Korupsi dalam Karya Pramoedya Ananta Toer

Terakota.id–Bakir, telah bekerja sebagai pegawai negeri selama 20 tahun. Mulai pekerja magang, sampai menjadi kepala bagian di sebuah kantor pemerintahan. Selama ini dijalani dengan kejujuran dan kesederhanaan. Sampai satu ketika, ia berubah. Batinnya bergolak. Ia menggugat kejujurannya sendiri. Baginya, kejujuran yang selama ini dijaga tidak membawa perbaikan bagi kondisi hidupnya. Sementara,  harta dan umurnya semakin berkurang.

Kondisi ekonomi keluarganya sedang terjepit. Sebagai seorang pegawai negeri, gaji yang didapat tidak seberapa. Hidupnya sederhana. Atau malah bisa dikatakan lebih dekat dengan kemiskinan. Rumahnya sempit. Bagian depannya telah disewakan dan membuat keluarganya harus berbagi dapur dan kamar mandi dengan keluarga penyewa. Keempat anaknya: Bakri, Bakar, Basir, dan Basiroh, juga semakin besar dan butuh banyak biaya untuk sekolah.

Di tengah kondisi ekonomi yang pas-pasan, Bakir terpikir melakukan korupsi seperti yang dilakukan teman-temannya. Mereka toh aman-aman saja dan sukses. Tidak mudah. Bakir harus berdebat dengan batinnya sendiri. Hati kecilnya berkata jangan. Namun, ia memilih mengesampingkan suara hatinya itu. Ia kalah. Ya, sebenar-benar kalah karena tidak setia pada hatinya.

“Tidak! Tidak! Bertahun-tahun aku sudah menderita jadi pegawai. Kalau aku mengerjakan korupsi tidak akan aku kena sial. Tidak! Itu bukan pelanggaran – itu sudah selayaknya,” batin Bakir (hal.10).

Bakir berupaya keras membungkam keraguannya. Ia merasionalkan rencana korupsi dan mencari dalih pembenar.

“Mengapa harus menjalani korupsi? Mengapa menodai sejarah yang demikian bersih kalau sejarah itu hampir selesai? Mengapa. Ha? Justru karena hidup hampir selesai aku harus menikmati kekayaan dunia? Kemungkinan hidup. Bukan? Gaji tidak pernah cukup selama ini. Rokok pun terus menerus kretek.” (hal. 12)

Kesederhanaan dan kesetiaan istrinya hilang dari ingatan Bakir. Suara Mariam, istrinya, yang berkali-kali mewanti-wanti Bakir untuk tidak meniru rekan-rekannya yang korup tenggelam di telan bayang kemewahan dan kesenangan. Bakir pun melancarkan korupsi pertamanya. Ia menjual beberapa peralatan kantor kepada seorang Taoke. Ia dapatkan uang Rp 20 ribu, waktu itu.

Dari uang tersebut, Bakir membeli dasi, semir, rokok, dan membayar biaya taksi. Korupsi besar akan ia lancarkan. Ia datangi seorang Taoke, pengusaha Tionghoa untuk mengatur harga pengadaan barang kantor. Ia meminta harga dimahalkan. Dengan begitu, pemenang tender harus memberikan bonus atau berbagi keuntungan dengan dirinya. Kongkalikong pengaturan proyek seperti ini jamak kita temukan sekarang. Pejabat dan perusahaan berkongsi dalam perburuan rente.

Korupsi pun makin akrab dengan hari-hari Bakir. Ia ketagihan untuk mengulang dan mengulang tindakan korupsi yang dirasanya berhasil. Nasihat dan tangis sang istri tidak juga mampu menyadarkan Bakir untuk tidak melakukan korupsi. Apalagi hanya sindiran-sindiran yang disampaikan oleh anak buahnya, Sirad misalnya. Bakir memilih menelantarkan istri dan empat orang anaknya untuk memulai hidup baru dengan istri barunya, Sutijah. Sutijah yang glamor dan mendukung korupsi Bakir.

Bakir telah tersesat semakin jauh. Ia bergelimang kemewahan dan kesenangan. Mulai dari rumah mewah, mobil mewah, seks, dan minuman. Namun, tetap saja ia tidak tenang. Ia merasa akan ada keruntuhan yang menguntit di belakangnya. Korupsi yang ia lakukan telah menjadi hantu yang meneror ketakutan serta kegelisahan siang dan malam. Sampai kemudian ketakutan itu menjadi kenyataan.

Kemewahan yang ia bangun runtuh bersama tubuh yang tergolek di balik jeruji penjara. Ia ditangkap polisi di sebuah bank ketika hendak transfer uang kepada istri mudanya, Sutijah. Uang yang ia dapat dari seorang Taoke  ternyata palsu. Mimpi untuk dapat hidup nyaman di sisa umur, pupus dijepit dinding penjara yang pengap.

Bakir tidak dapat mengangkat muka. Ia tercengang sekaligus menyesal melihat Mariam dan keempat anaknya yang ia terlantarkan datang menjenguk. Bagi Mariam, Bakir tetaplah suami dan bapak dari anak-anaknya. Bakir semakin menunduk, ia tenggelam dalam penyesalan dan rasa malu terhadap istri dan anaknya. Pun kepada semua orang yang pernah mengenalnya. Ia malu pada status barunya. Bakir, pegawai negeri yang sebelumnya dikenal pengabdi dan jujur, ternyata tak lebih hanyalah seorang koruptor.

Novel Korupsi Pramoedya Ananta Toer

minke-tokoh-bumi-manusia-yang-terlupakan
Pramoedya Ananta Toer penulis novel Korupsi. (Foto : Bumimanusia).

Cerita ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bentuk novel berjudul Korupsi, pada tahun 1954 silam. Novel ini menjadi cerminan kondisi birokrasi dan masyarakat ketika itu. Birokrasi memungkinkan untuk menjadi korup. Ditambah keinginan untuk hidup bergelimang kemewahan dan kenikmatan. Begitu pula, gambaran masyarakat yang permisif terhadap korupsi. Karya sastra tidak secara langsung menyuguhkan keutuhan fakta dan kejadian dalam suatu masyarakat. Namun, gejala sosial yang sedang berkembang di sebuah kurun waktu dan tempat tertentu bisa jadi merupakan bahan dasar dalam menghasilkan karya sastra.

Kini kita bisa menyaksikan, korupsi tumbuh bak jamur di musim hujan. Merasuki setiap sendi berbangsa dan bernegara, mulai dari skala desa sampai skala nasional. Dari uang receh sampai tumpukan uang dolar. Kesejahteraan masyarakat tergadaikan. Keadilan sosial bagi rakyat sebatas pemanis pidato-pidato pejabat. Korupsi telah meratakan kewibawaan pemerintah pada titik nadir kepercayaan publik. Belum selesai penuntasan sebuah kasus korupsi, telah menyusul puluhan kasus-kasus baru di belakangnya. Akibatnya, semakin sesak etalase kasus-kasus korupsi di Indonesia dengan nama-nama koruptor yang selalu bertambah dalam hitungan hari.

Di dalam novel Korupsi ini, kita masih bisa menemukan pertentangan batin pribadi Bakir. Juga perdebatannya dengan Istri, Mariam, yang mencegah Bakir untuk korupsi. Ketika Bakir tertangkap, penyesalan yang mendalam ia tunjukkan. Coba bandingkan dengan koruptor kita hari ini. Mereka justru melakukan korupsi dengan melibatkan keluarga: anak, istri, ayah, mertua, ibu, adik, kakak, dan sebagainya.

Keluarga sebagai benteng moral pun runtuh. Keluarga terseret lingkaran setan korupsi. Mereka tidak menampakkan penyesalan dan kekalutan. Mereka masih saja tersenyum dan melambaikan tangan pada saat tertangkap. Itulah gambaran nyata aparatur Negara kita hari ini.

Pram merampungkan novel ini ketika berkunjung ke Belanda dalam rangka kerjasama kebudayaan Indonesia-Belanda. Menurut A. Teeuw dalam Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toer (1997: 403), novel Korupsi dan Midah Si Manis Bergigi emas selesai hampir bersamaan. A. Teeuw dan H.B Jassin menuduh Pram mengerjakan novel Korupsi ini dalam ketergesaan dan hasilnya kurang mengesankan.

Sebabnya, Pram waktu itu menurut Teew giat menulis demi menutupi kebutuhan rumah tangganya. Ekonomi rumah tangga Pram dalam kondisi paceklik. Sehingga, yang terpenting menurut mereka adalah kuantitas tayang dari karya Pram. Dan tentu Pram membela diri atas tuduhan ini. Poin-poin kritikan Teeuw dan Jassin menurut Pram tidak relevan dan berhubungan langsung dengan karya sastranya.

Novel Korupsi justru mendapat sambutan luar biasa di kancah internasional. Korupsi telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Korruptie, oleh Hein Vruggink pada 1983 dan diterjemahkan oleh Denys Lombard ke dalam bahasa Prancis. Dari terjemahan versi Perancis berjudul Corruption, seorang penulis Perancis justru terinspirasi. Tahar Ben Jelloun, penulis asal Maroko, besar dan terkenal di Perancis menulis novel yang mirip. Berjudul l’Homme Rompu dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Okke KS Zaimar dengan judul Korupsi. Judul yang sama dengan novel Pramoedya.

Tahar Ben Jelloun mengaku menulis novelnya untuk memenuhi kewajiban moral kepada Pramoedya Ananta Toer. Buku yang ditulisnya sangat terinspirasi dari novel Pram. Tahar pun memberikan setengah dari royaltinya untuk Pram.

Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan kelahiran Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, telah menjadi ikon tersendiri dalam perbincangan sastra dan perubahan sosial. Ia menorehkan lembaran khusus dalam sejarah bangsa yang memotret peran karya sastra dalam sebuah arena perjuangan.

Karya-karyanya, yang sering ia sebut sebagai “anak rohani”-nya, telah membawa spirit realisme sosialis. Singkatnya, realisme sosialis menurut Pramoedya dalam Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (2003), adalah mempraktikkan sosialisme di bidang sastra. Tujuannya, memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.

Jadi, tidak adil kiranya membandingkan Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer dengan Ayat-ayat Cinta-nya Habiburrahman EL Shirazy. Karena membandingkan keduanya, sama halnya menyandingkan berlian dengan batu apung.

Tinggalkan Balasan