Kritik Sastra, Apresiasi Cerdas Karya Sastra

Identitas Buku

Judul              Jalan Kritik Sastra: Aplikasi Teori Poskolonial hingga Ekokritik

Penulis           Yusri Fajar

Penerbit         Beranda, Kelompok Intrans Publishing

Ketebalan       xv+125

Terakota.idBila kritik sastra adalah apresiasi cerdas terhadap karya sastra, bisakah ulasan buku dianggap sebentuk apresiasi pembaca terhadap isi bukunya? Parafrase,“bila kritik sastra adalah apresiasi cerdas terhadap karya sastra” pernyataan profesor Wesleyan University Caleb, Thomas Winchester. Apresiasi, bagi Winchester merujuk upaya menerka kekuatan yang menciptakan pengaruh dari sebuah karya.

Ungkapan Winchester dinukil dari pengantar penulis di buku Jalan Kritik Sastra: Aplikasi Teori Poskolonial hingga Ekokritik. Penulis buku, Yusri Fajar, tampaknya tak menyepakati penuh pendapat Winchester. Sebab, upaya menerka karya sastra tidak semata-mata mengarah ke berbagai kekuatan dari karya sastra.

Upaya serius menerka karya sastra juga memberi petunjuk ke berbagai kelemahan dan kekurangan karya sastra yang sedang diapresiasi. Mengetahui kelemahan dan kekurangan karya sastra mampu memberi stimulus, sekaligus tantangan pada pengarang untuk merenung dan memperbaiki karyanya. Dari situ kita berharap kualitas karya sastra meningkat.

Yusri Fajar menggugat fenomena minimnya kritikus sastra di Indonesia. Meski banyak jurusan atau program studi sastra, dan kritik sastra menjadi mata kuliah, tetap saja minim kritikus sastra yang handal dan tekun pasca berpulangnya H.B Jassin. Minimnya kritikus sastra itu berpengaruh pada ketidakseimbangan ‘pergulatan’ yang terjadi, meminjam  bahasa Pierre Bourdieu, di arena sastra.

Paradigma Bourdieu ihwal arena sastra bermula pada kehendaknya untuk mengatasi perdebatan tak terdamaikan antara subjektivisme dan objektivisme. Antara teori-teori formalisme Rusia dan teori-teori Marxisme dalam sastra. Teori-teori formalisme Rusia hanya berkutat pada nilai estetika sastra, sedangkan teori-teori marxisme (dalam sastra) dinilai terlalu mementingkan fungsi sosial karya sastra.

Bagi Bourdieu, peran produser makna dan nilai karya seperti kritikus, penerbit, dan pengelola galeri harus dipertimbangkan agar pembaca umum mengetahui dan mengakui karya sastra sebagai karya sastra.

Jika memang menjadi seorang kritikus yang handal dan tekun sedemikian sukar dan sunyi, maka buku yang ditulis Yusri Fajar ini serupa ikhtiar di jalanan yang sepi tak berujung. Yusri merapal doa-doa berbentuk buku yang berisi sepuluh naskah kritik sastra. Naskah kritik sastra yang dibukukan itu menunjukkan kelincahan, keberanian menafsir, ketajaman, keutuhan, dan kejernihan Yusri dalam menulis kritik sastra.

Konon gaya menulis padat konsep dalam kalimat-kalimat panjang yang seakan tak berujung adalah ciri khas para pemikir Prancis. Coba saja tengok naskah kritik sastra berjudul Indonesia di Mata Orang-orang Belanda di Era Kolonial: Menyingkap Sejarah dalam Kumcer “Semua untuk Hindia” Karya Iksaka Banu.

Yusri mendedah narasi historis kolonial dan poskolonial dengan kalimat-kalimat panjang nan utuh. Deretan kalimat panjang itu mengantarkan pembaca ke pemahaman bahwa hubungan-hubungan kekuasaan kolonial dan efek-efek mereka tidak lenyap bersamaan dengan berakhirnya kekuatan-kekuatan kolonial di Eropa, dan kita tetap hidup bersama di dalam bayang-bayang kolonialisme. Setidaknya bayang-bayang kolonialisme itu hingga kini memengaruhi proses kreatif karya sastra Indonesia.

Keberanian Yusri menafsir begitu tampak saat dia membelejeti novel The God of Small Things karya Arundhati Roy. Novel itu bercerita tentang neokolonialisme yang terjadi di India. Neokolonialisme adalah situasi ketika suatu negara secara formal merdeka, namum negara itu tetap dikendalikan oleh negara bekas penjajah atau negara adidaya melalui lajur ekonomi, politik, budaya, dan ideologi di bawah payung globalisasi. Sebagaimana diceritakan di The God of Small Things, India masih dijajah secara ekonomi dalam bentuk ketergantungan pada lembaga ekonomi dunia.

Ketergantungan itu menciptakan hubungan yang tidak setara antara India dan Bank Dunia. Celakanya hubungan itu tidak menguntungkan India. India tak bisa mengkritik resep-resep ekonomi Bank Dunia yang mewujud kebijakan, sebab India sebagai negara pengutang posisinya lemah. Dan semakin lemah ketika India harus membayar tingkat bunga yang tinggi. Yusri memadatkan cerita neokolonialisme dalam novel karya Arundhati Roy itu dengan term: Hegemoni Ekonomi, Sistem Kasta, dan Para Elit Lokal.

Penulis buku juga menjelajahi karya sastra Indonesia yang mengisahkan kehidupan orang-orang Indonesia di kota-kota Eropa dan Amerika. Penjelajahan itu menghasilkan naskah kritik sastra berjudul Kota di Amerika dan Eropa dalam Sastra Indonesia: Kenangan, Keterasingan, dan Harapan. Yusri menjelajahi keterasingan melalui karya Suprijadi Tomodihardjo dan Aan Mansyur.

Itulah tiga rapalan doa berupa naskah kritik sastra di tengah jalan panjang-sukar seorang penulis kritik sastra. Menukil kalimat Yusri Fajar, sebagaimana penulis kritik sastra sesudah menyelesaikan naskah kritiknya, pembaca juga yang akan memberikan respons atas kritik sastranya, bolehlah buku Jalan Kritik Sastra ini saya respons dengan cara mengulas barang sedikit ceritanya.

Jalan Kritik Sastra – Yusri Fajar

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini