Krisis Pangan, Home Garden dan Pandemi Covid-19

Ilustrasi : Venus Sengpayom

Oleh : Angga Prasetyo Adi*

Terakota.idMungkin saya akan memulai dengan falsafah masyarakat adat Ciptagelar yang memaknai pangan sebagai sebuah kehidupan, barang siapa menjual pangan maka mereka juga sama dengan menjual kehidupan. Pangan merupakan jantung kehidupan manusia. Ironis, jika Indonesia sebagai negara agraris mengalami krisis pangan dan di tengah masyarakat harus bertahan pada pandemi Covid-19.

Pengamanan pangan menjadi sangat penting ditengah pendemi Covid-19 seperti sekarang. Ketercukupan pangan akan berdampak pada psikologis masyarakat dan mampu untuk menenangkan masyarakat saat pandemi Covid-19.

Krisis pangan yang terjadi saat ini tidak terlepas dengan ketergantungan atas pangan yang cukup akut. Seperti impor beras dari Vietnam, Thailand maupun India dengan jumlah impor beras sebesar 1,17 juta per tahun. Maka wajar jika pemerintah impor karena jumlah produksi beras sebesar 1,22 juta ton sedangkan konsumsi beras mencapi 2,51 juta ton. Sedangkan untuk mencukupi jumlah konsumsi masyarakat dibutuhkan 1,29 juta ton.

Tetapi jika melihat hitungan setiap hektar menghasilkan padi 5,7 ton maka membutuhkan 226 ribu hektar lahan. Guna mencukupi kebutuhan konsumsi tetapi menjadi dilema karena setiap tahun alih fungsi lahan mencapai 200.000 hektar.

Tidak hanya skala internasional ketergantungan pangan ditingkat nasional juga cukup besar dimana sebagian besar daerah pedesaan masih menyuplai bahan pangan ke daerah perkotaan. Ketergantungan pangan yang cukup tinggi memaksa pemerintah harus mampu menyediakan bahan pangan sendiri dengan skala rumah tangga. Tujuannya untuk mengatasi krisis pangan yang terjadi saat ini karena kebijakan negara pengekspor beras ke Indonesia, memilih menghentikan ekspor untuk mencukupi pangan dalam negeri.

Ancaman krisis pangan yang terjadi di Indonesia juga direspon pemerintah dengan membuka lahan seluas 900 ribu hektar lahan gambut. Kebijakan ini dinilai hanya berorientasi jangka pendek dan berdampak buruk terhadap lingkungan masa depan.

Langkah Alternatif Mengatasi Krisis Pangan
Jika melihat krisis pangan yang terjadi ditengah pandemi Covid-19, maka pemerintah seharusnya memperhatikan pentingnya sektor pertanian kecil. Lantaran sebagian besar petani di Indonesia merupakan petani kecil.

Pertama, sejumlah data menunjukan bahwa ditengah pandemi Covid-19 saat ini merupakan musim panen. Tetapi harga jual gabah di sejumlah daerah anjlok, sampai menyetuh harga Rp.3 ribu per kilogram. Seharusnya pemerintah memanfaatkan momentum musim panen yang terjadi saat ini untuk mengatasi krisis pangan. Memanfaatkan hasil panen petani dan meningkatkan harga penjualan guna meningkatkan ekonomi petani.

Selain tidak ugal-ugalan dalam alih fungsi lahan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, juga bahan pangan alternatif sebagai pengganti beras. Sehingga mengurangi ketergantungan asupan karbohidrat. Caranya dengan menanam komoditas tananam dengan masa panen singkat seperti talas, ubi jalar dan kentang.

Kedua, meningkatkan pangan dengan memanfaatkan lahan lahan sekitar pekarangan rumah atau Home Garden. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan terhadap distribusi sayur, buah maupun bahan lain dari pedesaan. Masyarakat juga mengurangi pengeluaran untuk pemenuhan gizi seimbang tetapi juga dengan harga yang cukup murah. Sehingga tercipta sebuah kedaulatan pangan pada sistem terkecil masyarakat yaitu keluarga.

Penguatan pangan pada skala rumah tangga menjadi penting karena pada masa pandemi dan adanya isolasi diri dilakukan pada skala rumah tangga. Seperti banyak kita lihat Home Garden pada pedesaan Jawa mampu memperlihatkan sebuah keragaman, struktur kompleks dan fungsi pekarangan rumah dengan menghasilkan panen berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Produksi makanan yang diproduksi Home Garden di Jawa mampu menyediakan lebih dari 40 persen total asupan kalori dan memiliki kemampuan untuk menghasilkan makanan sepanjang tahun. Dengan input tenaga kerja yang cukup murah dengan setiap surplus yang dapat dipasarkan membantu menyediakan sumber pendapatan dan perlindungan terhadap kegagalan panen.

Ketiga, mengoptimalkan fungsi BULOG sebagai pengendali harga pasar dengan mendorong untuk menyerap gabah dari petani. Sehingga harga pada masyarakat tetap stabil ditengah pandemi Covid-19 saat ini yang sebagian besar ekonomi masyarakat terpuruk bahkan hancur karena pandemi Covid-19.

Terakhir, pemerintah seyogyanya melakukan intensifikasi pangan bukan membuka lahan baru yang justru membutuhkan biaya yang cukup besar. Dengan memanfaatkan lahan milik petani kecil di pedesaan seluas 233.439 ribu hektar. Jika setiap hektar menghasilkan 5,7 ton maka produksi gabah bisa mencapai 1,33 juta ton. Sehingga mampu untuk mengatasi krisis pangan dimasa pandemi hingga jangka panjang. Sehingga tidak perlu membuka lahan yang hanya berjangka pendek dan berdampak buruk pada lingkungan dimasa depan.

*Penulis tengah menempuh studi magister di jurusan sosiologi pedesaan Institut Pertanian Bogor (IPB).

*Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Redaksi akan menyeleksi dan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini