota Yogyakarta. Sebuah gang kecil yang tak jauh dari Malioboro ini ramai pengunjung. Mereka berburu makanan Kicak.

Saat puasa, gang Kauman berjajar penjual aneka makanan sejak pukul 15.00 WIB. Terakota.id ikut antre dan menikmati Kicak saat bulan puasa lalu. Kue terbuat dari beras ketan, parutan kelapa dan nangka. Rasanya manis, gurih. Adonan ketan terasa lembut di lidah. Kue yang hanya ada selama Ramadan itu menggoda selera, bahkan penduduk dari luar Provinsi DIY.
“Saya khusus datang ke sini memang ingin mencicipi Kicak,” kata Silvi, perempuan asal Surabaya, Jawa Timur. Cita rasa manis Kicak tidak terlalu ekstrem untuk lidah orang Jawa Timur.

“Cocok untuk takjil,” katanya. Makanan tidak pernah membedakan identitas agama, juga digemari penduduk yang tidak berpuasa. Mereka ikut memenuhi pasar takjil di Kauman dan turut menyumbang pundi pundi rupiah pembuat Kicak dengan membeli kue tersebut.

yang dilakukan oleh Wiwid petang itu.  Warga yang berdomisili disekitar Kauman itu membeli lima bungkus Kicak dan berburu makanan lain.

Asal Usul Kicak  

Kue kicak buatan anak Mbah Wono dijual di Pasar Kauman Yogyakarta. (Dyah A. Pitalolka)

Kue kicak setidaknya sudah dikenal sejak tahun 1980-an. Warga Kauman mengenal kicak sebagai kue buatan Mbah Wono, penjual nasi dan makanan kecil di rumahnya di Gang Kauman. Mbah Wono bersuamikan seorang petugas medis di RS PKU, tak jauh dari Gang Kauman.

Setiap siang, warung Mbah Wononselalu menjadi jujugan banyak karyawan RS PKU yang ingin makan siang. Sekitar 1980 an, Mbah Wono kemudian membuat kicak untuk menu bulan Ramadan. Sidar, salah satu pekerja di warung mbah Wono mengatakan kicak sudah ada sejak dirinya ikut bekerja di warung Mbah Wono tahun 1980-an.

“Seingat saya 1986 sudah ada kicak. Ibu saya dulu membantu mbah Wono jualan di sini,” kata perempuan paruh baya ditemui di dapur mbah Wono. Awalnya kicak dijual sebagai menu harian di rumah mbah Wono. Namun, menurut Sidar, kue yang terbuat dari ketan itu tak banyak peminatnya ketika disediakan harian.

Sementara proses memasak ketannya memakan waktu lama dan membutuhkan banyak tenaga. “ Karena tidak banyak pembeli, kemudian kicak dibuat hanya selama Ramadan saja,” katanya.

Tahun 1995, Sidar mengingat , Gang Kauman mulai diramaikan dengan pasar Ramadan. Saat itu, kicak buatan mbah Wono mulai mendominasi dan menjadi kue khas di Kauman. Penjualnya pun menjamur.

Tak hanya Mbah Wono, tapi sebagian besar penjual lain juga membuat kicak versi masing-masing. Penjual kue kicak yang lain mencoba membuat kicak dengan cara membeli nya dari Mbah Wono.Kemudian mereka membuat sendiri sesuai dengan apa yang dirasakan dan dimakan.

Hal itu juga dilakukan oleh Supangat, penjual kue asal Gamping, Sleman yang khusus datang dan berjualan di Kauman sejak 5 tahun terakhir. Kicaknya dibungkus plastik dan memiliki rasa yang serupa dengan kicak di lapak mbah Wono.

Supangat membuat 50 bungkus kicak yang dijual sebesar Rp 2000 per bungkus. Ada banyak penjual lain seperti Supangat yang membuat kicak dan menjualnya di sepanjang Gang Kauman selama Ramadan. “Awalnya saya beli kicak, kemudian saya makan dan bisa membuatnya sendiri,” kata Supangat.

Hanya saja, tak ada yang tahu mengapa Mbah Wono memberi nama kicak pada kue manis itu. Anak cucunya pun belum sempat menanyakan tentang asal usul nama Kicak sebelum Mbah Wono meninggal, tiga tahun lalu di usia 81 tahun. Sementara tradisi berjualan kicak berlanjut hingga saat ini. Tradisi menjual kue kicak juga diteruskan oleh keluarga Mbah Wono dan di rumah yang sama di Gang Kauman.

Tinggalkan Pesan