Kritik ‘Praksis’ terhadap Perempuan Menjahit Hujan

Tentang perempuan realitasnya adalah tukang jahit, lalu menjadi “hiper realitas” ketika diyakini akan membawa pertanda mengenai hujan. Dengan praktis simbol itu dituliskan dalam alur yang mudah diterka sebenarnya. Namun bukan pada kata ‘menjahit hujan” letaknya.

Oleh : Cok Sawitri

Titik Kartitiani, nama ini jika ditulis dapat berbeda makna dengan ketika diucapkan. Begitu pula ketika membaca judul “Perempuan Menjahit Hujan”—kumpulan cerpen dengan isi 16 Cerpen, diterbitkan dengan ISBN dan diberi pengantar Seno Gumira Ajidarma. Artinya kumpulan cerpen ini harus serius dibaca jika dari nama sang pemberi pengantar. Namun dalam Kritik “praksis” ini saya justru melupakan isi kata pengantar itu. Saya hanya membaca dengan serius pada “ 4” (baca: empat) cerpennya, yang lainnya saya baca utuh namun tidak berulangkali.

“Hujan” sebagai mikro-teks (si penulis pasti tahu, saya sedang berusaha seserius para kritikus sastra), kata ini dalam 4 cerpen yang saya baca dengan serius tidak lagi bermakna ‘hujan’ sebagaimana hujan dalam pengertian umum. Karena itu hujan sebagai mikro-teks dalam cerpen “Gadis Kecil yang Menanam Gerimis”– menjadi pembuktian bahwa BMKG dan Pawang hujan tidak dapat memaksa makna “hujan’ seperti yang dipahami seperti umumnya.Begitu pula sistem bahasa, tidak dapat memaksa untuk taat pada pengertian ‘hujan’.

Dalam cerpen “Gadis Kecil yang Menanam Gerimis” juga berhadapan dengan cara berpikir: apa yang benar, tepat, indah, lurus, itu tidak bersifat melingkupi seluruh cara mengkaribi hujan. “Menanam Gerimis” –makin menguatkan tidak ada makna ‘biner’ dalam penulisan bahasa. Jacques Derrida dengan serius menyatakan soal ini: kurang lebih, saya lupa dimana meletakan buku itu yang berisi: Makna adalah sesuatu yang tidak stabil, yang selalu tergelincir dalam prosesnya.

Jadi kata “hujan”, “menanam”, tidak hanya dibatasi kata, kalimat ataukah teks tertentu yang bersifat tunggal dan seragam, namun hasil hubungan antar teks. Karena itu membaca keseluruhan cerpen “Gadis Kecil yang Menanam Gerimis” ini, harus dilanjutkan dengan “Lelaki Berparas Hujan” bahkan ketika sampai pada “Perempuan Menjahit Hujan” dan mengakhirinya dengan “Anak-anak Hujan”.

Kita akan menarik nafas untuk percaya makna ‘hujan’ itu serius tidak stabil. Jika pun latar waktu diabaikan, ke empat cerpen ini dapat mengabaikan latar waktu, namun jelas masih berada dalam waktu yang dapat diklaim fase modern.Tetapi fase modern itu kesyaratannya gugur pula oleh kisah yang diajukan dari faktor sosial budaya.

Jadi, walau ada kesadaran akan ‘konflik” terhadap ekonomi kapitalis, bentuk solidaritas baru, sikap-sikap rasional pada dialog yang dihadirkan dalam 4 cerpen yang saya baca serius, tetap mengisyaratkan, aspek masyarakat yang paling modern bukanlah fakta bahwa masyarakat itu dalam kecirian yang tadi itu; salah satunya ekonomi kapitalis.

Saya hendak melepas bahaya berpikir secara ‘praksis’ ini, sebab terlalu serius, tapi cobalah membaca dengan hati-hati bagian dari Gadis Kecil yang Menanam Gerimis: “Tidak banyak pekerjaan pagi ini. Aku hanya ingin mengganti beberapa bulir biji gerimis yang kemarin membusuk tak berkecambah.Akhir-akhir ini banyak yang mati,” kata gadis kecil itu.( hal.11, bait kelima dari atas).

Bandingkan dengan : Ratusan kilometer dari kebun itu, warga Jakarta menengadah. Mereka tak peduli lagi jalur-jalur jalan protkol yang penuh kendaraan tak bergerak.Pandangan mereka ke langit, ke arah muka gerimis, menatap tercengang buliran air yang turun, bukan bening, tetapi warna-warni seperti ratna mutu manikam. (Hal 15, bait paling atas).

Sebagai kritikus yang baru belajar, maka saya dengan nakal mengingatkan diri bahwa Titik Kartitianti itu latar belakang pendidikannya fakultas pertanian.Juga penulis lepas untuk tulisan-tulisan bergenre agak-agak ilmiah.Secara semantik, dapat dipahami bahwa ilmu kehidupan itu tetaplah tetap memungkinkan untuk dibaca seperti membaca prediksi organisme, bagaimana beradaptasi.

Bukankah tanaman bisa mendengar musik? Atau hewan pun memiliki cara berkomunikasi. Maka titik pun menghadirkan pragamatik penanaman gerimis itu, menjadi kecambah misalnya menjelaskan mengenai fenomena yang bukan tidak mungkin dapat terjadi (atau sedang terjadi).

Pada “Lelaki Berparas Hujan”, menjelaskan bahwa tradisi ‘dewi padi’, dunia pertanian memiliki kesepakatan akan arti sederhana mengenai ‘padi’ itu, dalam bahasa Titik Kartitianti itu; Mbok Sri, perhatikan jika dikaji serius; (kembali serius): dalam bahasa budaya; dewi padi, pertanian, sawah, hujan, kekeringan, kemarau, tidak serta merta dapat mengirimkan arti yang sama kepada komunitas yang berbeda, walau sama-sama petani. Jadi ada kode yang mewakili nilai-nilai budaya.

Upaya itu tidaklah dalam maksud membawa nuansa baru terhadap kemirisan akan kehidupan pertanian di seluruh muka bumi. Bagaimanapun cara Titik Kartitianti ini menghadirkan pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana. Atau perubahan zaman yang dicemaskan itu, melahirkan simbol yang lebih rumit.

Bagaimana tradisi, ritual kepada dewi padi itu berhadapan bahkan dengan kenyataan pewarisnya, sang kepala desa yang menjadi trah “wulu” mempertanyakan keyakinan pada persembahan sajen kepada dewi sri itu. Pada “Perempuan Menjahit Hujan”— terbentang apa yang disebut pragmatika (ini agak serius istilahnya, biar serius kesannya nulis kritik).

Tentang perempuan realitasnya adalah tukang jahit, lalu menjadi “hiper realitas” ketika diyakini akan membawa pertanda mengenai hujan. Dengan praktis simbol itu dituliskan dalam alur yang mudah diterka sebenarnya. Namun bukan pada kata ‘menjahit hujan” letaknya.

Dapat dibandingkan jika itu dalam analisa sitaks vs pragmatik.Bagaimana pembelajaran makna ini terbentang dengan tidak stabil; boleh jadi sembunyi pada keinginan untuk lebih menyederhanakan betapa rumit dan mencemaskan mengenai hubungan manusia, alam dan perubahan yang menyesakkan.

Pada cerpen “Anak-anak Hujan”– kata-kata yang dianggap sulit sebagai kata benda, lebih dekat sebagai kata imajiner.Bahkan bisa jadi antara dunia nyata dan imaji menemukan makna yang diinginkan.Anak-anak hujan.Anak-anak itu realis, hujan itu realis.Ketika bersambung anak-anak hujan itu melahirkan makna sendiri, tidak sendiri, tergelincir jauh, namun membangun makna untuk keseluruh isi kisah.Realis sekali dalam teks.

Nah, lazimnya kritik sastra pastilah mengutip beberapa kalimat, atau memberi gambaran isi ceritanya.Tetapi saya berpikir alangkah menariknya, jika tertarik, memburu kumpulan cerpen ini. Sebab dari 4 cerpen yang saya baca serius ini, padahal ada sisa 12 cerpen lagi, saya berkeyakinan akan ada bentuk responsi dari stimulus. Dari bentangan berbagai pilihan kata itu, bisa jadi pada pengertian, menjangkiti perasaan, atau seperti amanat ketika membaca judul cerpen-cerpen itu.

Karena itu, saya dari awal bilang, saya mengabaikan kata pengantar itu.Sebab agak sulit saya mencari perbandingan mengenai surealis itu, hanya karena memang tak lazim menjahit hujan misalnya.Saya pikir secara praksis lebih memungkinkan untuk menjadi lebih serius memutuskan untuk membaca kumpulan cerpen ini. Betapa menarik cerpen-cerpen justru ketika dibawa dalam analisa praksis!

*Budayawan di Bali. Ia juga penulis cerpen, novel, dan pemain teater. Bukunya antara lain Janda dari Jirah (KPG, 2007), Sutasoma (Kaki Langit Kencana, 2009), Tantri (Penerbit Buku Kompas, 2011), dan Baruni Jembatan Surga (Cok Sawitri, 2013). Cok juga mementaskan naskah monolog antara lain Monolog Tembakau (2016), Gubernur Air (2017), dan film pendek Rahim (dalam proses).

 

Judul Buku: Perempuan Menjahit Hujan
Penulis: Titik Kartitiani
Jumlah halaman: xv+131 hlm
Penerbit: Kosa Kata Kita, Jakarta, Juli2017

 

Tinggalkan Balasan