“Kutuklah Aku. Tak Masalah. Sejarah Akan Membebaskanku”

Terakota.id–Anda mengenal Desy Ratnasari? Artis yang pernah menjulang namanya lewat  lagu “Tenda Biru” itu pernah membuat berita sensasional. Karena sensasionalnya ia pernah dijuluki “Ms No Comment” oleh beberapa wartawan. Mengapa? Beberapa kali ditanya wartawan jawabannya itu. Wartawan pun jengkel, bahkan pernah diusiur saat mau wawancara dengan artis yang sekarang jadi politisi tersebut.  Julukan itulah yang kemudian melekat padanya dalam kurun waktu lama.

Ia mulai dikenal saat berusia 14 tahun (lahir 12 Desember 1973) saat mengikuti ajang pemilihan GADIS Sampul. Ia bahkan mengalahkan artis yang sudah menjulang, Bella Saphira. GADIS Sampul menjadi salah satu ajang polularitas calon artis Indonesia waktu itu.

Artis kelahiran Sukabumi itu pernah membintangi 11 film layar lebar dan 20 sinetron. Juga pernah menjadi nominator Aktris Utama dalam Festival Sinetron Indonesia (FSI) tahun 1994 dan 1995. Dalam FSI itulah Desy pernah menyuruh satpam mengusir para wartawan yang ingin wawancara. Sampai-sampai wartawan melayangkan somasi dan menuntutnya meminta maaf.

Desy bisa jadi punya alasan kuat. Ia tidak ingin masalah pribadinya dikupas ke publik. Ini tentu hak seorang artis. Apalagi Desy pernah diisukan kurang sedap terkait hubungan dengan seorang pejabat setingkat menteri waktu itu. Juga, rumah tangganya yang dianggap kurang harmonis karena kasus perceraian.

Tapi apakah sesederhana seorang artis bisa dengan leluasa menghindar dari kejaran wartawan? Kalau bicara hak sebagai manusia maka artis pun punya hak untuk tidak diliput atau menghindar dari urusan publik. Namanya juga manusia. Tetap punya masalah dasar yang tidak perlu diumbar ke publik.

Sekali lagi, apakah sesederhana itu? Tidak. Seseorang yang menjadi artis seolah sudah menjadi “barang publik”. Artinya apa? Setiap orang merasa punya hak mengetahui aktivitas dirinya. Setiap wartawan pun seolah juga punya “hukum” untuk meliput seorang artis. Karena artis mempunyai nilai berita tinggi.

Tentu artis punya hak untuk menghindar dari kejaran wartawan. Tetapi kenapa saat mau menjadi artis, seorang individu membutuhkan wartawan? Karena wartawanlah yang akan mempopulerkan namanya. Meskipun dia punya  segudang prestasi yang mentereng, tanpa liputan media, semua itu akan sia-sia.

Oleh karena itu, seseorang perlu berpikir ulang sebelum menjadi artis. Jika ia menjadi artis ia akan menjadi “barang publik”. Maka, jika tidak mau menjadi “barang publik” janganlah menjadi artis. Sebenarnya sederhana saja, bukan?

Itu semua konsekuensi dirinya sebagai public figure. Ia akan menjadi sorotan publik. Ia akan dikejar wartawan. Ia akan menjadi magnet luar biasa orang untuk mengetahuinya. Dari hal yang kecil soal kuku sampai prestasinya.

Ingat Lady Diana istri pangeran Charles? Ia meninggal setelah dikejar-kejar paparazzi. Tak lain karena Lady Diana memang punya magnet luar biasa untuk dijadikan berita. Jadi, menjadi artis itu akan disorot, sekecil apapun aktivitasnya. Dalam istilah sekarang, jangan jadi artis jika “baperan”.

Baperan

Artis itu seperti juga seorang pemimpin. Seorang pemimpin tentu akan disorot publik. Namanya juga pemimpin. Jika tidak mau disorot ya jangan jadi pemimpin. Karena masyarakat itu kompleks dan beragam kepentingan dan latarbalakangnya tentu saja sorotannya bermacam-macam. Sekali lagi, jika tidak mau disorot publik tidak usah menjadi pemimpin.

Mengapa? Salah satunya karena setiap pemimpin itu tak akan lepas dari memutuskan kebijakan. Tentu saja, keputusan itu tidak akan pernah memuaskan semua pihak. Tetapi apakah seorang pemimpin itu harus menuruti semua orang? Kalau begitu dia tidak akan bisa bekerja dan tak menghasilkan apa-apa. Karena ia hanya sibuk mempertimbangkan saja tetapi tidak pernah berani memutuskan.  Sementara tugas utama pemimpin itu memutuskan.

Maka, keputusan pemimpin itu penting. Perkara ada yang tidak puas itu hal biasa. Namanya juga “anaknya orang banyak” dengan kebutuhan dan kepentingan beragam. Tetapi pemimpin harus memutuskan yang terbaik dan untuk kepentingan lebih banyak orang. Ada yang tidak puas? Itu biasa dan akan selalu terjadi.

Keputusan pemimpin tidak akan memuaskan semua pihak. Karena ia juga bukan alat pemuas kebutuhan masyarakat. Selalu terjadi pro dan kontra. Yang penting tidak usah baper. Kalau pemimpin “baperan” mending ia menjadi masyarakat umum saja. Tidak banyak yang akan menyorot. Tidak banyak yang menuntut. Namanya juga masyarakat. Tentu beda dengan pemimpin, bukan?

Maka, berilah kesempatan pemimpin itu bekerja dulu baru dikritik. Bagaimana susahnya seorang pemimpin yang belum bekerja, sudah dikritik habis-habisan? Saya pernah menulis status di media sosial berilah kesepatan pada para menteri yang terpilih untuk bekerja. Lha kalau belum bekerja sudah sudah dikritik lalu bagaimana? Nanti saja jika sudah bekerja lancarkan kritik jika tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Jika nanti telah bekerja tetapi tidak membuahkan hasil apa-apa ya jangan marah juga jika ada yang mengkritik. Para pendukung ya tidak usah “baper” pula. Namanya juga pemimpin. Jika “baperan” tidak usah menjadi pendukung pemimpin. Mudah, bukan?

Pemimpin dan Hinaan

Apakah seorang artis dan seorang pemimpin bisa lepas dari penghinaan? Agak sulit. Kita lihat berita akhir-akhir ini. Walikota Surabaya, Tri Rismaharini geram lantaran pernah disebut kodok, bahkan pernah disebut juga calon Tenaga Kerja Wanita (TKW).  Tentu saja, kita paham jika ibu walikota itu geram dan marah serta melaporkan pada pihak berwajib. Siapa yang tidak geran dihina sedemikian rupa? Orang normal tentu akan jengkel dan marah. Tetapi apakah masalah berhenti di situ saja? Tidak.

Saya tidak bermaksud untuk membela atau tidak membela Risma. Saya hanya mencoba melihat duduk perkaranya, kaitannya dengan seorang pemimpin. Kurang apa pak presiden Joko Widodo (Jokowi) dihina? Bahkan dalam kurun waktu lama? Kurang apa pula Anies Baswedan diberlakukan tak jauh beda? Baru-baru ini muncul penghinaan pada Risma. Masyarakat boleh geram. Atau jangan-jangan tingkat moral dan pendidikan masyarakat kita masih begitu rendahnya sehingga mudah untuk melakukan penghinaan? Mengapa Jokowi tidak melakukan gugatan? Mengapa Anies Baswedan tak melaporkan?

Saya tidak bermaksud tak punya empati. Bukan itu. Saya tentu jengkel dengan para penghina yang sering hanya berdasar rasa benci saja. Tetapi jika kita kembalikan pada esensi seorang pemimin hampir sama dengan artis. Pemimpin tidak akan lepas dari “bulllyan”. Namanya juga public figure, bukan? Dimanapun dan kapanun seorang “pesohor” akan menjadi sorotan. Maka, “pesohor” tidak boleh “baperan”.

Ada baiknya kita mencontoh dan menyimak pernyataan Fidel Castro (mantan presiden Kuba). Ia pernah mengatakan, “Kutuklah aku. Tak masalah. Toh Sejarah akan membebaskanku”. Itu pernyataan yang dikatakannya pada tahun 1953.

Penghinaan pada para pemimin memang menjengkelkan. Bikin geram. Apalagi hanya dilandasi dengan luapan emosi sepihak. Tetapi tugas pemimpin itu bekerja sesuai amanah yang sudah diembannya serta keberanian memutuskan. Tentu saja keputusan tidak akan memuaskan semua pihak. Kita berada dalam masyarakat yang “baperan”. Seorang pemimpin itu tentu beda dengan masyarakat. Biarlah sejarah yang akan mencatatnya.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini