Laras Ilmiah Taat Kaidah dan Tidak Kaprah

Oleh: M. Syukron Ali Wafa

Terakota.id–Seseorang menyampaikan pertanyaan via e-mail, beberapa hari setelah penulis memberi pelatihan bahasa untuk penulisan artikel ilmiah di sebuah perguruan tinggi. Apa yang salah dengan legalisir, koordinir, inventarisir, organisir, minimalisir? kenapa mesti diubah jadi legalisasi, koordinasi, inventarisasi, organisasi, minimalisasi? Lucunya, kenapa laptopisasi, listrikisasi, neonisasi, aspalisasi, lelenisasi salah?

Perlu dipahami bersama terlebih dahulu, bahasa ragam tulis berbeda dengan laras lisan. Kedua laras itu tidak dapat dicampur-campurkan pemakaiannya. Seperti juga laras-laras lainnya, semuanya dipersilakan berkembang, tetapi tidak boleh campur-campur digunakan. Kebijakan pengembangan bahasa Indonesia sejak awal menjunjung tinggi bahasa persatuan, dan tetap mempersilakan laras bahasa lain hidup baik. Demikian pun bahasa lokal seperti Jawa, Sunda, Betawi, semuanya dipersilakan mekar dalam habitatnya.

Laras lisan– yang lazimnya banyak ditandai penyimpangan kaidah kebahasaan, pemenggalan bentuk kebahasaan, pencampuran bentuk asing dan kedaerahan–juga dipersilakan mekar dalam wadahnya. Laras tulus baku seperti yang digunakan dalam penulisan ilmiah, juga mendapatkan perlakuan sama. Bentuk-bentuk itu juga harus dibiarkan hidup dan dibuat berkembang mekar dalam habitat keilmiahannya.

Dalam ragam ilmiah, jangan sampai pengacauan laras-laras dilakukan. Dalam laras lisan keseharian, pemakaian – ir – memang produktif. Maka, mudah sekali orang menemukan bentuk legalisir, proklamir, koordinir, organisir. Orang menyangka bentuk semacam itu benar karena dikira berasal dari kata Belanda yang benar. Kata legalisir dianggap berasal dari legaliseren. Kata proklamir dianggap berasal dari proclameren. Demikian seterusnya untuk kata-kata lainnya.

Padahal kata-kata itu berkelas kata tidak sama. Bentuk legalisir dan proklamir dan bentuk-bentuk berakhiran -ir- lainnya merupakan kata benda, sedangkan legaliseren, proclameren dan yang semacamnya berkelas kata kerja. Dari sisi kelas kata yang tidak sama itu saja sudah kelihatan, penyerapan tidak mungkin dilakukan karena menyalahi ketentuan.

Jadi bentuk benda berakhiran –isasi- atau –asi- seperti legalisasi, proklamasi, organisasi, pasti diserap dari kata benda Bahasa Belanda atau Bahasa Inggris. Bentuk benda legalisasi diserap dari legalisatie atau legalization. Maka kalau bentuk serapan itu dijadikan kata kerja dengan menambahkan me- atau di-, akan menjadi melegalisasi dan dilegalisasi. Hal serupa terjadi pada proklamasi, organisasi, koordinasi, dan lainnya. Nah, jika legalisir yang berarti mengesahkan itu ditambah lagi dengan me- atau di-, bentuk parafrasenya menjadi memengesahkan dan dimengesahkan. Jadi, jelas bentuk itu tidak benar! Penjelasan serupa beranalogi untuk koordinasi, proklamasi, organisasi, konfrontasi, dramatisasi, lokalisasi.

Lalu, kenapa komputerisasi, laptopisasi, aspalisasi salah? Seperti dijelaskan di depan, -isasi dan –sasi hanya boleh digunakan untuk menggantikan –ir yang berasal dari bahasa asing, khususnya belanda dan inggris. Oleh karena itu, -isasi atau –sasi pada Komputerisasi, laptopisasi, aspalisasi dan lainnya adalah salah. Perlu juga disampaikan, pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia juga dapat dilakukan dengan pengimbuhan per-an dan peng-an. Konflik per-an bermakna hal yang berkaitan dengan bentuk dasar. Imbuhan Peng-an bermakna proses, cara, atau perbuatan yang dinyatakan bentuk dasar.

Nah, kedua cara itu harus digunakan juga untuk membentuk kata yang selama ini disangka benar seperti Laptopisasi, komputerisasi, listrikisasi, sahamisasi, rayonisasi, tendanisasi. Jadi sejalan dengan kaidah di depan, bentuk itu harus diubah jadi perlaptopan, perkomputeran, perlistrikan, persahaman, perayonan, dan pertendaan. Nah, kaidah kebahasaan demikian ini harus mulai ditaati sekalipun masih terkesan kurang enak. Tujuannya, supaya kita mengerti bentuk yang benar bilamana bertemu bentuk seperti itu.

Bentuk salah seperti di depan semakin parah karena telah berkembang menjadi “salah kaprah”. Bentuk itu merupakan generalisasi keliru. Akan tetapi, karena banyak digunakan, jadilah generalisasi keliru itu “salah kaprah”. Orang Jawa pasti paham dengan istilah salah kaprah. Artinya, bentuk salah tetapi dianggap benar karena banyak digunakan. Orang Jawa mengatakan nggodog wedang dan ngeliwet sega dengan makna leksikal merebus air minum rebusan dan merebus nasi. Lho, kenapa air yang sudah direbus, direbus lagi? Kenapa pula nasi yang sudah siap dimakan direbus lagi? Nah, itulah “salah kaprah!”

Bahasa ragam ilmiah harus dijauhkan dari kekaprahan seperti disebutkan di depan. Laras ilmiah juga harus mengikuti kaidah. Tidak boleh karena terkesan keren, lalu digunakan. Ragam ilmiah jangan sampai tergoda bentuk keren, terkini, seperti yang digunakan televisi. Bentuk yang harus digunakan adalah terbaru dan paling baru. Alasannya, ter- dan paling hanya dipakai bersama adjektiva, bukan adverbial.

M. Syukron Ali Wafa (Dok. Pribadi)

 

Tinggalkan Pesan