Legenda Kuliner Khas di Warung Lama H. Ridwan

legenda-kuliner-khas-di-warung-lama-h-ridwan
Awal berdagang kaki lima sejak 1919. Setelah pasar besar Malang selesai dibangun warung berdiri di dalam pasar pada 1925, (Terakota/M. Yufirly Raizza Fadilah).

Reporter : M. Yufirly Raizza Fadilah

Terakota.id—Berbelanja di Pasar Besar Malang? Puas membeli aneka kebutuhan di pasar tradisional terbesar di Kota Malang, waktunya makan siang. Warung Lama H. Ridwan bisa menjadi salah satu pilihan menikmati kuliner masakan Jawa.

Warung berdiri sejak 1925, berusia  100 tahun. Aneka perobatan dan perlengkapan di warung juga masih terawat. Meja dan kursi bersih, sejumlah pelanggan tengah menikmati makan siang. “Pesan apa, mas?,” tanya pemilik warung Yusuf Bakhtiar, 68 tahun dengan ramah.

Ia merupakan generasi ke tiga meneruskan warisan usaha kakeknya, Haji Ridwan. Yusuf dipercaya mengelola Warung Lama H Ridwan sejak 1971. Awalnya, kata Yusuf, Haji Ridwan merupakan pedagang kaki lima. Masakan yang akan dijajakan dipikul bersama dua orang pegawainya.

“Sejak 1919 sebelum pasar dibangun berjualan kaki lima. Setelah berdiri pasar pada 1925, dibuka warung pertama di pasar besar,” katanya.

Nama Warung Lama H. Ridwan menjadi sejarah panjang perjalanan sang kakek mendirikan warung, Selain itu, juga mengenang kakek yang mewariskan warung dari generasi ke generasi. Sekaligus doa agar warung berlangsung lama.

Sempat membuka cabang pada 1989, Yusuf mencoba peruntungan. Berselang 11 tahun kemudian, cabang Warung Lama H Ridwan dibuka terpaksa tutup. Meski diwariskan secara turun temurun, namun ia menjamin masakannya tetap terjaga. Tak berubah dari waktu ke waktu.

“Cita rasa tak berubah sejak dulu. Selalu konsisten,” katanya. Meski sejumlah masakan sejuta umat seperti rawon dan soto dijual, namun cita rasanya khas. Berbeda dibandingkan warung makan yang lain.

Bagi Anda pecinta kuliner, yuk sembari berbelanja di Pasar Besar Malang sempatkanlah mampir ke Warung Lama. Lokasi warung berada di dalam Pasar Besar, tepat di lantai dasar. Jika masih kebingungan, Anda bisa bertanya kepada pedagang di pasar tersebut.

Dari kejauhan, papan nama berwarna kuning bertulis,“Warung Lama H. Ridwan Sedjak Tahoen 1925” tampak mencolok. Desain interior khas tempo dulu, didominasi warna putih. Meja dan kursi berbahan kayu jati berwarna cokelat berjajar di dalam warung. Dinding berhias aneka foto pemilik dari masa ke masa, foto hitam putih semakin menambah memori kolektif bernostalgia zaman dulu.

Warung buka setiap hari, mulai pukul 08.00 WIB sampai 16.00 WIB. Kecuali bulan puasa, warung tutup selama sebulan penuh. Sejak awal berdiri Warung Lama menjual rawon. Kemudian sajian semakin bervariasi ada soto, gule sapi, kare ayam kampung, krengsengan sapi, bali daging, ayam lodho, dan nasi campur.

Awalnya Warung Lama hanya menjual rawon. Kemudian sajian semakin bervariasi ada soto, gule sapi, kare ayam kampung, krengsengan sapi, bali daging, ayam lodho, dan nasi campur. (Terakota/M. Yufirly Raizza Fadilah).

Kelezatan ayam lodho di sini diakui banyak pelanggan. Ayam kampung dimasak sampai matang merata, hingga tekstur daging ayam menjadi lembut. Perpaduan bumbu rempah dan pedas memanjakan lidah kita, “Masuk daftar 100 resep masakan Nusantara karya Pak Bondan Winarno,” tuturnya bangga.

Menu yang ditawarkan beragam.mulai tempe, empal, perkedel, dan sate daging. Serta lauk spesial yakni sate komoh. Daging sapi diolah tidak basah tetapi juga tak kering. Sehingga tingkat kematangan sate yang pas. Daging sapi dilumuri bumbu rempah, ditusuk dan dibakar di anglo. “Setelah matang, diberi bumbu lagi,” kata Yusuf.

Sehingga daging sate komoh empuk dan lembut di mulut. Dipadu dengan bumbu yang sedikit manis, sate komoh pantas dihargai Rp 12 ribu per tusuk. Untuk minum, Anda tinggal memilih teh, kopi, susu, dan sebagainya. Harga makanan dan minuman, tak perlu khawatir. Ramah di kantong.

Seporsi makanan dipatok seharga Rp 15 ribu sampai Rp 17.500. Sedangkan lauk mulai dari Rp 2 ribu hingga 20 ribu per buah. Sedangkan minuman sekitar Rp 2.500 sampai 10 ribu. Ramah di kantong, bukan? Warung Lama H. Ridwa ini selalu dibanjiri pelanggan. Bagi yang pernah mencicipi makanan di Warung Lama, pasti tak sabar untuk mencoba kali kedua.

Dalam sehari, Warung Lama menjual 300 sampai 400 porsi makanan. Pembeli datang dari berbagai penjuru Negeri. (Terakota/M. Yufirly Raizza Fadilah).

Warga Blimbing Shinta mengisahkan sudah lama menjadi pelanggan. Pertama kali diajak orang. “Makanannya enak. Menu favorit saya rawon dan sate komoh,” tuturnya.

Dalam sehari, Warung Lama menjual 300 sampai 400 porsi makanan. Pembeli datang dari berbagai penjuru Negeri. Mereka penasaran untuk menikmati sedapnya makan di warung ini. Silih berganti generasi berlanjut ke generasi berikutnya. Sesuai nama dan doa saat didirikan , ‘Warung Lama’ tetap popular setelah hampir 100 tahun.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini