Lelaki Tua dari Lemah Tanjung Obituari Suefendi

Foto : Koleksi pribadi

Terakota.id-Seorang lelaki tua kelahiran 1947 menulis di dinding facebooknya:

“Peduli Yang Sebenarnya.

Ada banyak ketidak adilan dan penindasan di sekitar kita Banyak orang Cuma dudok saja dan menyaksikan semua ketidak adilan dan penindasan itu berlangsung.

Beberapa orang mungkin terusek dan mengatakan ketidak setujuannya dengan semua kejadian tersebut, tetapi ahirnya tidak melakukan tindakan apapun karena takut akan menimpa dirinya dan keluarganya. Ada juga yang mungkin cukop berani bertindak ,tapi membatasi diri supaya persoalan tidak makin parah.

Selebinya hanya sebagian kecil saja yang memang bertindak dan melibatkan diri sepenuh nya dan bertujuan menghapus ketidak adilan dan penindasan itulah yang di sebut pendampingan yang sebenar nya

Suefendi “FMPP/MCW Malang”

(Jeritan Hati Yang Sangat Dalam)”

Saya sengaja tak mengedit tulisannya, baik kalimat, kata, maupun tanda baca. Saya menyalinnya begitu saja, apa adanya. Dengan begitu, saya pikir suara tuanya akan abadi di telinga anak-anak muda yang pernah mengenalnya.

Ia menulisnya di facebook pada tanggal 15 Oktober 2012. Dan sampai bertahun-tahun kemudian, 2021, apa yang ia tulis masih sesuai dengan lakunya— melakukan pendampingan yang sebenarnya. Kita tahu bahwa waktu kerap kali mengubah seseorang. Ada yang berubah hanya dalam hitungan hari; Ada yang berubah dalam hitungan bulan; Dan ada yang baru berubah setelah puluhan tahun. Muda teriak revolusi, tua dukung oligarki, misalnya.

Pak Suef— begitu kami biasa menyapa— selalu setia pada jalan perjuangan. Sejak ia mentas dari zona hitam dan menceburkan diri dalam pergerakan, kakinya tak pernah goyah dan tulang punggungya terlalu keras untuk membungkuk di hadapan kebijakan yang salah.

Ia lulusan sekolah rakyat Mergan tahun 1957, dan Sekolah Rakyat (SR) merupakan level tertinggi pendidikan formal yang pernah ia nikmati. Di usia remaja, ia meninggalkan kampung halamannya di Blitar, lalu mengundi nasib di Jawa Barat selama beberapa tahun. Ketika Gunung Kelud meletus  pada 1966, ia memutuskan pulang kampung. Ia mengkhawatirkan orangtuanya.

Selepas itu, ia menjalani kehidupan jalanan yang keras dan remang-remang. Ia seorang sopir sekaligus dewa mabuk pilih tanding. Hari-harinya adalah botol, botol, dan botol. Jika sedang tak pegang uang untuk membeli trambul, ia dan teman-temannya mencari kucing di pasar, menyembelihnya, lalu memanggangnya dengan ban-ban bekas yang dibakar dan berasap pekat.

Saya sungguh beruntung mengenalnya, dan banyak menyerap cerita hidup darinya. “Ia adalah berlian,” kata teman saya, In’amul Mushoffa. Pak Suef telah ditempa hidup yang keras dan dapat mentas dari masa lalu kacau balau: Masa lalu yang pernah membuatnya merasakan obat-obat terlarang, penyakit selangkangan, juga busuknya penjara. Itu pelajaran berharga bagi saya. Pelajaran untuk tidak gampang menghakimi seseorang.

Bukankah Sayyidina Umar sang pembela Nabi dulunya adalah orang yang menghunus pedang untuk menebas leher Kanjeng Nabi? Bukankah Sunan Kalijaga dulunya adalah Berandal Lokajaya? Bukankah Malcom X— tokoh muslim Afrika-Amerika dan pejuang hak asasi manusi—  dulunya adalah kriminal jalanan di Amerika? Dan bukankah Gus Dur kerap mengatakan: “Nanti sejarah akan membuktikan”?

Ya, Pak Suef telah membuktikan sejarah hidupnya.

Pada tahun 2002 ia memutuskan pensiun dari pekerjaannya. Selama 25 tahun, ia bekerja mengemudikan bus Malang-Surabaya, tepatnya sejak 1969-2002. Setelah pensiun itu, aktivitas kesehariaannya berubah total. Kebetulan waktu itu di Kota Malang tengah terjadi konflik agraria. Hutan kota bekas kampus Akademi Penyuluh Pertanian akan dialihfungsikan menjadi hunian mewah dan hotel.

Rumahnya yang beralamat di RT. 7 RW. 2, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, tak jauh dari lokasi APP. Ia bersama masyarakat Tanjung mendirikan Forum Masyarakat Tanjung (Format), tahun 2002. Ia tergerak karena kawasan hutan kota yang disebut “Lemah Tanjung” bakal menyumbang banjir, merusak flora dan fauna yang ada di sana, dan mengurangi paru-paru kota.

Perjuangan mereka kalah. “Lemah Tanjung” akhirnya jatuh ke perut pemodal. Di atas lahan itu, kemudian berdiri hunian elit dan hotel mewah. Anda tahu Ijen Nirwana? Yaa, betul.

Konflik ini direkam secara apik dalam bentuk novel berjudul “Lemah Tanjung” oleh almarhumah Ratna Indraswari Ibrahim, sastrawan Kota Malang. Dan ketika menggarap novel ini, Pak Suef merupakan salah satu narasumber yang diwawancara oleh Ratna.

Sastrawan Ratna Indraswari Ibrahim menulis novel berjudul Lemah Tanjung, merekam konflik agraria yang berkecamuk di Kota Malang. (Foto : Bachtiar Janan).

Kesadaran politik dan kepedulian sosial Pak Suef tak berhenti di satu konflik itu. Pada 2006, bersama sejumlah warga Tanjung Rejo dan Malang Corruption Watch (MCW), ia mendirikan Lembaga Perlidungan Konsumen Indonesia (LPKI). Mereka mendampingi dan menyelesaikan persoalan sengketa antara konsumen dan produsen. LPKI hanya berjalan satu tahun. Suef pun memilih berhenti.

Di tahun yang sama, 2006, sejumlah wali murid sekolah di Malang bersama MCW mendirikan Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan (AMPP). AMPP kemudian berubah nama menjadi Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP). Bersama beberapa warga Malang lainnya, Pak Suef  berhasil menjadikan FMPP teman sejati bagi korban-korban kebijakan pendidikan maupun arogansi sekolah.

Sebagai teman yang baik, FMPP tak pernah tinggal diam ketika ada korban mengadu: Ijazah ditahan, pungutan liar sekolah, kekerasan dalam pendidikan, diskriminasi pendidikan, dan sebagainya. Sejak tahun 2006 itu, ia tanpa jeda melakukan pendampingan dan mendorong aturan daerah yang peduli pendidikan.

Tak ada imbalan. Mereka mengongkosi sendiri pendampingan itu, dan tak meminta serupiah pun dari korban. Bahkan, ketika ada pihak-pihak pelaku berniat menyuap agar kasusnya dihentikan, Pak Suef dan kawan-kawannya tegas menolak.

Saya bertemu pertama kali dengannya sekitar awal 2012 di Kalimetro, sebuah tempat yang berada di Merjosari Kota Malang, dan tak jauh dari kecipak air Sungai Metro. Hampir saban hari Pak Suef ada di tempat itu. Saya pikir, Kalimetro adalah rumah kedua baginya. Ditemani kopi dan kretek kesukaannya, kami berbincang banyak hal di tempat itu. Perbedaan usia tak menjadi batas. Ia orang tua yang egaliter.

Saya lupa kapan terakhir bertemu  dengannya. Yang jelas sudah sangat lama. Saya kangen, dan ia mungkin kecewa, sangat-sangat kecewa; Karena saya keluar Malang tanpa berpamitan.

Pak Suef! Saya masih ingin ngopi bareng, makan gulai kepala kambing bersama, dan mendengar cerita-cerita yang seolah tak ada habisnya. Saya sedih, semua itu tak mungkin terulang lagi. Minggu 27 Juni 2021, Tuhan menyuruhmu pulang selamanya. Namun, saya tak mungkin lupa kata-katamu: “Tak ada pendidikan gratis. Yang ada adalah, pendidikan merupakan tanggung jawab negara kepada rakyatnya.”

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini