Ladu, Kudapan Manis Khas Lebaran di Kota Batu

ladu-kudapan-manis-khas-lebaran-di-kota-batu
Proses mencampur adonan gula dan beras ketan dalam lumpang. (Terakota/Zainul Arifin).

Terakota.id – Sumani cekatan mengambil adonan beras ketan di lumpang dan diletakkan di meja. Sepotong pipa paralon dipakai menggilas adonan itu hingga pipih, lalu memotongnya jadi ukuran kecil – kecil. Perempuan berusia 67 tahun itu tengah sibuk membuat ladu. Kudapan manis khas lebaran di Kota Batu.

Ladu, kudapan berbahan baku beras ketan dan gula pasir. Bertekstur lembut dan rasa manis saat digigit. Sumani, warga Dusun Kandangan, Desa Gunungsari, Kota Batu, itu sedang melayani pesanan pelanggan.

“Tadi pagi sudah ada yang ambil tiga kantong ladu. Ini buat lagi untuk memenuhi pesanan lainnya,” kata Sumani.

ladu-kudapan-manis-khas-lebaran-di-kota-batu
Sumani memotong adonan ladu yang sudah digilas hingga pipih. (Terakota/Zainul Arifin).

Ladu jadi salah satu jajanan khas warga Kota Batu saat ramadan dan lebaran idul fitri. Sebagai suguhan tamu maupun buah tangan untuk kerabat yang datang bersilaturahmi di kala lebaran. Tapi sekarang ini hanya sedikit warga yang masih mau membuat kudapan ini.

Sumani adalah satu di antara sedikit warga Desa Gunungsari yang tetap setia membuat ladu. Ladu buatannya tidak untuk dikonsumsi sendiri, tapi juga melayani pesanan tetangga maupun toko oleh – oleh di Kota Batu dan Kota Malang.

“Tetangga di Dusun Kapru masih ada yang bikin, tapi dikonsumsi sendiri. Saya ya juga menerima,” tutur Sumani.

Butuh empat hari untuk membuat ladu. Karena proses yang lumayan lama itu pula banyak yang enggan membuat penganan itu. Di masa serba cepat saji ini, banyak yang memilih membeli kue daripada harus bersusah payah buat sendiri.

“Prosesnya rumit, mungkin itu jadi penyebab banyak yang malas buat ladu,” ucap Sumani.

Bahan baku beras ketan harus kualitas terbaik bila tidak ingin gagal membuat ladu. Sumani mewarisi resep dari nenek buyutnya. Komposisinya, 2 kilogram beras ketan dan 9 ons gula pasir. Dimulai dari merendam beras ketan di air dalam wadah selama sehari semalam.

Baca juga :  Menanam Pohon, Memanen Air
ladu-kudapan-manis-khas-lebaran-di-kota-batu
LADU. Langgeng seduluran bermakna menyambung tali persaudaraan. (Terakota/Zainul Arifin).

Setelah itu digiling menjadi tepung, kemudian ditanak hingga matang. Secara bersamaan, gula pasir dimasak mendidih. Berikutnya, adonan ditumbuk di lumpang hingga halus, sekaligus dicampur gula itu. Adonan tinggal dipotong pipih seukuran segenggam tangan bocah lalu dijemur selama sehari.

“Setelah itu didiamkan dulu, baru dimasukkan dalam oven pemanggang untuk jadi ladu,” ucap Sumani.

Dari 2 kilogram beras ketan menghasilkan tiga kantong ladu. Tiap kantong berisi 500 gram ladu. Sumani menjual sekantong ladu seharga Rp 36 ribu. Bila dikonsumsi sendiri, cukup disimpan dalam blek atau toples besar agar tak melempem.

Sejak beberapa ramadan terakhir ini, Sumani biasa menghabiskan 5 kwintal beras ketan. Ia dibantu seorang anak dan menantunya. Dulu saat masih ada suami serta anak menantunya, bisa habis 1 ton lebih beras ketan untuk memenuhi pesanan ladu.

“Sekarang sudah tidak bikin banyak, yang bantu buat cuma sedikit,” tuturnya.

Sumani ingat masa kecil biasa membantu buyut membuat ladu tiap ramadan, terutama jelang lebaran. Kesibukan serupa juga biasa dikerjakan para tetangga. Dahulu memanggang ladu secara tradisional. Dalam belanga tanah liat, bagian dasarnya diberi kerikil halus yang lebih dulu dicuci bersih.

“Kalau sekarang lebih mudah, sudah bisa pakai mesin pemanggang,” tuturnya.

Kudapan renyah nan manis ini biasa mengisi meja tamu di kala lebaran. Disimpan dalam blek atau kaleng, bersanding dengan penganan lebaran lainnya. Bisa pula jadi oleh – oleh untuk sanak saudara yang datang bersilaturahmi saat lebaran.

Konon, kata ladu akronim dari langgeng seduluran. Istilah jawa yang bermakna menyambung tali persaudaraan. Ladu jadi buah tangan, agar silaturahmi tidak putus dan persaudaraan selalu manis.

Gondo Ismail, seorang warga Kandangan, Desa Gunungsari mengaku sudah lama tidak membuat penganan khas ramadan itu lantaran sudah enggan bersusah payah.

Baca juga :  Menelusuri Peradaban Malang melalui Bahana Badhut

“Dulu tiap lebaran ya selalu bikin, sekarang sudah enggak,”kata kakek berusia 70 tahun ini.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini