Kreatifitas di Era Digital

Kreatifitas, tidak akan berubah karena adanya digitalisasi. Bukan karena perkembangan teknologi manusia menjadi lebih kreatif. Internet itu hanya salah satu alat.

Terakota.id—Penggerak literasi dari berbagai Negara menghadiri Internasional Conference On Languange, Literary, And Cultural Studies (Icon Laterals ) 23-24 September 2017. Konferensi ini merupakan kali kedua, diselenggarakan Program Studi Sastra Inggris Universitas Brawijaya. Para pakar literasi yang hadir antara lain Bart Barendregt dari Belanda, Cyril Wong dari Singapura, dan Tg. Nor Rizan Tg. Mohd Ma’asum dari Malaysia.

Serta akademisi dari Universitas Brawijaya Hamamah juga turut menjadi salah satu pemateri. Icon Laterals bertema “Promoting Creative Literacy In Digital Age.” Sebuah gerakan literasi di era digital. Ketua Pelaksana, Fredy tema selaras dengan isu literasi yang didengungkan pemerintah saat ini.

“Secara spesifik Icon Laterals tahun ini mengangkat literasi yang diaktualisasi melalui media di era digital” kata Fredy. Terakota.id berkesempatan mewawancarai dengan Bart Barendegt dan Cyril Wong. Bart Barendregt menjelaskan perkembangan dunia digital tidak bisa menjadi alasan untuk tidak kreatif. Kreatifitas itu melekat pada diri manusia sedangkan dunia digital hanya alat pendukung untuk menyebarluaskannya.

“Jangan sampai dijadikan alat untuk membatasi orang berkreatifitas,” ujarnya. Sebagai antropolog, Bart menjelaskan manusia tak semestinya terlalu percaya dengan apa yang baru timbul di dunia. Kreatifitas, katanya, tidak akan berubah karena adanya digitalisasi.

Bukan karena perkembangan teknologi manusia menjadi lebih kreatif. Itu hanya salah satu alat. “Selain digital, tentu saja banyak yang lain, seperti literasi agama, termasuk perguruan tinggi.” kata Bart dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Peneliti dari Universitas Leiden Belanda, Bart Barendregt menjadi pembicara tentang Diverse Digital Worlds. (Foto : Restu Adhitya)

Sementara Cyril Wong menuturkan internet digunakan untuk mencari uang, bukan penunjang kreatifitas. Bukan tentang puisi, sejarah, maupun cerita. Bart dan Wong sepakat di era digital ini yang kreatif akan tetap kreatif atau bisa semakin kreatif. Semua tergantung pada manusianya.

“Jika pada dasarnya anda sudah kreatif, mungkin bisa semakin kreatif di dunia digital. Tapi jika anda tidak kreatif, ya sudah,” ujarnya mengakiri perbincangan.

Dalam Icon Laterals juga berlangsung kelas penulisan kreatif. Para sastrawan muda berbakat menjadi pemateri. Yakni  dengan pemateri utama Yusri Fajar, sastrawan sekaligus dosen Program Studi Sastra Inggris Universitas Brawijaya. Serta Agus Noor dan Nanang Suryadi sebagai pemateri sastra dan budaya populer.

Tinggalkan Pesan