Krisis Iklim Ada di Depan Mata dan Mengancam Masa Depan Kita

Ilustrasi: (SHUTTERSTOCK/ParabolStudio)

Terakota.id–Beberapa waktu lalu saat saya mengisi webinar terkait perubahan iklim, banyak dari peserta yang mengeluhkan cuaca panas, khususnya yang tinggal di wilayah perkotaan besar seperti Jakarta dan Surabaya. Tidak hanya mereka yang tinggal di kota besar saja, mereka yang tinggal di kota kecil khususnya sepanjang pesisir utara juga mengalami keluhan serupa. Sayup-sayup terdengar juga keluhan dari beberapa orang yang tinggal di kota yang terkenal dingin (dahulu) seperti Malang dan Batu, juga mengeluhkan situasi tersebut. Krisis iklim.

Tidak hanya soal cuaca panas, mereka juga mengeluhkan anomali cuaca, seperti setelah panas tiba-tiba hujan, di beberapa wilayah hujan cukup intensif bahkan menyebabkan banjir, Kota Malang beberapa hari yang lalu mengalami hal tersebut. Sementara di Jombang sesekali hujan, meski beberapa hari terlihat sangat cerah menjurus panas.

Apa yang dirasakan peserta webinar, juga saya rasakan dan mungkin juga orang lain merasakan hal serupa, bahkan orang-orang di belahan dunia lain juga. Persoalan cuaca panas dan tiba-tiba hujan dari intensitas ringan ke tinggi, sering kita temui secara tiba-tiba. Jika merujuk pola kalender musim umum, bulan-bulan ini seharusnya sudah mulai memasuki musim penghujan dengan suhu rata-rata seharusnya tidak terlampau tinggi. Tapi, siklus itu sepertinya sudah tidak berlaku lagi, kita sekarang tengah dihadapkan dengan situasi di mana kita sulit memprediksi cuaca.

Beberapa di antara kita mungkin cukup kesal, karena paling tidak anomali cuaca membuat kita harus beradaptasi dengan kondisi ini. Seperti yang dialami oleh kita pengendara motor, jas hujan menjadi bawaan wajib yang harus tersedia di bagasi motor, karena sewaktu-waktu hujan akan datang tanpa mampu diprediksi. Lalu, bagi kita yang mencuci baju sendiri atau mungkin orang laundry, pasti juga harus lebih cekatan dan dituntut berpikir cepat, sebab terkadang cuaca panas sekali tetapi tiba-tiba hujan bisa datang, kalau tidak jemuran baju akan basah dan tentu hasilnya tidak maksimal.

Selain itu, anomali cuaca seperti panas berlebihan ini juga menuntut pengeluaran lebih. Mungkin di antara kita sudah ada yang mulai berpikir menambah kipas angin atau pendingin ruangan. Selain harus membelinya, ongkos bulanan pembayaran listrik juga akan meningkat. Persoalan ini pun juga turut mengancam kesehatan kita, karena perubahan ekstrem akan mempengaruhi kondisi tubuh, tak jarang beberapa di antara kita mudah sakit, seperti pilek, kepala pusing atau badan meriang. Mungkin itu sedikit remah-remah keluhan yang tengah kita hadapi.

Anomali Cuaca Sebagai Dampak Perubahan Iklim

Catatan di atas merupakan gambaran situasi terkini yang tengah kita hadapi. Anomali cuaca ini pada dasarnya adalah bagian dari dampak perubahan iklim. Hujan intensitas tinggi dan kadang tidak dapat diprediksi, kadang juga suhu panas ekstrem, sampai kacaunya tata musim, sebenarnya pola-pola umum yang diakibatnya oleh perubahan tata iklim. Mengapa demikian?

Perubahan iklim jika merujuk pada laporan IPCC dalam ‘Special Report: Global Warming Of 1.5 ºc: Glossary’ adalah suatu keadaan di mana terdapat perubahan keadaan iklim yang dapat diidentifikasi (misalnya, memakai uji statistik atau observasi terukur) dengan melihat perubahan rata-rata atau variabilitas sifat-sifat pada kondisi tata iklim, terutama dalam jangka waktu yang lama, biasanya beberapa dekade atau lebih. Pada laporan IPCC di tahun 2018, perubahan iklim ini mencakup pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang dalam skala besar berdampak pada pola cuaca, seperti aktivitas ekonomi.

Penyebab utama perubahan iklim adalah keberadaan emisi gas efek rumah kaca yang semakin besar dan menumpuk di atmosfer, sebagian besar adalah jenis karbondioksida dan metana. Gas efek rumah kaca salah satunya disebabkan oleh adanya penggunaan energi berbahan bakar fosil untuk menunjang aktivitas ekonomi, selain itu juga akibat dari pertanian skala luas, industri tambang dan pengolahannya, seperti logam bahkan semen, dan dari semua aktivitas tersebut selalu bertalian dengan deforestasi atau hilangnya hutan, seperti yang diungkapan IPCC dalam ‘Technical Summary Report 2021.’

Merujuk pada catatan Karen Smith dalam artikelnya di The Conversation yang berjudul ‘The Unexpected Link Between The Ozone Hole and Arctic Warming,’ situasi perubahan iklim menyebabkan peningkatan suhu permukaan, karena akibat dari menumpuknya gas efek rumah kaca di atmosfer mengganggu lapisan ozon, sehingga paparan pantulan sinar matahari langsung mengenai objek tanpa ada proses filterisasi. Hasilnya paparan sinar matahari langsung itu menyebabkan melelehnya salju dan es di wilayah kutub. Kondisi itu menyebabkan suhu permukaan bumi menjadi meningkat, selain juga menyumbang peningkatan permukaan rata-rata air laut.

Selain faktor tersebut, menurut artikel dari Samantha Jakuboski di Nature.com yang berjudul ‘Deforestation and Global Warming’ fakta soal deforestasi yang mengakibatkan hilangnya hutan juga menjadi faktor penting yang turut menjadi penyebab dari meningkatkannya suhu permukaan. Karena hilangnya hutan telah melepaskan karbon yang banyak ke atmosfer, sementara dengan hilangnya hutan, berarti bumi kehilangan pengikat karbon alamiahnya dan juga kehilangan produsen oksigen terbesarnya. Dampaknya tentu, perlahan-lahan suhu menjadi meningkat.

Situasi ini telah mendorong perubahan tata iklim, karena semakin besar gas efek rumah kaca di atmosfer mengganggu siklus hidrometeorologi. Maka tidak heran kita mengalami anomali cuaca, seperti musim yang tidak pasti hingga persoalan tiba-tiba hujan dan kadang panasnya keterlaluan. Sekarang saja suhu permukaan bumi telah meningkat sekitar 1,2°C sejak tahun 2020, cukup tinggi dibandingkan sejak masa pra-industri atau jika merujuk pada tahun 80an, jika melihat laporan dari World Meteorological Organization (WMO) yang berjudul ‘New climate predictions increase likelihood of temporarily reaching 1.5 °C in next 5 years,’ WMO pun memprediksi kemungkinan sekitar 20 persen suhu saat ini akan melebihi 1,5 °C pada awal 2024.

Lalu Apa Solusinya?

Mungkin di antara kita akan berpikir bahwa ketika cuaca panas melanda, solusinya adalah membeli kipas angin atau pendingin ruangan. Jika ada hujan tidak menentu agar mobilitas tidak terganggu, kredit atau membeli mobil adalah salah satu cara menghindari berbasah-basah di jalan. Atau di antara kita akan lebih banyak beribadah, bahwasanya ini mungkin kita banyak dosa atau meyakini ini sudah memasuki akhir zaman.

Di sinilah pentingnya pendidikan lingkungan hidup sejak dini, minimal memberikan materi lingkungan hidup sejak dini terkait apa itu lingkungan hidup, khususnya seperti apa perubahan iklim serta dampaknya. Karena pengetahuan itu paling tidak akan mendorong kepekaan dan kesadaran betapa pentingnya melindungi lingkungan hidup.

Karena dengan memiliki kesadaran itu kita akan lebih banyak bergerak dalam aksi-aksi terkait bagaimana melindungi lingkungan hidup kita. Terutama bergerak untuk mengurangi resiko perubahan iklim sampai ke hal yang utopis yakni menghentikannya. Mungkin kita melihat anak seperti Greta Thurnberg dari Swedia mulai menyebarkan semangat pentingnya mulai bersuara untuk bumi terutama terkait perubahan iklim, yang kemudian diikuti oleh anak-anak muda dari Asia seperti Mitzi Jonelle Tan dari Filipina, lalu Kim Dohyeon dari Korea Selatan dan anak-anak muda lainnya di Asia, seperti dalam warta berjudul ‘Youth climate activists spread Greta Thunberg’s message in Asia.’

Anak-anak muda ini berani bersuara, terutama mengkritik dan mendesak pemerintah di negara mereka bahkan global untuk bertanggung jawab atas situasi perubahan iklim yang semakin parah. Mereka pun mengingatkan dan mengajak semua orang di dunia ini untuk turut bergerak menyelamatkan bumi yang sedang tidak baik-baik saja. Semua itu tidak terjadi secara instan, paling tidak anak-anak muda tersebut belajar perubahan iklim dan secara lebih luas dari pendidikan lingkungan hidup di ruang-ruang kelas mereka atau adanya akses literatur yang tersedia luas.

Mungkin solusi terbaik adalah memperluas pendidikan lingkungan hidup dan ketersediaan literatur yang mudah diakses, terutama upaya untuk meningkatkan kesadaran atas kerusakan lingkungan yang menjadi pemicu perubahan iklim beserta peningkatan resiko bencana. Sehingga ke depan anak-anak muda di Indonesia akan lebih banyak peduli dan melakukan aksi nyata penyelamatan lingkungan hidup, karena mereka adalah generasi yang akan terimbas akibat semakin rusaknya bumi, seperti adanya perubahan iklim hingga persoalan kelangkaan oksigen, hilangnya air dan kelangkaan makanan di masa depan.

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini